Tetap Percaya dan Setia di Tengah Ketidakpastian
SAAT TEDUH
PUJIAN PEMBUKA
Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, namun langkahku tegap.
Bukan surya ‘ku harapkan, kar’na surya ‘kan lenyap.
O tiada ‘ku gelisah akan masa menjelang;
‘ku berjalan serta Yesus, maka hatiku tenang.
Reff
Banyak hal tak ‘ku fahami dalam masa menjelang.
Tapi t’rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang.
Makin t’ranglah perjalanan, makin tinggi aku naik.
Dan bebanku makin ringan, makin nampaklah yang baik.
Di sanalah t’rang abadi, tiada tangis dan keluh;
Di neg’ri seb’rang pelangi, kita k’lak ‘kan bertemu.
PEMBACAAN KITAB Mazmur 70
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
DOA PEMBUKA DAN FIRMAN
PEMBACAAN ALKITAB
Amos 4:6-13, Mat. 24:1-14
RENUNGAN
“TETAP PERCAYA DAN SETIA DI TENGAH KETIDAKPASTIAN”
Dalam kehidupan keluarga, kita tentu menginginkan keadaan yang baik: tubuh yang sehat, pekerjaan yang
lancar, kebutuhan yang tercukupi, hubungan keluarga yang harmonis, serta masa depan yang penuh harapan.
Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Ada saatnya keluarga menghadapi sakit penyakit, persoalan
ekonomi, konflik, kehilangan, bahkan ketakutan terhadap masa depan.
Di tengah berbagai pergumulan tersebut, muncul pertanyaan: “Bagaimana kita tetap percaya kepada Tuhan
ketika keadaan di sekitar kita tidak menentu?”
Ketiga bacaan hari ini mengajarkan bahwa keadaan hidup boleh berubah, tetapi kesetiaan Tuhan tetap menjadi dasar pengharapan kita.
Mazmur 70 — Berseru kepada Tuhan dalam kesesakan
Daud menyampaikan permohonan yang sangat mendesak agar Tuhan segera menolong dan
menyelamatkannya. Mazmur ini memperlihatkan bahwa orang beriman pun dapat mengalami ketakutan dan
ketidakberdayaan.
Dalam kesulitannya, Daud tidak meninggalkan Tuhan. Ia justru semakin berseru dan menggantungkan
pengharapannya kepada-Nya.
Amos 4:6–13 — Panggilan untuk kembali kepada Tuhan
Melalui Nabi Amos, Tuhan menegur umat Israel yang berkali-kali tidak mau kembali kepada-Nya, meskipun telah mengalami berbagai kesulitan.
Pesannya bukan bahwa setiap penderitaan merupakan hukuman Tuhan. Dalam konteks Amos, berbagai
bencana disebutkan sebagai peringatan khusus kepada Israel agar menyadari kesalahannya dan bertobat.
Tuhan menghendaki umat-Nya tidak sekadar menjalankan kehidupan keagamaan, tetapi sungguh-sungguh kembali kepada-Nya melalui perubahan hidup.
Matius 24:1–14 — Bertahan dalam iman di tengah pergumulan
Yesus berbicara tentang kehancuran Bait Allah, berbagai pergolakan, penyesatan, penganiayaan, dan kasih
yang semakin dingin. Yesus tidak mengajarkan murid-murid-Nya untuk hidup dalam ketakutan atau sibuk menebak kapan akhir zaman tiba. Sebaliknya, mereka dipanggil
untuk waspada, tidak mudah disesatkan, tetap mengasihi, dan bertahan dalam iman.
Pesan ini sangat relevan bagi keluarga Kristen yang hidup di tengah perubahan zaman dan berbagai
ketidakpastian.
Tiga Pesan Penting bagi Keluarga
BERSERU — Membawa Setiap Pergumulan kepada Tuhan (Mazmur 70)
Daud memperlihatkan bahwa iman tidak berarti kita selalu kuat. Ada kalanya kita merasa lemah, takut, dan
membutuhkan pertolongan.
Demikian pula dalam keluarga. Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Setiap anggota keluarga dapat mengalami pergumulan yang berbeda.
Yang terpenting adalah kita tidak menjauh dari Tuhan ketika menghadapi kesulitan.
