Memberi Air
Pada suatu kali ketika berkotbah di gereja lain, saya gelisah – tidak seperti biasanya. Kepala dan mata, dilanjut tubuh saya bergerak mencari sesuatu di mimbar. Hampir selalu benda itu ada di sana, tapi hari tersebut tidak ada. Benda apakah itu? Air minum. Di mimbar biasanya tersedia air minum. Ada yang air mineral dalam botol, air di dalam gelas, atau di beberapa mimbar tersedia air teh. Kalau soda gembira – menurut keyakinan saya – tidak ada ada di semua mimbar GKI ya, mungkin di meja lain baru ada. Air minum di mimbar meskipun sepele, tapi fungsinya sangat berguna – setidaknya untuk saya pribadi. Air minum sungguh menolong ketika banyak mengeluarkan suara dari tenggorokan. Air yang tersedia dan diminum memberikan kelegaan. Alhasil, karena hari itu tidak ada air minum, berkotbah dengan derita tenggorokan terasa kering dan gatal. Apa yang mau dikatakan tentang air minum di mimbar ini?
Pertama, untuk seseorang yang selalu setia menaruh segelas air minum di mimbar, saya sungguh mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Karena Anda, saya dapat menyampaikan kotbah dengan tidak gelisah dan lancar.
Kedua, pekerjaan menyediakan air minum – menurut keyakinan saya – memiliki upah yang sama dengan berkotbah. Bagaimana bisa tindakan sederhana menyediakan segelas air disamakan upahnya dengan berkotbah menyampaikan Firman Tuhan? Tuhan Yesus dalam Matius 10:42 berkata “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”
Seorang utusan Tuhan yang memberitakan Injil pada konteks zaman itu seringkali berjalan kaki jauh di bawah terik matahari yang menyengat. Menyediakan secangkir air minum sebuah life support. Yesus tidak melihat bahwa pelayanan tidak pernah berdiri sendiri, ada keterlibatan dan partisipasi orang-orang yang turut mendukung.
Kotbah yang baik tidak akan terjadi tanpa ruang ibadah yang bersih dan rapi. Pujian dan musik yang dinyanyikan tidak akan menyetuh tanpa para pelayan yang memasang kabel dan mengoperasikan sound sistem. Ibadah tidak akan memberi sukacita tanpa para usher yang pertama kali menyambut seperti Tuhan menyambut setiap orang yang membutuhkan kasih-Nya. Di mata Tuhan, tindakan sekecil apa pun yang dilakukan untuk mendukung pekerjaan-Nya – asal dilakukan dengan hati yang tulus – memiliki bobot nilai kekekalan yang sama. Seringkali kita terjebak dalam pemikiran bahwa melayani Tuhan haruslah memegang peran-peran besar yang terlihat di depan: pengkotbah, penatua, pemusik atau persembahan pujian. Akibatnya ada orang-orang yang merasa “kecil” atau tidak berdaya ketika tidak memiliki talenta-talenta panggung tersebut. Kita diingatkan kembali bahwa gereja adalah tubuh Kristus – setiap anggotanya saling menopang. Menyediakan segelas air, merapikan kursi, menyediakan bunga mimbar, dekorasi, menyapa umat dengan senyuman hangat, atau menjaga keamanan parkir adalah pelayanan yang sangat berharga. Mungkin sederhana dan terlihat kecil tapi cukup menopang dalam pelayanan. Tuhan tidak pernah mengukur pelayanan dari skala besar-kecilnya di mata manusia, melainkan kesetiaan dan motivasi hati kita.
Setiap kita juga (saya dan saudara) adalah “pemberi segelas air” dengan: cukup memberikan senyuman, cukup memberi sapaan “apa kabarmu?”; cukup memberi arahan bagi umat yang baru datang; cukup duduk rapi dan memberi tempat bagi yang membutuhkan; cukup memberikan ketenangan (tidak ngobrol) karena yang lain juga butuh itu; cukup membantu menjaga kebersihan ruangan ibadah (buang sampah pada tempatnya; cukup memberi doa bagi mereka yang sakit atau ulang tahun pada saat itu (lihat warta); cukup mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang seringkali bekerja dibalik layar. Tidak perlu selalu peran “besar” tapi cukup apa yang bisa dilakukan sebagai sebuah dukungan. Selamat memberi “air”. Amin.
@garam_secukupnya

Komentar Anda