Hadirkah Tuhan?
Saat Teduh
Nyanyian Pembuka
Allah Hadir Bagi Kita
(KJ 18: 1-2)
Allah hadir bagi kita
dan hendak memb’ri berkat
Melimpahkan kuasa Roh-Nya
bagai hujan yang lebat
Refrein:
Dengan Roh Kudus ya Tuhan,
Umat-Mu berkatilah
Baharui hati kami
O, curahkan kurnia
Allah hadir sungguh hadir
Di Jemaat yang kudus
Biar kasih kurnia
menyegarkan kita t’rus
Pembacaan Mazmur 78:17-20, 52-55
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
Doa Pembuka dan Firman
(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)
Pembacaan Alkitab
Perjanjian Lama : Keluaran 33: 7-23
Perjanjian Baru : Kisah Para Rasul 7: 30-34
Renungan
Di tengah kemajuan sains dan teknologi, sebuah pertanyaan klasik yang menyangkut keberadaan Tuhan terkadang melintas dalam benak seseorang. Pertanyaan itu salah satunya adalah pertanyaan: “Jika Tuhan ada di dunia ini, apa bukti yang mendukung keberadaan Tuhan itu?” Biasanya, pertanyaan ini muncul di tengah pergumulan manusia yang tidak kunjung memperoleh jawab. Orang kembali menuntut bukti kehadiran Tuhan, sebab dalam pandangan dan pengalamannya, ia merasakan dan mengalami situasi hidup yang justru menunjukkan tanda-tanda ketiadaan Tuhan di tengah kehidupan ini. Misalnya: pada waktu bencana alam, mengalami kejahatan, atau pada saat mengalami ketidakpastian akan masa depan. Tentu, mempertanyakan kehadiran Tuhan bukanlah sebuah sikap yang serta merta salah dan menjadi tanda bahwa orang itu tidak beriman kepada Tuhan. Sejauh pertanyaan itu dikelola dengan baik, sangat dimungkinkan bahwa pertanyaan itu justru akan menghantar orang untuk mencari wajah kehadiran Tuhan di tengah pergumulannya.
Hal itulah yang juga dilakukan oleh Musa dalam kehidupannya, saat ia menghadapi ketidakpastian dan ketidaktahuannya. Bacaan kita dalam kitab Keluaran 33: 7-23 memberikan gambaran kepada kita bagaimana Musa menuntut jawab kepada Tuhan atas apa yang menurutnya tidak mudah untuk dipahami. Ia mempertanyakan bentuk-bentuk kehadiran Tuhan yang dapat menjadi bukti bahwa Tuhan menyertai mereka dan menuntun mereka. Misalnya: Musa bertanya, “Memang Engkau berfirman kepadaku: Suruhlah bangsa ini berangkat, tetapi Engkau tidak memberitahukan kepadaku, siapa yang akan Kauutus bersama-sama dengan aku. Namun demikian Engkau berfirman: Aku mengenal namamu dan juga engkau mendapat kasih karunia di hadapanku. Maka sekarang, jika aku kiranya mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, beritahukanlah kiranya jalan-Mu kepadaku, sehingga aku mengenal Engkau, supaya aku tetap mendapat kasih karunia di hadapan-Mu. Ingatlah, bahwa bangsa ini umat-Mu.” (Kel. 33: 12-13)
Percakapan Musa dengan Tuhan ini jika tidak kita perhatikan dengan hati-hati seakan-akan memberikan gambaran kepada kita tentang ketidakpercayaan Musa kepada penyertaan dan tuntunan Tuhan dalam hidupnya dan bangsanya. Padahal, sejatinya tidak demikian adanya. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam percakapan antara Musa dan Tuhan ini justru menunjukkan harapan besar Musa kepada Tuhan yang selama ini ia yakini telah menyertainya dan bangsanya dalam menghadapi perjalanan sejarah hidup yang tidak mudah. Harapan besar itulah, yang mendorong Musa untuk mendapatkan kepastian akan pemeliharaan dan perlindungan Tuhan baginya dan bangsanya. Musa bukan sedang tidak percaya kepada Tuhan, melainkan Musa sedang menaruh harapannya yang besar kepada Dia.
