Belajar Dari Rut dan Paulus

Saat Teduh

 

Nyanyian Pembuka 

 

Sudahkah Yang Terbaik ‘Ku Berikan

(NKB 199: 1-2)

 

Sudahkah yang terbaik ‘ku berikan

Kepada Yesus Tuhanku?

Besar pengorbanan-Nya di Kalvari!

Diharap-Nya terbaik dariku.

Refrein:

    Berapa yang terhilang t’lah ‘ku cari

    Dan ‘ku lepaskan yang terbelenggu?

    Sudahkah yang terbaik ‘ku berikan

    Kepada Yesus, Tuhanku?

Begitu banyak waktu yang terluang

Sedikit ‘ku b’ri bagi-Nya.

Sebab kurang kasihku pada Yesus;

Mungkinkah hancur pula hati-Nya?

(kembali ke refrein)

 

Pembacaan Mazmur 37: 1-17

(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)

Doa Pembuka dan Firman

(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)

Pembacaan Alkitab

Perjanjian Lama   : Rut 1: 1-18

Perjanjian Baru    : Filemon 1-25

 

Renungan 

    Zaman ini adalah zaman di mana individualisme tumbuh berkembang dengan begitu kuatnya.  Manusia cenderung memandang sesama hanya sebagai alat untuk memenuhi target dan tujuan pribadinya. Kepedulian terhadap keberadaan “yang lain” semakin hari, semakin terdistorsi. Digantikan dengan perhatian pada deadline pekerjaan dan target capaian personal. Setiap hari kita berjumpa dengan orang lain, namun relasi kita tidak bertambah dan kenalan kita mengalami stagnasi. Bersosialisasi menjadi jargon yang mengarah pada kumpul-kumpul dengan mereka yang telah kita kenal dan menjadi circle kita selama ini. Di tengah konteks kehidupan dengan demikian ini, firman Tuhan tentang pengalaman hidup Rut dan Paulus bergema dalam hidup kita.

    Rut sebagaimana dikisahkan dalam Rut 1: 1-18 adalah seorang yang di dalam kehidupannya mengalami masa-masa yang tidak mudah. Ia bersama dengan ibu mertuanya (Naomi) sedang dilanda persoalan hidup yang kompleks dan pelik. Suaminya meninggal dan bencana kelaparan yang melanda wilayahnya tidak kunjung mereda. Sebagai seorang perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya, ia telah diberi kebebasan oleh ibu mertuanya. Naomi, selaku ibu mertua, telah mengijinkan Rut untuk kembali ke rumah orang tuanya. Ijin ini merupakan bagian dari cara Naomi membebaskan menantu-menantunya dari tanggung jawab mereka sebagai anak menantu. Naomi tidak mau membebani menantu-menantunya dengan beban hidup yang lebih berat. Apalagi Naomi menyadari bahwa tidak ada lagi yang dapat diberikannya bagi para menantunya itu. Oleh karena itu, Naomi meminta kepada Rut dan Orpa untuk pulang ke rumah orang tua mereka masing-masing. 

    Orpa memenuhi keinginan ibu mertuanya itu. Ia pamit untuk kembali kepada orang tuanya. Namun, tidak demikian dengan Rut. Ia memilih untuk tetap tinggal bersama dengan Naomi, sekalipun tidak ada lagi yang dapat diharapkannya dari Naomi. Pilihan Rut ini, sekilas terkesan merupakan bentuk pilihan yang tidak mengindahkan permintaan ibu mertuanya. Kesannya ia menunjukkan pribadi yang tidak manut kepada perintah ibu mertuanya. Keras kepala dan lebih mengikuti keinginannya daripada menyenangkan hati orang tuanya. Namun, penilaian seperti ini, rasanya merupakan penilaian yang tidak adil untuk kita kenakan pada Rut. Sebab, pilihannya untuk tidak mengikuti kemauan ibu mertuanya itu merupakan pilihan yang punya dasar yang kuat. Bukan karena dia memikirkan dirinya sendiri, melainkan karena ia justru memikirkan nasib ibu mertuanya itu. 

    Pilihan Rut untuk tetap menemani ibu mertuanya adalah pilihan  yang didasarkan pada kesadaran akan tanggung jawabnya sebagai seorang manusia. Ketika dia melihat Naomi sudah tidak lagi punya siapa-siapa dan apa-apa, tidak serta merta ia layak ditinggalkan. Justru Rut melihat bahwa di tengah situasi seperti ini, ibu mertuanya sangat membutuhkan kehadirannya. Sekalipun sudah tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari ibu mertuanya itu, Rut tetap memilih untuk menemani ke mana pun ibu mertuanya pergi. Bahkan ia berjanji untuk tetap menemaninya sampai mati. Sikap ini justru merupakan bentuk paling nyata dari sebuah kesetiaan. Kesetiaan yang tumbuh bukan dari pertimbangan untung rugi, tetapi dari kesediaan untuk berkorban bagi sesama. Kesetiaan yang mungkin pada masa sekarang ini sudah jarang kita temui dalam kehidupan kita sebagai manusia.

