Perjodohan Demi Kebaikan : Sungguhkah Bisa Terjadi?

Saat teduh

Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya

 

Nyanyian Umat          

PKJ 216 “Berlimpah Sukacita Di Hatiku“

 

Berlimpah sukacita di hatiku,
di hatiku, di hatiku.
Berlimpah sukacita di hatiku,
tetap di hatiku!

Aku bersyukur bersukacita,
kasih Tuhan diam di dalamku.
Aku bersyukur bersukacita,
kasih Tuhan diam di dalamku.

 

Damai sejaht’ra melampaui akal di hatiku,
di hatiku, di hatiku.
Damai sejaht’ra melampaui akal
tetap di hatiku!

 

Bacaan I: Rut 3.1-13

Pesan yang penting dalam perikop ini

  1. Ini kisah tentang menantu perempuan dan mertua yang saling memperhatikan, yakni Naomi dan Rut. Naomi merupakan mertua Rut. Meski berasal dari suku bangsa yang berbeda, namun mereka saling menghormati dan mengasihi.
  2. Keduanya sama-sama menjanda, namun tidak kehilangan kebahagiaan, sebab mereka berkarakter rendah hati dan tidak menuntut – berpuas dengan keadaan mereka – sehingga hidupnya dipenuhi syukur senantiasa.
  3. Dalam cerita ini dikisahkan Naomi yang memperhatikan Rut dan berharap setelah ditinggal suaminya, Rut bisa menikah lagi. Naomi mengusulkan sosok Boas, yang dianggapnya sebagai orang baik, kepada Rut. Rut mendengarkan argumentasi mertuanya itu, kemudian juga mengikuti saran mertuanya agar bisa lebih dekat dengan Boas, demi menarik hatinya.
  4. Sepintas, cerita ini terasa seperti kisah perjodohan. Namun di dalamnya terkandung makna kehidupan yang dijiwai oleh integritas dan rasa hormat sebagai bagian dari keluarga. Boas, yang merupakan kerabat dari Elimelekh, almarhum suami Naomi, diharapkan bisa menjadi penjamin kehidupan selanjutnya dari Rut, dengan cara menikahinya. Namun Boas tidak muda lagi. Usianya jauh di atas Rut. Dia pun tidak memanfaatkan kesempatan mendapat janda muda yang cantik ketika didekati olehnya. Di sisi lain, Rut juga tidak memanfaatkan kesempatan memperoleh harta kekayaan Boas. Mereka masing-masing menjaga diri dan kehormatannya dengan saling menghormati.

 

Doa Pembuka

Dipimpin seorang anggota keluarga

 

Mazmur 37.1-17

Bacalah bagian ini dengan beberapa cara

  1. Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
  2. Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
  3. Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan

 

Bacaan II: Lukas 6.17-26

Pesan melalui perikop 

 

Yesus menawarkan kebahagiaan bagi semua orang. Caranya adalah dengan mengikut Dia dan gaya hidup-Nya. Dalam khotbah-Nya, Yesus mengajarkan murid-murid-Nya hidup demikian:

  1. Miskin di hadapan Allah, yang artinya miskin dalam roh. Tidak menyombongkan kehidupan rohaninya, betapapun rajin berdoa dan sering beribadah. Pun jika banyak memberi persembahan – dalam bentuk apa saja – walau dengan ikhlas dan rela. Juga tidak menganggap dirinya berhikmat, sehingga merasa lebih tinggi kualitas kerohaniannya, yang membuatnya merasa bisa menasehati orang lain. Sebaliknya ia terus merasa tidak sanggup mengenali Allah dengan segala misterinya, sehingga selalu merasa membutuhkan pertolongan Roh Kudus dalam upaya mengenali Allah. Bahasa sederhananya, orang semacam ini tidak menghakimi orang lain berdasarkan standar dirinya sehingga selalu bersedia menerima siapapun dengan hati terbuka dan sikap yang ramah.
  2. Lapar dan haus akan kebenaran, yang artinya selalu berusaha memberlakukan kebenaran (versi Allah), sekalipun situasinya tidak mudah. Baginya, kebenaran Allah merupakan hal utama yang harus ditegakkan dan diperjuangkan, sehingga menjadi kewajiban untuk dipraktekkan – di manapun dan kapanpun – sehingga dirinya takut akan Tuhan alias tidak berani melanggar hal-hal yang dilarang Tuhan.
  3. Menangis atau berduka, sebagai tanda kelemahan diri. Kita perlu mengakui keterbatasan serta kerapuhan kita, bukan sekadar diucapkan di mulut, namun juga merasuk di hati.

