Masih Dinginkah?
Saat Teduh
Nyanyian Pembuka
Dunia Kedinginan
(KJ 121: 1-2)
Dunia kedinginan, kaku membeku:
Damai yang sejati tiada bertemu.
Wabah kekerasan, siksa tirani
Sampai masa kini tidak berhenti.
Tapi Firman Allah tak terbelenggu:
Kasih mencairkan hati yang beku.
Dalam dunia dingin kandang cukuplah
Untuk mengenali Khalik semesta.
Pembacaan Mazmur 20
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
Doa Pembuka dan Firman
(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)
Pembacaan Alkitab
Perjanjian Lama : Yeremia 31: 15-22
Perjanjian Baru : Lukas 19: 41-44
Renungan
Pernahkah Anda merasakan sebuah relasi yang hambar atau dingin? Mengalami relasi yang hambar atau dingin bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Sebab, relasi seperti ini membuat kita menjadi serba salah. Kita hadir, tapi tidak dianggap ada. Kita pergi, dianggap tidak peduli. Biasanya relasi seperti ini terjadi karena berbagai macam alasan, diantaranya karena sudah tidak ada lagi kecocokan namun tetap dipaksakan atau karena adanya kesalahpahaman yang tidak terselesaikan dengan baik, sehingga ada saling curiga atau karena satu dengan yang lain sudah tidak lagi memiliki kepedulian.
Hal itulah yang kadang terjadi dalam relasi antara umat dengan Allah. Bacaan kita dalam kitab Yeremia 31: 15-22 menggambarkan bagaimana dinginnya relasi antara umat dengan Tuhan. Kehambaran ini dipicu oleh kelakuan umat yang tidak setia kepada Tuhan. Mereka yang selama ini telah dikasihi Tuhan, justru menunjukkan hidup yang tidak sesuai dengan harapan Tuhan. Mereka berpaling dari Tuhan dan lebih percaya kepada kekuatan-kekuatan lain. Tindakan ini memicu timbulnya kemarahan Tuhan atas umat-Nya. Tuhan bertindak tegas dengan menghukum umat-Nya agar mereka menyadari kesalahan mereka dan berbalik kepada Tuhan dalam kesetiaan.
Pada bagian yang kita baca hari ini digambarkan bagaimana Tuhan berusaha membangun kembali kehangatan hubungan dengan umat-Nya. uhan telah mendengar apa yang menjadi ratapan umat-Nya. Di tengah ratap dan kesedihan itu, Tuhan datang membawa penghiburan bagi umat-Nya. Ia berusaha untuk membangkitkan semangat mereka, sebab masih ada hari depan yang penuh harapan yang akan mereka alami. Tuhan melakukan itu semua karena kasih-Nya kepada umat kepunyaan-Nya. Yeremia 31: 20 mengatakan, “Anak kesayangankah gerangan Efraim bagi-Ku atau anak kesukaan? Sebab setiap kali Aku menghardik dia, tak putus-putusnya Aku terkenang kepadanya; sebab itu hati-Ku terharu terhadap dia; tak dapat tidak Aku akan menyayanginya, demikianlah firman TUHAN.”
Demikian jugalah yang dapat kita lihat dalam diri Kristus, sebagaimana yang dicatat dalam Lukas 19: 41-44. Terhadap Yerusalem yang selalu bersikap cuek dan tidak peduli dengan-Nya, Kristus tetap menaruh kasih yang besar kepadanya. Tangisan-Nya ketika melihat Yerusalem yang merupakan kota tempat di mana umat Allah tinggal menjadi bukti besarnya cinta Kristus kepada umat yang dikasihi-Nya. Ia tahu apa yang selama ini telah ditunjukkan oleh umat yang dikasihi-Nya. Mereka begitu dingin, tidak peduli, dan bahkan berulang kali menolak sapaan cinta-Nya. Namun, sekalipun demikian, Ia tetap mengasihi mereka. Ia tetap berharap mereka berubah dan menyadari kesalahan mereka. Tangisan-Nya menjadi simbol kesedihan dan sekaligus kerinduan yang besar yang ada pada diri-Nya terhadap umat yang dikasihi-Nya itu. Ia ingin umat-Nya menjadi umat yang mau menyambut tawaran kehangatan yang dibawa-Nya, agar hubungan di antara Tuhan dengan umat-Nya dipulihkan.
Allah yang seperti inilah yang sekarang kita percaya dalam kehidupan kita. Allah yang rindu untuk membangun relasi yang hangat dengan umat-Nya. Untuk menyambut kerinduan ini, sebagai umat kita diajak untuk tidak mengeraskan hati kita seperti Yerusalem. Ia telah datang ke dalam dunia, agar hubungan kita dengan-Nya dapat semakin dekat. Natal yang kita rayakan beberapa hari terakhir ini mengingatkan kepada kita bahwa Kristus datang untuk kita. Oleh karena itu, marilah kita menyambut kedatangan-Nya dengan sikap hati yang terbuka terhadap-Nya, supaya relasi antara kita dengan Dia benar-benar dipulihkan menjadi relasi yang hangat, bukan dingin. Tuhan memberkati. Amin.
Doa Syafaat dan Penutup
Berdoalah agar masyarakat memiliki kesediaan untuk menjaga dan merawat lingkungannya dengan membuang sampah pada tempatnya.
Nyanyian Penutup
Anak Yang Dijanji
(KJ 122: 1-2)
Anak yang dijanji, Anak yang ditunggu,
lahir di Bethlehem. NamaNya Yesus,
namaNya Yesus. Mari menyembagNya.
Imanuel, Imanuel, Allah menyertai kita.
Imanuel, Imanuel, Allah menyertai kita.
Raja yang perkasa, yang membawa damai,
datang di dunia. NamaNya Yesus,
namaNya Yesus. Mari menyembahNya.
Imanuel, Imanuel, Allah menyertai kita.
Imanuel, Imanuel, Allah menyertai kita.

Komentar Anda