    Demikian juga yang ditunjukkan oleh Paulus kepada Onesimus, sebagaimana dicatat dalam Filemon 1-25. Onesimus adalah seorang budak yang kemudian dibela Paulus dan diupayakan untuk memperoleh kebebasan dari majikannya yang bernama Filemon. Melalui suratnya kepada Filemon inilah, Paulus meminta agar Filemon berkenan memberikan pembebasan kepada Onesimus. Bukan lagi sebagai budak atau hamba, melainkan sebagai saudara yang kekasih. Bahkan Paulus memberikan jaminan bahwa jika Filemon pernah dirugikan oleh Onesimus, maka berapapun besarnya kerugian itu, Paulus siap menanggung kerugian itu dan membayarnya. Hal itu dinyatakannya dalam suratnya ini.

    Pertemuan Paulus dan Onesimus adalah sebuah pertemuan yang terjadi saat Paulus berada dalam penjara. Tidak terlalu banyak informasi yang kita peroleh tentang bagaimana pertemuan itu terjadi, namun dari surat Paulus kepada Filemon, kita mendapati gambaran bahwa di mata Paulus, Onesimus adalah seorang yang telah mengalami perubahan. Dia yang dahulu dipandang tidak berguna oleh majikannya (Filemon), kini telah menjadi seorang yang berguna di mata Paulus. Bahkan karena perubahan itu, Paulus sebenarnya sempat mau menahan Onesimus agar tetap menemani dan melayaninya. Namun, karena ia menyadari bahwa status Onesimus masih merupakan budak dari Filemon, maka ia memilih untuk meminta Onesimus kembali kepada Filemon.

    Sikap Paulus yang membela Onesimus di hadapan Filemon adalah wujud kepedulian yang nyata kepada sesama yang dijumpainya dalam kehidupan. Sekalipun perjumpaan di antara mereka terjadi di penjara, namun Paulus tidak serta merta menolak Onesimus atau membatasi diri terhadapnya. Paulus justru secara objektif melihat perubahan hidup Onesimus. Sekalipun dulu mungkin Onesimus adalah seorang budak yang telah merugikan majikannya, namun kini Onesimus adalah seorang yang telah berubah. Kehidupannya di penjara telah membuatnya mengalami pembaharuan diri, sehingga di mata Paulus yang pada waktu itu dipenjara bersama Onesimus menangkap perubahan itu. Kesadaran inilah yang membuat Paulus memperjuangkan kebebasan Onesimus. Di sini kita belajar bahwa sekalipun perjumpaan itu terjadi di waktu yang secara manusiawi tidak baik, Paulus tetap menaruh perhatian dan menunjukkan kepedulian yang besar kepada sesamanya.

    Berdasarkan teladan Rut dan Paulus ini kita diingatkan betapa pentingnya menumbuhkan perhatian dan kepedulian terhadap sesama yang ada di sekitar kita. Sekalipun mungkin kita sendiri sedang menghadapi masalah atau berada dalam situasi hidup yang tidak nyaman, kita tetap dipanggil untuk menjadi orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap orang lain yang ada di sekitar kita. Sikap inilah yang menjadi bentuk kesaksian kita yang paling nyata di tengah kehidupan. Tuhan telah lebih dahulu memperhatikan kita, maka kini saatnya kita menumbuhkan perhatian dan kepedulian kita kepada sesama. Di tengah dunia yang semakin individualis dan mengedepankan egosentrisme seperti sekarang ini, kita diajak untuk tetap memberi ruang bagi “yang lain” dalam hati dan kehidupan kita. Kepedulian dan perhatian kita kepada sesama menjadi nilai iman yang terus digemakan Tuhan dalam ruang hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita jaga sikap itu agar tetap ada dalam diri kita. Tuhan memberkati. Amin.

 

Doa Syafaat dan Penutup

Berdoalah agar pemerintah tergerak untuk membangun infrastruktur pendidikan secara merata di berbagai daerah di Indonesia.

 

Nyanyian Penutup

 

Sudahkah Yang Terbaik ‘Ku Berikan

(NKB 199: 3-4)

 

Telah ‘ku perhatikankah sesama,

atau ‘ku biarkan tegar?

‘Ku patut menghantarnya pada Kristus

Dan kasih Tuhan harus ‘ku sebar.

Refrein:

    Berapa yang terhilang t’lah ‘ku cari

    Dan ‘ku lepaskan yang terbelenggu?

    Sudahkah yang terbaik ‘ku berikan

    Kepada Yesus, Tuhanku?

‘Ku tak mau lebih lama dalam jurang,

‘Ku panjat dindingnya terjal.

Dunia yang ‘kan binasa memerlukan

Berita kasih Allah yang kekal.

(kembali ke refrein)

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga