Maha Besar Menjangkau Kita
NYANYIAN PEMBUKA
PKJ 199 – DULU ‘KU TERTINDIH DOSA
Syair dan lagu: Shackled by a Heavy Burden, William J. Gaither, 1963,
Terjemahan: Yamuger, 1998,
(c) William J. Gaither (ASCAP), 1963
Dulu ‘ku tertindih dosa,
oleh malu terbeban.
Tangan Yesus menyentuhku,
diubah diriku olehNya.
Refrein:
Dijamah, ‘ku dijamah!
Meluap suka citaku!
Tuhan Yesus menjamahku;
diriku ciptaan baru.
Saat kuterima Yesus,
jadi baru diriku.
Tak ‘ku berhenti memuji,
memuji Dia selamanya.
DOA PEMBUKA
BACAAN ALKITAB
IBRANI 4:14 – 5:10
RENUNGAN
Ketika ada di puNcak gunung, akan terlihat hamparan pemandangan alam dan ciptaan Tuhan yang megah. Ada ketakjuban atas ke-Maha Besaran Allah yang membentuk dan memelihara alam, sekaligus diri ini merasa kecil seperti titik debu di antara ciptaan-Nya. Allah Maha Besar itu sungguh berkuasa sementara diri ini bergumul dalam kecemasan, air mata dan pilu. Namun, di saat yang sama, diri yang kecil dan debu ini, justru disentuh oleh Kebesaran kuasa-Nya.
Ibrani menyampaikan bahwa Yesus adalah Imam Besar Agung. Yesus bukanlah imam yang tidak dapat turut merasakan kelemahan kita. Ia justru menjangkau kita dengan cara menjadi sama dengan kita. Ia tahu rasanya dikhianati, lelah dan merasa ditinggalkan. Ke-Maha Besaran Allah tidak membuat-Nya berjarak namun membuat-Nya memiliki kapasitas tak terbatas untuk merangkul setiap luka dan pilu hidup kita. Oleh karena anugerah-Nya kita mmeiliki keberanian untuk menghampiri takhta kasih karunia. Bukan karena kita layak dan kuat tapi karena Kristus yang sudah membuka jalan serta mengundang kita.
Pengalaman berada di puncak gunung sering mencerminkan pengalaman batin banyak orang percaya. Kita hidup di zaman yang penuh kontras: di satu sisi menyaksikan kebesaran Tuhan dalam berbagai berkat dan pencapaian; namun di sisi lain tidak sedikit dari kita diam-diam memikul kecemasan, kelelahan bahkan luka yang tak terlihat. Banyak orang bahkan pelayan hidup dalam ketegangan ini. Secara lahiriah tampak kuat, dan tersenyum. Namun di kedalaman hati ada pergumulan yang sunyi: tekanan pekerjaan, relasi keluarga yang rapuh, pelayanan yang menguras emosi atau doa-doa yang terasa mengggantung tanpa jawaban. Pada titik-titik seperti ini, Allah dengan kebesaran-Nya tidak menciptakan jarak melainkan justru menjamin kedekatan-Nya. Maka, Allah yang berkenan menjangkau ini harusnya disambut untuk mendekat pada-Nya. Menghampiri berarti berani jujur – tidak menutup luka di hadapan Tuhan, tidak berpura-pura kuat di hadapan-Nya. Mari kita menghampiri takhta kasih karunia Tuhan. Kita pun diundang meneladani Kristus – menjangkau mereka yang lemah dan rentan. Dengan demikian Firman tidak berhenti pada penghiburan pribadi namun bergerak menjadi panggilan perpanjangan rangkulan-Nya di tengah dunia yang butuh penyelamatan Allah. Amin.
DOA SYAFAAT
- Mendoakan mereka yang sakit dan keluarga yang merawat
- Korban bencana di berbagai daerah
- Gereja yang peduli dan menjangkau masyarakat.
NYANYIAN PENUTUP
NKB 216 – Tuhan, Engkaulah Hadir
Syair: En Medio de la Vida; Mortimer Arias,
Terjemahan: H. A. Pandopo,
Lagu: Antonio Auza,
Hak Cipta: Instituto Superior
Tuhan Engkaulah hadir di dalam hidupku;
sama dengan udara ‘ku hirup kasihMu.
Dalam denyut jantungku kuasaMu bekerja;
tubuh dan panca indra, ‘Kau menggerakkannya.
Refrein:
Dikau yang ‘ku kasihi dalam sesamaku
Dikau yang aku puji dalam ciptaanMu!
Juga di pekerjaan, ‘Kau, Tuhan, beserta,
juga Engkau dengarkan lagu keluh-kesah;
lagu mesin dan martil bising dan menderu,
lagu peras keringat naik kepadaMu. Refrein:
Di dalam suka-duka ‘Kau ingin beserta,
turut memperjuangkan damai sejahtera.
‘Kau datang dalam Kristus, dosa dihapusNya.
Dalam kerajaanMu ‘Kau ubah dunia. Refrein:

Komentar Anda