Belajar dari apa yang diceritakan dalam tulisan ini, mari kita merefleksikannya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).

Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:

  • Apa yang kita kenali dari Allah? Bisakah kita menjelaskannya kepada orang lain?
  • Tak jarang kita merasa lebih mengenal Allah dibanding orang lain mengenal Allah. Itu sebabnya kita tak sungkan berargumentasi tentang Allah seolah-olah kita paling tahu tentang Dia, atau menganggap diri kita sudah menguasai “pelajaran“ tentang Allah. Ini membuat kita cenderung tidak mau lagi belajar mengenal Allah. Apakah kita sudah merasa pintar jika bicara tentang Allah?
  • Jika demikian, apakah kita merasa lebih tahu tentang kebenaran ketimbang orang lain, sehingga kita menganggap orang lain lebih bodoh dalam hal rohani atau pengetahuan kerohanian?

 

Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:

  • Rendah hatikah kita, ketika bicara tentang diri kita? Apakah kita bersedia dilihat sebagai orang yang rendah atau lemah? Misalnya, ketika bergumul, kita minta didoakan oleh sesama? Atau, kita pikir, orang lain tidak perlu tahu bahwa kita sedang lemah, sehingga menolak didoakan (atau dikunjungi – ditegur, dinasehati, dibimbing, diarahkan, diteguhkan, dsb)?

 

Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:

  • Bicara tentang perjodohan, kadang ada orang yang merasa kalau dirinya dijodohkan atau diperkenalkan kepada orang lain itu artinya dia tidak sanggup mencari pasangan hidup sendiri. Terhadap hal itu dia menolak karena merasa bisa menemukan pasangannya dengan usaha sendiri. Padahal terbukti selama ini dia tidak dapat menemukan pasangan yang dianggap cocok, sehingga membuat orang lain mencarikan pasangan baginya. Bagaimana refleksi Saudara tentang ini?
  • Rut merendahkan diri meskipun memiliki paras cantik dan kepribadian menawan. Dia tak menolak ”dijodohkan” oleh mertuanya dan menuruti nasehat serta usulan-usulan praktis mertuanya. Hasilnya berbuahkan kebaikan. Apa yang kita pelajari dari hal ini?  

 

Doa Bersama

Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa:

  • Setiap pelayan Tuhan dalam gereja-Nya menghadapi berbagai pergumulan. Semoga hal itu justru memperkuat dirinya dan menambahkan hikmat baginya, sebab kala menghadapinya ia membutuhkan pencerahan dari Tuhan agar bisa menyelesaikan pergumulannya secara benar
  • Pelayan Tuhan lebih berserah dan merendah; orientasi pelayanannya bukan hanya pada diri sendiri tapi lebih terarah kepada Kristus  

 

 

Nyanyian Umat

KJ 392 ”Ku Berbahagia”

 

‘Ku berbahagia, yakin teguh:
Yesus abadi kepunyaanku!
Aku waris-Nya, ‘ku ditebus,
ciptaan baru Rohul kudus.

Aku bernyanyi bahagia
memuji Yesus selamanya.
Aku bernyanyi bahagia
memuji Yesus selamanya.

 

Pasrah sempurna, nikmat penuh;
suka sorgawi melimpahiku.
Lagu malaikat amat merdu;
kasih dan rahmat besertaku.

 

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga