Tuhan Menuntun Kita Memasuki Pembaharuan

SAAT TEDUH

 

PUJIAN PEMBUKA

KJ 407 – Tuhan, Kau Gembala Kami

 

Tuhan, Kau Gembala kami, tuntun kami dombaMu;
b’rilah kami menikmati hikmat pengorbananMu.
Tuhan Yesus, Jurus’lamat, kami ini milikMu,
Tuhan Yesus, Jurus’lamat, kami ini milikMu.

 

Kau Pengawal yang setia, Kawan hidup terdekat.
Jauhkan kami dari dosa, panggil pulang yang sesat.
Tuhan Yesus, Jurus’lamat, kami mohon b’ri berkat.
Tuhan Yesus, Jurus’lamat, kami mohon, b’ri berkat.

 

PEMBACAAN KITAB Mazmur 23

(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)

 

DOA PEMBUKA DAN FIRMAN

 

PEMBACAAN ALKITAB 

Yesaya 24:17–23; Markus 2:18–22

 

RENUNGAN

TUHAN MENUNTUN KITA MEMASUKI PEMBARUAN

 

Setiap keluarga mengalami perubahan. Anak-anak bertumbuh, usia bertambah, pekerjaan berubah, kondisi ekonomi tidak selalu sama, dan keadaan hidup dapat berganti tanpa kita duga.

Perubahan sering membuat kita tidak nyaman. Kita lebih suka keadaan yang sudah kita kenal. Namun firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa di tengah perubahan, guncangan, bahkan ketidakpastian, Tuhan tetap hadir sebagai Gembala yang menuntun umat-Nya menuju kehidupan yang diperbarui.

Karena itu, pertanyaan bagi kita bukan hanya, “Apakah keadaan akan berubah?” tetapi juga, “Apakah kita bersedia dituntun Tuhan ketika Ia sedang memperbarui hidup kita?”

 

  1. PERCAYA — Tuhan Tetap Menjadi Gembala Kita

Mazmur 23 dimulai dengan pengakuan yang sangat kuat:

“TUHAN adalah gembalaku.” Daud tidak mengatakan bahwa hidup bersama Tuhan berarti tidak ada lembah kekelaman. Justru ia mengakui bahwa ada perjalanan melalui lembah yang gelap.

Tetapi ia juga berkata bahwa ia tidak takut, sebab Tuhan menyertainya.

Inilah dasar kehidupan keluarga Kristen. Kita tidak selalu tahu apa yang akan terjadi besok. Kita tidak selalu mampu mengendalikan kesehatan, pekerjaan, pendidikan anak, relasi keluarga, atau berbagai perubahan kehidupan. Namun kita dapat memegang satu kepastian:

Gembala kita tidak berubah.

Ketika jalan terasa tenang, Tuhan menuntun.

Ketika jalan terasa gelap, Tuhan menyertai.

Ketika kita lelah, Tuhan menyegarkan.

Ketika kita takut, Tuhan memberikan penghiburan.

Karena itu, keluarga tidak harus memiliki semua jawaban untuk dapat berjalan maju. Kita hanya perlu terus belajar mempercayai Sang Gembala.

 

  1.   PEKA — Guncangan Dapat Menjadi Panggilan untuk Kembali kepada Tuhan

Yesaya 24:17–23 menggambarkan keadaan yang sangat berat. Bumi digambarkan mengalami guncangan dan kehancuran. Pesannya sangat jelas: manusia tidak dapat selamanya merasa aman hanya karena kekuatan, kemapanan, atau sistem yang dibangunnya sendiri. Segala sesuatu yang kita anggap kokoh dapat berubah. Hal ini penting untuk kehidupan keluarga. Kadang kita merasa aman karena tabungan cukup. Kita merasa tenang karena pekerjaan berjalan baik. Kita merasa keluarga baik-baik saja karena tidak ada pertengkaran besar. Tetapi firman Tuhan mengingatkan bahwa dasar kehidupan kita bukanlah keadaan yang stabil, melainkan Tuhan sendiri. Guncangan dalam hidup tidak selalu berarti Tuhan meninggalkan kita. Kadang-kadang justru melalui keadaan sulit kita disadarkan kembali:

bahwa kita membutuhkan Tuhan, bahwa keluarga kita perlu dibenahi, bahwa prioritas hidup harus diperiksa, dan bahwa ada hal-hal yang harus dilepaskan.

