Allah Mengasihi Kita Karena Menganggap Kita Berharga
Saat teduh
Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya
Nyanyian Umat
PKJ 213 “Di Saat Ini Kuangkat Tembang“
Di saat ini kuangkat tembang,
kuangkat tembang bagi Yesus.
Di saat ini kuucap syukur,
kuucap syukur pada-Nya.
Kukasihi Engkau, kukasihi Engkau,
kukasihi Engkau, Yesus, Tuhanku.
Di saat ini ‘ku datang, Tuhan,
‘ku datang bersujud pada-Mu.
Di saat ini Engkau kusembah,
Engkau kusembah ya Tuhan.
Kukasihi Engkau, kukasihi Engkau,
kukasihi Engkau, Yesus, Tuhanku.
Bacaan I: Keluaran 34.1-9, 27-28
Pesan yang penting dalam perikop ini
- Konteks bacaan ini menggambarkan hubungan yang tidak ideal antara Allah dengan umat-Nya, karena ketidaktaatan dan ketidaksetiaan umat kepada Allah.
- Allah berinisiatif memulihkan hubungan, karena Ia mengasihi umat-Nya. Kasih-Nya melampaui apapun, tanpa syarat!
- Hal ini memperlihatkan beberapa karakter Allah, di antaranya belas kasihan, sabar, setia, pengampun, di tengah berbagai karakter baik lainnya yang Ia miliki.
- Meski mengampuni manusia, Allah tidak menoleransi kesalahan! Ia tetap tidak mendukung kesalahan apapun.
- Sikap Musa memperlihatkan respons manusia terhadap kasih Allah.
- Dua ayat terakhir (27-28) menunjukkan pembaruan perjanjian yg Allah lakukan terhadap umat-Nya. Ini bisa diartikan Allah bersedia memberi kesempatan kedua bagi umat untuk memperbaiki diri dan sikapnya terhadap Allah. Bagaimana dengan kita?
Doa Pembuka
Dipimpin seorang anggota keluarga
Mazmur 32
Bacalah bagian ini dengan beberapa cara
- Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
- Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
- Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan
Bacaan II: Matius 18.10-14
Pesan melalui perikop
Ini merupakan pengajaran tentang kerajaan Allah. Yesus menekankan beberapa hal:
- Allah berpihak pada yang kecil; jadi jangan meremehkan yang kecil! Kata ‘yang kecil‘ berupa kiasan, mengacu pada yang lemah, atau tepatnya, yang merasa lemah, berdosa, butuh pertolongan Allah. Allah senang pada orang-orang yang tidak sombong, melainkan yang merendahkan hati.
- Ia menunjukkan pengajaran bahwa orang-orang kecil seperti itu tidak boleh dihalang-halangi jika rindu dan ingin datang menjumpai Allah; sebab merekalah sebenarnya yang empunya kerajaan Allah. Allah berkenan menjumpai mereka; di mata-Nya, orang-orang demikianlah yang dibenarkan-Nya
- Perumpamaan tentang domba yang hilang menunjukkan sikap Allah; ia tidak menganggap yang sedikit itu tidak berarti. Oleh karena itu Ia mencari satu domba yang hilang, meskipun jumlahnya kalah jauh dibanding domba yang masih ada di kandang.
Belajar dari apa yang diceritakan dalam tulisan ini, mari kita merefleksikannya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).
Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:
- Bersyukurkah kita karena sifat Allah yang mahapengasih dan pengampun?
- Bagaimana kita mengapresiasi hidup dari hal-hal kecil? Bisakah kita menarik kesimpulan bahwa yang kecil kadang (atau sering) terasa lebih berharga dibanding yang besar?
Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:
- Bagaimana rasanya diampuni Allah?
- Bagaimana perasaan Saudara ketika harus merendah di hadapan orang lain? Apakah Saudara merasa terhina? Ataukah justru ada kelegaan karena merasa tidak perlu mempertahankan gengsi?
Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:
- Seberapa sering kita mengaku dosa dan meminta ampun dari Tuhan?
- Apakah kita merasa diri kita berharga karena dikasihi Tuhan?
- Bagaimana kita menunjukkan keberhargaan diri kita di tengah kehidupan?
Doa Bersama
Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa:
- Agar setiap pelayan menyadari fungsi dan perannya dalam hidup bergereja
- Agar setiap pelayan bersedia merendah satu terhadap yang lain sehingga dapat mengoptimalkan kerja sama dalam melayani di gereja
Nyanyian Umat
PKJ 219 ”Di Saat Ini Kuangkat Tembang”
Di saat ini dengarlah, Tuhan,
dengarlah seruan doaku.
Di saat ini kumohon, Tuhan,
kumohon berkat kasih-Mu.
Kukasihi Engkau, kukasihi Engkau,
kukasihi Engkau, Yesus, Tuhanku.

Komentar Anda