Berani Memulai, Berani Meneruskan
Saat Teduh
Nyanyian Pembuka
T’lah Datang Tahun Baru!
(NKB 47A: 1-2)
T’lah datang tahun baru! Inilah doaku:
Ya Bapa, selamanya anak-Mu bimbinglah.
Semoga ‘ku alami sejahtera penuh.
Dan ajarku selalu apda-Mu berserah.
Suatu tahun rahmat kembali datanglah,
terpancar sukacita di dalam wajah-Mu.
Berhasil dalam karya berkat anugerah,
menyatakan hadir-Mu di dalam hidupku.
Pembacaan Mazmur 72
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
Doa Pembuka dan Firman
(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)
Pembacaan Alkitab
Perjanjian Lama : Yosua 1: 1-9
Perjanjian Baru : Ibrani 11:32 – 12:2
Renungan
“Berani memulai, berani meneruskan!” Sebuah ungkapan yang kadang kita dengar dalam kehidupan kita. Ungkapan ini disampaikan dengan tujuan untuk memberi dukungan kepada orang-orang yang biasanya mengalami kemunduran semangat dalam melanjutkan apa yang sudah dimulainya. Melalui ungkapan ini diharapkan muncul kesadaran dalam diri orang yang sedang dituju agar ia berani melanjutkan apa yang sudah dimulainya. Jika direnungkan, ungkapan ini sebenarnya juga merupakan ungkapan yang mengingatkan kita akan sebuah konsekuensi ketika kita sudah memulai sesuatu dalam hidup. Tidak sedikit orang yang di dalam kehidupan ini bersemangat dalam memulai sesuatu, namun di tengah jalan putus karena satu dan lain hal. Dengan ungkapan ini sebenarnya kita juga diingatkan untuk tidak hanya sekadar menjadi manusia yang hanya bisa memulai sesuatu namun tidak mau melanjutkan karena berbagai rintangan yang menghadang dalam kehidupan kita.
Dalam konteks kehidupan kita sebagai orang Kristen, ungkapan ini sebenarnya juga ungkapan yang justru diwujudkan Allah dalam kehidupan umat-Nya. Allah tidak hanya berani memulai sesuatu, namun Ia juga berani untuk meneruskan apa yang telah Ia mulai hingga selesai. Hal ini nampak dalam tindakan-Nya menolong bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju ke tanah Kanaan. Pada masa Musa, Allah telah memulai untuk membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Ia telah menuntun mereka menyusuri perjalanan di padang gurun dengan segala tantangan dan rintangannya. Allah menjadikan Musa sebagai pemimpin yang terus disertai-Nya, sehingga Musa mampu membawa bangsa Israel melewati perjalanan hidup yang penuh dinamika.
Namun, sebelum bangsa Israel tiba di tanah Kanaan, Musa telah lebih dulu meninggal. Bangsa itu masih dalam perjuangan dan membutuhkan pemimpin yang kuat untuk membawa mereka memasuki tanah Kanaan. Ketika situasi ini menerpa bangsa Israel, Allah tidak tinggal diam. Bacaan kita hari ini menggambarkan bagaimana Allah melanjutkan kepemimpin-Nya atas bangsa itu melalui Yosua. Dalam Yosua 1: 1-3 memberitakan bahwa “Sesudah kematian Musa, hamba TUHAN itu, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian, “Hamba-Ku Musa telah meninggal. Sebab itu, bersiaplah sekarang, seberangi Sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel. Setiap tempat yang diinjak telapak kakimu akan Kuberikan kepadamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.”
Dalam ayat tersebut kita melihat bagaimana Allah tetap berusaha untuk meneruskan apa yang telah dimulai-Nya. Ia tetap bersemangat untuk menuntun bangsa Israel menuju tanah yang telah dijanjikan-Nya kepada Musa. Sekalipun Musa telah meninggal, Allah tidak berhenti dengan rencana-Nya. Ia meneruskan rencana itu dengan memilih Yosua sebagai pengganti Musa untuk memimpin bangsa Israel. Di sini kita belajar bahwa halangan dan rintangan tidak membuat Allah berhenti untuk meneruskan apa yang telah dimulai-Nya. Allah tetap bersemangat melanjutkan rencana-Nya bagi kehidupan umat-Nya. Demikianlah juga yang sebenarnya Allah kehendaki terjadi dalam kehidupan kita sebagai umat-Nya. Dengan keteladanan itu, Allah menghendaki kita untuk juga tidak patah semangat dalam melanjutkan apa yang sudah kita mulai, sekalipun ada halangan dan rintangan yang menghadang kita. Ketika kita sudah berani memulai sesuatu, maka kita perlu untuk meneruskan yang sudah kita mulai itu sampai pada akhirnya.
Saat ini kita baru saja memulai tahun yang baru. Biasanya, di tahun yang baru seperti ini, kita membuat banyak rencana dan resolusi untuk kehidupan kita agar menjadi lebih baik. Kita membangun komitmen perubahan secara pribadi dan komunal. Tentu, hal seperti ini adalah hal yang baik adanya. Perubahan tahun perlu diimbangi dengan perubahan diri dan kehidupan yang lebih baik. Namun, dengan firman Tuhan hari ini, kita diingatkan, jangan hanya berani memulai tetapi tidak berani meneruskan. Sebuah resolusi, rencana perubahan, dsb akan dapat terlaksana dengan baik, jika memiliki keberanian untuk terus melanjutkannya sampai apa yang kita hendak kita tuju itu tercapai. Mungkin jalan kita tidak mudah dalam mewujudkan apa yang menjadi resolusi dan rencana perubahan yang telah kita canangkan. Namun, jangan menyerah. Teruslah melanjutkan apa yang baik yang sudah kita mulai itu. Belajarlah dari keteladanan Allah dalam kisah perjalanan bangsa Israel. Jika kita berani meneruskan, pasti kita akan sampai pada tujuan yang hendak kita capai. Selamat menjalani tahun yang baru dan mewujudkan resolusi dan perubahan yang baru dalam kehidupan kita. Ingat: “Berani Memulai, Berani Meneruskan!”. Tuhan memberkati. Amin.
Doa Syafaat dan Penutup
Berdoalah agar pemerintah mampu menyediakan pelayanan pendidikan yang berkualitas dan merata bagi setiap siswa di berbagai tempat di Indonesia.
Nyanyian Penutup
Kumulai dari Diri Sendiri
(GB 69: 1-2)
Kumulai dari diri sendiri
untuk melakukan yang terbaik.
Kumulai dari diri sendiri
hidup jujur dengan hikmat Tuhanku.
Tekadku Tuhan: mengikut-Mu selama hidupku
berpegang teguh kepada iman dan percayaku.
Akan kumulai dari diriku
melakukan sikap yang benar.
Biar pun kecil dan sederhana,
Tuhan dapat membuat jadi besar.
Kumulai dari keluargaku
menjadi pelaku Firman-Mu
S’lalu mendengar tuntunan Tuhan,
berserah pada rencana kasih-Mu.
Kadang-kadang lain
jawaban Tuhan atas doaku.
Kupegang teguh,
Tuhanku memberikan yang terbaik
Kumulai dari keluargaku
hidup memancarkan kasih-Mu.
Walau ‘ku lemah dan tidak layak,
kuasa Tuhan menguatkan diriku.

Komentar Anda