Penerapan: Biasakan keluarga berdoa bersama, saling mendengarkan, dan saling menguatkan. Jangan hanya berdoa ketika persoalan sudah sangat berat, tetapi jadikan doa sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pesan: Keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang tidak pernah mengalami masalah, melainkan keluarga yang terus belajar bersandar kepada Tuhan.
BERBALIK — Memperbarui Hati dan Kehidupan (Amos 4:6–13)
Melalui Amos, kita diingatkan bahwa kesulitan dapat menjadi kesempatan untuk memeriksa kembali arah
kehidupan kita.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga kurang memiliki waktu bersama keluarga.
Mungkin ada perkataan yang melukai, sikap egois, atau kesalahan yang belum diselesaikan.
Firman Tuhan mengundang kita untuk tidak mengeraskan hati, melainkan bersedia berubah.
Penerapan: Beranilah meminta maaf ketika bersalah, mengampuni dengan tulus, memperbaiki komunikasi, dan menyediakan waktu untuk membangun kebersamaan.
Pesan: Keluarga yang diberkati bukanlah keluarga yang tidak pernah berbuat salah, melainkan keluarga yang bersedia bertobat dan terus memperbaiki diri di hadapan Tuhan.
BERTAHAN — Tetap Setia dan Menghidupi Kasih (Matius 24:1–14)
Yesus mengingatkan bahwa kehidupan orang percaya tidak selalu mudah. Akan ada tantangan yang dapat menggoyahkan iman dan membuat kasih menjadi dingin.
Dalam keluarga, persoalan yang berkepanjangan juga dapat membuat seseorang mudah marah, kehilangan
kesabaran, dan kurang peduli kepada anggota keluarga lainnya. Karena itu, bertahan dalam iman bukan sekadar terus percaya kepada Tuhan, melainkan juga tetap memelihara kasih ketika keadaan sulit.
Penerapan: Jangan membiarkan persoalan memutuskan komunikasi atau menghilangkan kepedulian. Tetaplah hadir bagi anggota keluarga, saling menolong, dan menguatkan dalam pengharapan.
Pesan: Keluarga yang setia bukanlah keluarga yang tidak pernah terguncang, melainkan keluarga yang tetap berpegang kepada Tuhan dan mempertahankan kasih dalam setiap keadaan.
Ketiga bacaan hari ini mengingatkan kita tentang tiga sikap iman:
BERSERU — Ketika menghadapi kesulitan, jangan berhenti berdoa kepada Tuhan.
BERBALIK — Ketika menyadari kesalahan, jangan menunda pertobatan dan perubahan hidup.
BERTAHAN — Ketika menghadapi ketidakpastian, jangan kehilangan iman, pengharapan, dan kasih.
Kita tidak mengetahui semua yang akan terjadi esok hari. Namun, kita dapat mempercayakan hari esok kepada Tuhan yang memegang kehidupan kita. pergumulan membuat kita kehilangan kasih dalam keluarga.
Pergumulan apakah yang saat ini perlu kita bawa bersama dalam doa kepada Tuhan?
Sikap atau kebiasaan apakah yang perlu kita ubah supaya keluarga semakin mencerminkan kasih Kristus? Bagaimana kita dapat tetap saling mengasihi dan menguatkan ketika menghadapi keadaan yang sulit?
Kalimat motivasi hari ini: tetap percaya, terus berubah menjadi lebih baik, dan setia mengasihi.” BERSERU – BERBALIK – BERTAHAN.
Kiranya keluarga kita terus bertumbuh dalam iman, pengharapan, dan kasih, apa pun keadaan yang sedang
dihadapi.
DOA SYAFAAT DAN PENUTUP
Keluarga membangun pondasi iman bagi setiap anggota keluarganya.
NYANYIAN PENUTUP
Tak ‘ku tahu ‘kan hari esok, mungkin langit ‘kan gelap.
tapi Dia yang berkasihan melindungi ‘ku tetap.
meski susah perjalanan, g’lombang dunia menderu.
DipimpinNya ‘ku bertahan sampai akhir langkahku.
Reff
Banyak hal taku ‘ku fahami dalam masa menjelang.
Tapi t’rang bagiku ini: Tangan Tuhan yang pegang.

Komentar Anda