Menantikan Roh Kudus Dengan Tekun

Bayangkan suasana ruang atas di sebuah rumah di Yerusalem. Seratus dua puluh orang berkumpul dalam keheningan (Kis 1:15). Bukan keheningan kosong namun hening yang berharap. Mereka baru saja mendengar janji Yesus “… Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa..,” (Kis 1:4b). Mereka menantikan janji hadirnya Roh Kudus.

Di era sekarang, menanti atau menunggu adalah hal yang tidak mudah. Kita menunggu lima detik untuk video loading sudah bikin kesal. Apalagi menantikan hal lain yang diharapkan. Namun ada sesuatu yang berbeda dengan murid-murid paska Yesus naik ke Surga. Mereka kembali ke Yerusalem, tidak lari dan tidak sembunyi. Mereka kembali ke kota yang sama di mana Guru mereka dianiaya dan disalibkan. Keberanian ini lahir bukan dari kekuatan mereka, namun karena janji yang mereka pegang. Di ruang atas ada nama-nama yang disebutkan, ada para perempuan termasuk ibu Yesus. Nama itu mewakili keberagaman, tapi mereka bersatu untuk satu tujuan. Penantian akan Roh Kudus tidak hanya menjadi pengalaman personal namun juga komunal. Ketika menanti bersama lalu saling menerima, saling menguatkan, mendorong, mengingatkan akan janji. Bukankah ini juga mengingatkan kita di era individualistik, Tuhan mengajak kita bersekutu. Hadir untuk bersama orang lain untuk saling menerima dan menguatkan.

Mereka bersatu bertekun dalam doa. Artinya tetap bersama, teguh, gigih dan tanpa lelah. Bukan sekadar sesekali melainkan senantiasa berdoa. Doa mereka adalah latihan percaya, latihan disiplin mengimani di tengah penantian. Menanti dan berdoa adalah kedewasaan rohani untuk tetap percaya pada janji dari Tuhan.

Kita hidup dalam masyarakat yang memuja kecepatan. Teknologi yang serba cepat, aplikasi instan, respon kilat. Budaya penantian lalu dianggap ketinggalan zaman. Namun menanti dalam iman seringkali mengajarkan tentang ketenangan dan kesabaran. Ketenangan dan kesabaran yang menolong kita untuk tetap memiliki pengharapan kepada Tuhan. Tentu saat ini kita tidak menanti datangnya Roh Kudus, karena Ia sudah ada di dalam diri kita yang percaya pada Kristus. Mungkin justru Roh Kudus yang menanti kita menyambut-Nya untuk mau dituntun.

Penantian kita saat ini adalah dalam banyak hal yang kita harapkan. Menanti pekerjaan, hadirnya buah hati, pemulihan paska sakit, pasangan hidup, relasi yang utuh karena kerapuhan atau penantian yang lain. Apapun penantian itu, kita diajarkan untuk kembali menanti dengan tekun berdoa dan hadir bersama orang-orang di sekitar kita. Jangan menjauh dan terisolasi oleh pergumulan sendiri. Kita bisa berbagi dalam suka maupun duka. Terlebih, Roh Kudus terus bekerja dalam penantian kita, membentuk karakter kita, memperkuat iman dan menyatukan hati kita. Betapapun penantian kita tak berujung, kita tetap dalam ketenangan karena penantian sejati telah selesai, karena kita selalu disertai Tuhan Yesus melalui hadirnya Roh Kudus.

Selamat bertekun dalam doa. Amin.

@garam_secukupnya

Komentar Anda

Your Email address will not be published.