Ketaatan Dalam Integritas Utuh
Saat teduh
Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya
Nyanyian Umat
NKB 217 “Semua Yang Tercipta”
- Semua yang tercipta, hai alam semesta,
agungkan nama Tuhan dan puji kasih-Nya.
Matahari, bulan, bintang, burung-burung, ikan-ikan,
seluruh margasatwa di gunung dan lembah.
- Semua manusia, hai ikutlah serta
memuji kasih Tuhan yang agung mulia.
Dalam Yesus, Putera-Nya, kita s’lamat selamanya;
segala sesuatu dibaharui-Nya.
Bacaan I: Daniel 6.1-28
Pesan yang penting dalam perikop ini
Kesetiaan kepada Tuhan perlu dijaga dengan integritas yang tinggi, sebagaimana Daniel menunjukkannya kendati berada di gua singa.
Doa Pembuka
Dipimpin seorang anggota keluarga
Mazmur 98
Bacalah bagian ini dengan beberapa cara
- Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
- Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
- Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan
Bacaan II: Matius 17.22-27
Pesan melalui perikop
Yesus memperlihatkan bahwa diri-Nya adalah seorang yang berintegritas. Ia telah memenuhi kesepakatan dengan Bapa-Nya untuk memasuki panggung salib yang akan menyelamatkan manusia. Oleh karena itu, betapapun menyeramkannya wajah salib yang harus dipikul-Nya, Yesus tetap maju. Ia menegaskan identitas-Nya sebagai Juruselamat dengan cara menganalogikan diri-Nya dengan Bait Allah.
Bait Allah itu sebetulnya merupakan gambar diri Yesus sendiri. Oleh sebab itu Dia tidak perlu membayar apapun kepada diri-Nya sendiri. Namun Yesus tidak egois. Dia tetap memilih membayar pajak yang dimaksudkan. Dengan cara itu juga Dia mengajarkan sebuah keteladanan penting bagi para murid-Nya, yakni percaya pada pemeliharaan Allah Bapa, yang setia menjaga dan merawat kehidupan.
Mari kita melihatnya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).
Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:
- Apa yang kita prioritaskan dalam hidup? Hal-hal jasmani atau hal lain?
- Bagaimana kita menghadapi kesulitan hidup, khususnya ketika raga atau tubuh kita dalam ancaman?
Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:
- Carilah dalam hati Saudara, keinginan-keinginan dan perasaan yang terdalam yang dapat memuaskan hidup
Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:
Dalam kaitannya dengan kehidupan berkeluarga, apakah saya bersedia
– bersikap adil dalam segala perkara?
– tetap setia kepada nilai-nilai Kristus di tengah situasi sulit, dan menjaga kebenaran-Nya bersama anggota keluarga?
– jujur dan bertanggung jawab, meski hal itu merugikan diri?
Doa Bersama
Lihat jurnal doa keluarga
Nyanyian Umat
PKJ 288 – Inilah Rumah Kami
- Inilah rumah kami,
rumah yang damai dan senang;
siapa yang menjamin?
Tak lain, Tuhan sajalah.
Alangkah baik dan indah,
jikalau Tuhan beserta;
sejahtera semua,
sekeluarga bahagia.
- Betapalah mesranya,
ayah dan ibu contohnya;
semua anak-anak ikut
teladan tindaknya.

Komentar Anda