Hidup Itu (Nggak) Adil
NYANYIAN PEMBUKA
NKB 130 – HIDUP YANG JUJUR
Syair: Living for Jesus; T.O. Chisholm,
Terjemahan: E. L. Pohan (bait 1); Yamuger (bait 2-4),
Lagu: C. Harold Lowden,
Hak Cipta: Rodeheaver Co.
Hidup yang jujur hendak ‘ku serah
pada Yesusku yang aku sembah.
Persekutuan mesra dan kudus,
ingin ‘ku ikat dengan Penebus.
Refrein:
Ya Yesus, ‘Kau kurbankan darahMu bagiku;
‘ku b’ri masa depanku dan hidup bagiMu.
Hatiku ‘ku serahkan menjadi takhtaMu.
Kuminta, kuasailah… seluruh hidupku.
Bagiku Yesus memb’ri nyawaNya
menanggung dosaku di Golgota.
Terdorong kasih begitu mulia,
seluruh hidup ‘ku b’ri padaNya. Refrein:
DOA PEMBUKA
BACAAN ALKITAB
AYUB 21:1; 17-34
RENUNGAN
“Lho… kok dia naik jabatan, padahal kerjanya curang!”
“Kenapa yang kerja jujur malah disingkirkan?”
“Yang korupsi besar justru dapat hukuman ringan”
“Dia yang flexing dan jual tipu-tipu malah terkenal”
Kita mungkin bertanya dalam hati, “Hidup ini nggak adil!” atau “Apa gunanya hidup benar kalau hasilnya begini?”. Pertanyaan ini tidak hanya terjadi hari ini, namun sudah ditanyakan di masa Ayub yang sudah lama sekali.
Ayub 21 adalah jeritan hati seseorang yang merasa hidupnya tidak sesuai dengan logika iman. Ia tidak menolak Tuhan, tapi ia bingung. Ketika kawan-kawan Ayub mengatakan “Kalau kamu menderita, pasti karena dosa”, Ayub menolak cara pikir itu. Ia melihat kenyataan yang berbeda. Orang jahat justru punya rumah aman, anak-anak mereka sehat, dan harta melimpah, bahkan mereka bisa berkata kepada Allah “menjauhlah dari kami”. Tapi, hidup mereka tampak baik-baik saja. Ayub menolak dogma bahwa penderitaan pasti karena dosa dan berkat pasti tanda kebenaran. Jika kawan-kawannya percaya pada teologi imbalan – Tuhan memberi sesuai perbuatan, namun Ayub menemukan keadaan yang jauh lebih kompleks. Ayub sedang belajar bahwa Tuhan tidak bisa dibatasi dalam logika keadilan manusia. Ayub berefleksi: jangan tertipu oleh keberhasilan yang sementara sebab akhir hidup semua manusia adalah dihadapan Allah yang kekal. Ketika dunia ini menawarkan hidup yang tidak adil, Ayub justru belajar untuk menantikan keadilan Allah yang abadi.
Kita kadang merasakan hidup dalam sistem yang tidak berpihak pada kebenaran, kompetisi yang tidak sehat, manipulasi, dan penilaian berdasarkan pencitraan bukan karakter. Sementara orang benar sering harus berjuang tanpa panggung. Hari ini kita belajar bahwa iman memampukan kita untuk bertahan karena Tuhan hadir di tengah ketidakadilan. Hidup memang serasa tidak adil, namun jika fokus kita pada perspektif Allah, kita akan menyadari bahwa nilai sejati terletak pada kualitas iman dan kesetiaan. Oleh karena itu:
- Hentikan perbandingan: fokus pada relasi kita dengan Tuhan – bukan hasil orang tidak benar.
- Hikmat Tuhan: di tengah misteri hidup, minta hikmat Tuhan supaya tetap setia hidup dalam kebenaran dan kejujuran di tengah ketidakadilan itu.
Mari berdoa, supaya kita tetap diberikan ketahanan untuk tetap hidup dalam kebenaran dan kejujuran di tengah dunia yang tidak adil. Karena dengan demikian kita menjadi bersinar di dunia yang gelap. Allah menolong kita. Amin.
DOA SYAFAAT
- Terus memperjuangkan kebaikan dan keadilan
- Gereja dan masyarakat bekerja sama menghadapi masalah lingkungannya
NYANYIAN PENUTUP
KJ 436 – LAWANLAH GODAAN
Syair dan lagu: Yield Not to Temptation, Horatio R. Palmer, 1868,
Terjemahan: Yamuger, 1984
Lawanlah godaan, s’lalu bertekun;
tiap kemenangan kau tambah teguh;
nafsu kejahatan harus kautentang;
harap akan Yesus: pasti kau menang.
Refrein:
Mintalah pada Tuhan, agar kau dikuatkan;
Ia b’ri pertolongan: pastilah kau menang
Tinggalkan yang jahat, dosa dicegah;
tindakanmu tulus tiada bercela:
junjung kebenaran, hidup dalam t’rang,
harap akan Yesus: pasti kau menang.

Komentar Anda