Jesus Inside
NYANYIAN PEMBUKA
https://youtu.be/_Ejk1ju_OqE?si=ySQWWLYMjxOsReHz
RENUNGAN
Saya bersyukur bagian awal surat Filipi ini dibacakan dan dijadikan bahan renungan. Biasanya bagian awal surat luput dari penghayatan iman umat. Tidak jarang orang langsung berfokus pada ayat 3 hingga 11, dan membaca ayat 1 dan 2 hanya sekelebat lalu. Namun, saya ingin mengajak kita semua menyoroti bagian awal surat Filipi dan fakta dibalik ucapan Paulus ini.
Yang perlu diketahui sebagai latar belakang adalah bahwa surat Filipi ditulis oleh Paulus dari rumah tahanan. Paulus sedang menanti putusan sidang dari Kaisar tentang hukuman yang akan diterimanya. Namun, di tengah masa yang tidak jelas baginya itu, Ia tetap mengajarkan firman Tuhan (bnd. Kis. 28: 30-31). Paulus juga menyempatkan diri mengingat orang-orang Kristen di Filipi dan menuliskan surat bagi mereka sebagai peneguhan iman.
Paulus juga tidak menjadikan dirinya sebagai pusat penginjilan. Ia menjadikan pengalamannya sebagai peneguhan bagi orang-orang di Filipi yang mungkin juga dalam keadaan galau. Perjuangan Paulus untuk bertahan dalam iman menjadi contoh bagi umat di Filipi bahwa Tuhan yang sama juga akan menolong mereka yang berjuang mempertahankan iman. Segala bentuk pencobaan yang dialami sebagai konsekuensi iman harus disikapi dengan penuh pengharapan. Paulus merasa umat di Filipi bisa melihat perjuangan imannya sebagai contoh kehidupan beriman kepada Tuhan Yesus.
Dalam seluruh surat Filipi, Paulus menekankan pentingnya kesatuan, kesehatian, dan merendahkan diri. Ia yang sendirian menghadapi ini semua, justru yang meneguhkan umat yang bersekutu dan memiliki orang lain sebagai saudara seiman yang dekat. Di sinilah Paulus menunjukkan bahwa kondisi dan situasi buruk tidak menjadi penghalang untuk mengabarkan kebaikan Tuhan.
Paulus tidak menjual kisah sedihnya untuk mendapatkan simpati dari banyak orang. Justru sebaliknya, kisah hidup Paulus dijadikan pedoman untuk orang beriman dalam menjalani masa sulit. Apa yang Paulus tuliskan bukanlah curhatan dan keluh kesah, melainkan pengajaran dan peneguhan.
Berbeda dengan kebanyakan orang pada masa kini. Tidak sedikit orang mengumbar kisah sedihnya untuk menjadi viral dan terkenal. Paulus justru memakai kisah hidupnya untuk mengabarkan tentang Yesus, sang Juruselamat. Inilah contoh nyata dari lirik lagu, “Hidupku bukannya aku lagi, tapi Yesus dalamku.” Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda bersedia menjadikan kisah hidup Anda sebagai sarana mengabarkan kebaikan Tuhan, seperti Paulus? Mari renungkan.
DOA SYAFAAT DAN PENUTUP
- Kaum muda yang mempersiapkan diri sebagai pemimpin sejak dini.
- Kesehatan orang-orang terkasih.
- Perdamaian dunia.

Komentar Anda