Demikian jugalah yang sebenarnya sedang terjadi dalam kehidupan kita sebagai umat-Nya. Ketika pergumulan melanda hidup kita dan pergumulan itu adalah pergumulan yang tidak mudah, kita bersikap dan bertindak seperti Musa. Kita mempertanyakan kembali tentang bukti kehadiran dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Bukan karena kita tidak percaya kepada-Nya, melainkan karena kita menaruh harapan yang besar kepada-Nya. Kita sedang menantikan karya-Nya yang nyata dalam kehidupan kita. Bukan kita meragukan Tuhan, melainkan kita membutuhkan jaminan dari-Nya dalam menghadapi dan menjalani pergumulan kita. Seperti Musa yang membutuhkan jaminan dari Tuhan dalam menjalani dan menghadapi apa yang harus ia lakukan terhadap bangsa Israel yang dipercayakan dalam pimpinannya, demikianlah yang sebenarnya sedang kita rasakan di saat kita mempertanyakan kehadiran-Nya dalam hidup kita.
Di tengah situasi yang seperti ini, maka kita diajak untuk kembali mengingat apa yang disaksikan dalam Kisah Para Rasul 7:30-34. Sekalipun mungkin kehadiran-Nya tidak dapat kita rasakan secara riil dalam kehidupan kita, bukan berarti Tuhan tidak berkarya dalam kehidupan kita. Bacaan kedua kita hari ini justru menunjukkan kepada kita, bagaimana Tuhan tetap berkarya di tengah kehidupan umat-Nya. Sekalipun umat tidak mampu melihat tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam hidup mereka, namun Tuhan tetap memperhatikan kesengsaraan umat-Nya dan mendengar keluh kesah yang mereka sampaikan. Tuhan bahkan telah membuat rencana untuk menolong umat-Nya di saat mereka tidak menyadari akan kehadiran-Nya.
Apa yang disaksikan dalam bacaan ini sesungguhnya menjadi jaminan bagi kehidupan kita di masa sekarang ini. Mungkin sebagai umat-Nya, kita mengalami seperti Musa, tidak mampu melihat tanda kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita. Mungkin kita tidak bisa menyebutkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Tuhan ada dan berkarya dalam hidup kita. Namun, di tengah ketidakmampuan kita itu, Tuhan tetap berkarya dalam kasih-Nya untuk memperhatikan kesengsaraan dan keluh kesah kita. Ia tetap bertindak dalam rencana-Nya yang baik bagi kehidupan kita. Oleh karena itu, sebagai umat Tuhan, kita diajak untuk tidak menggeser pengharapan kita kepada kekuatan-kekuatan lain di luar Tuhan. Sesulit apapun realitas kehidupan yang harus kita hadapi, di sana tetap ada Tuhan yang terus memperhatikan dan bertindak dalam karya-Nya bagi kebaikan kita. Berjalanlah bersama-Nya dan jangan berpaling dari-Nya. Tuhan memberkati. Amin.
Doa Syafaat dan Penutup
Berdoalah untuk pendidikan yang berkualitas dan merata bagi setiap siswa di berbagai tempat.
Nyanyian Penutup
Tuhan, Engkaulah Hadir
(NKB 216: 1-2)
Tuhan, Engkaulah hadir di dalam hidupku;
Sama dengan udara ‘ku hirup kasihMu.
Dalam denyut jantungku kuasaMu bekerja;
Tubuh dan panca indera, ‘Kau menggerakkannya.
Refrain:
Dikau yang kukasihi dalam sesamaku
Dikau yang aku puji dalam ciptaanMu!
Juga di pekerjaan, ‘Kau, Tuhan beserta,
Juga Engkau dengarkan lagu keluh-kesah;
Lagu mesin dan martil bising dan menderu,
Lagu peras keringat naik kepadaMu.

Komentar Anda