Bawa Nama Tuhan (?)
NYANYIAN PEMBUKA
https://youtu.be/pqce3eAt3us?si=w7TlCKQYES2QXBjj
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa bahwa selama niat kita baik dan tidak merugikan orang lain, berarti kita sudah menjalani hidup dengan benar. Kita mungkin tetap berdoa, beribadah, dan menyebut nama Tuhan, tetapi dalam mengambil keputusan, kita lebih sering mengikuti keinginan sendiri daripada mencari kehendak-Nya.
Kisah Mikha dalam Hakim-Hakim 17:1-6 memperlihatkan keadaan yang ironis. Mikha dan ibunya menggunakan nama Tuhan serta membuat benda-benda untuk ibadah, tetapi mereka juga melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Ayat 6 memberikan gambaran penting tentang keadaan Israel pada masa itu: setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri. Mereka tidak lagi memiliki arah yang jelas berdasarkan kehendak Tuhan.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa hidup dalam Tuhan bukan sekadar membawa nama Tuhan dalam kehidupan kita, melainkan sungguh-sungguh menjadikan Tuhan sebagai pusat dan pedoman hidup. Kita bisa saja rajin beribadah, tetapi jika keputusan kita hanya didasarkan pada keinginan pribadi, ambisi, atau apa yang menguntungkan diri sendiri, kita berisiko menjadikan Tuhan sekadar pelengkap kehidupan, bukan Tuhan yang memimpin kehidupan kita.
Karena itu, marilah kita belajar untuk tidak hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?” tetapi juga, “Apa yang Tuhan kehendaki?” Hidup dalam Tuhan berarti bersedia membiarkan firman-Nya mengoreksi cara berpikir, membentuk karakter, dan menuntun keputusan kita. Jangan hanya melibatkan Tuhan ketika kita membutuhkan pertolongan-Nya; berikanlah kepada-Nya tempat utama dalam seluruh kehidupan kita.
MENGISI JURNAL KELUARGA BERSAMA-SAMA
NYANYIAN PENUTUP

Komentar Anda