Ketika Iman Diuji
NYANYIAN PEMBUKA
NKB 133 – SYUKUR PADAMU, YA ALLAH
Syair: Thanks to God!; August Ludvig Storm,
Terjemahan Inggris: Norman Johnson,
Terjemahan: Tim Nyanyian GKI,
Lagu: John Alfred Hultman
Syukur padaMu, ya Allah, atas s’gala rahmatMu;
Syukur atas kecukupan dari kasihMu penuh.
Syukur atas pekerjaan, walau tubuhpun lemban;
Syukur atas kasih sayang dari sanak dan teman.
Syukur atas bunga mawar, harum, indah tak terp’ri.
Syukur atas awan hitam dan mentari berseri.
Syukur atas suka-duka yang ‘Kau b’ri tiap saat;
Dan FimanMulah pelita agar kami tak sesat
Syukur atas keluarga penuh kasih yang mesra;
Syukur atas perhimpunan yang memb’ri sejahtera.
Syukur atas kekuatan kala duka dan kesah;
Syukur atas pengharapan kini dan selamaNya!
DOA PEMBUKA
BACAAN ALKITAB
DANIEL 3:19-30
RENUNGAN
Emas murni tidak pernah terbentuk dari proses yang nyaman. Ia harus dilebur dalam tungku perapian yang sangat panas untuk memisahkan kotoran dari kemurniannya. Demikian pula dengan iman. Iman sejati jarang dibentuk hanya dari puncak yang tenang saja, melainkan seringkali diuji dan ditempa di dalam lembah kesulitan dan pergumulan.
Daniel 3:19-30 memperlihatkan Sadrakh, Mesakh dan Abednego menolak menyembah patung emas buatan manusia. Dampaknya, Raja Nebukadnezar begitu murka hingga memerintahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam perapian yang tujuh kali lebih panas dari biasanya. Dalam peristiwa krisis ini kita melihat iman yang teguh. Tuhan tidak meninggalkan mereka namun menyertai. Di tengah perapian itu hadir sosok keempat berjalan bersama mereka di tengah kobaran api. Ketika mereka keluar dari api, tidak sehelai rambut pun yang hangus jubah mereka tidak rusak, dan bahkan bau asap tidak menempel pada tubuh mereka. Tuhan melindungi, menjaga secara meneluruh.
Dalam kehidupan kita khususnya keluarga, tungku perapian yang menyala-nyala itu datang dalam berbagai wujud. Ia bisa berupa krisis relasi dan konflik rumah tangga, krisis keuangan yang tiba-tiba mencekik, badai penyakit yang menguras emosi dan biaya, atau gemerlap dunia yang menggoda anak-anak kita untuk mengompromikan nilai-nilai kebenaran. Dunia sering memaksa keluarga kita untuk “menyembah” berhala modern seperti harta, status sosial atau ambisi pribadi yang egois.
Ujian iman bukanlah tanda bahwa Tuhan memalingkan wajah-Nya. Ujian adalah kesempatan bagi dunia untuk melihat kebesaran Tuhan melalui hidup kita. Sama seperti Raja Nebukadnezar yang pada akhirnya memuji Allah setelah melihat keteguhan iman Sadrakh, Mesakh dan Abednego – orang-orang di sekitar kita pun akan melihat kesaksian hidup keluarga kita saat kita tetap berdiri teguh di tengah krisis. Teruslah berpegang pada kebenaran dan jangan pernah ragu bahwa ada Tuhan yang berjalan menembus “api” krisis hidup bersama kita dan keluarga. Amin.
DOA SYAFAAT
- Mendoakan mereka yang sakit dan keluarga yang merawat
- Mendoakan saudara kita di Flores NTT yang sedang mengalami bencana gempa, Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan Papua sehingga kesulitan mendapatkan udara bersih untuk bernafas.
NYANYIAN PENUTUP
NKB 179 – LAMA ‘KU ENGGAN MENGIKUT JALAN TUHAN
Syair dan lagu: Long My Stubborn Will Kept Saying; Haldor Lillenas,
Terjemahan: P. H. Pouw / B. Maruta
Lama ‘ku enggan mengikut jalan Tuhan,
hanya turut hawa nafsu diriku.
Serta ‘ku memandang Penebus di salib,
aku berserah kepada Rajaku.
Refrein:
Iring kehendak Mukhalis sungguh indah,
ada damai, hilanglah keluh kesah.
Jiwa dapat berteduh dalam naungan Tuhanku,
dan merasa perhentianNya.
Set’lah tubuhku dan jiwa ‘ku serahkan
pada Tuhan dengan sungguh dan tetap,
‘ku miliki rasa damai serta aman,
meskipun di dalam jurang yang gelap. Refrein:
Seg’nap waktuku sekarang Tuhan punya,
pun recana hidupku dan hartaku.
Tiap hari aku junjung Firman Allah,
dan mashyurkan nama Yesus, Rajaku. Refrein:

Komentar Anda