Karena itu, ketika mengalami perubahan atau kesulitan, jangan hanya bertanya:

“Mengapa ini terjadi?” Kita juga perlu bertanya: “Tuhan, apa yang hendak Engkau ajarkan kepada kami melalui keadaan ini?”

 

  1. PEMBARUAN — Jangan Memasukkan Kehidupan Baru ke dalam Pola Lama

Markus 2:18–22 Yesus memakai dua gambaran yang sangat menarik:

kain baru pada pakaian lama dan anggur baru dalam kantong kulit lama.

Pesannya adalah bahwa karya baru Allah tidak dapat selalu dimasukkan ke dalam pola lama yang tidak bersedia berubah. Hal ini juga berlaku dalam keluarga. Kadang kita berdoa:

“Tuhan, pulihkan keluarga kami.”

“Tuhan, ubah anak kami.”

“Tuhan, perbaiki hubungan kami.”

Namun pada saat yang sama, kita sendiri tidak mau berubah.

Kita masih menggunakan pola komunikasi yang lama.

Kita masih menyimpan kebiasaan menyalahkan.

Kita masih mempertahankan ego.

Kita masih berkata: “Dari dulu memang begini.”

Firman Tuhan mengajak kita untuk menyediakan kantong yang baru bagi karya-Nya.

Artinya, kita bersedia membentuk kebiasaan yang baru.

Mungkin keluarga kita perlu mulai: berdoa bersama lagi, makan bersama tanpa gawai, lebih banyak mendengar daripada menyalahkan, berani meminta maaf, atau menyediakan waktu untuk berbicara dari hati ke hati.

Pembaruan dari Tuhan membutuhkan hati yang bersedia dibentuk.

 

Tiga Kata untuk Keluarga

  1. PERCAYA

Percayalah kepada Tuhan sebagai Gembala keluarga.

Kita mungkin tidak mengetahui seluruh jalan, tetapi Tuhan mengetahui ke mana Ia menuntun kita.

  1. PEKA

Jangan melewatkan suara Tuhan di tengah perubahan dan kesulitan.

Tanyakan: “Apa yang perlu Tuhan ubah dalam keluarga kami?”

  1. PERBARUI

Jangan hanya meminta keadaan berubah. Izinkan Tuhan mengubah hati, kebiasaan, dan cara kita memperlakukan satu sama lain.

 

Pertanyaan Refleksi

  1. Bagian apa dalam kehidupan keluarga kita yang saat ini sedang mengalami perubahan?
  2. Apakah perubahan itu membuat kita semakin dekat atau justru semakin jauh dari Tuhan?
  3. Adakah pola lama dalam keluarga yang harus kita tinggalkan?
  4. Kebiasaan baru apa yang dapat kita mulai minggu ini agar keluarga semakin bertumbuh di dalam Tuhan?

 

Pesan Firman:

Tuhan tidak menjanjikan perjalanan tanpa lembah, tetapi Ia menjanjikan penyertaan-Nya.

Ketika hidup terguncang, tetaplah percaya.

Ketika keadaan berubah, tetaplah peka terhadap suara Tuhan.

Dan ketika Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang baru, jangan takut untuk diperbarui.

Sebab Tuhan, Sang Gembala yang setia, bukan hanya menjaga keluarga kita.

Ia juga sedang menuntun keluarga kita bertumbuh menjadi semakin serupa dengan kehendak-Nya.

 

DOA SYAFAAT DAN PENUTUP

 

NYANYIAN PENUTUP

KJ 407 – Tuhan, Kau Gembala Kami

 

JanjiMu, Kaut’rima kami, walau hina bercela;
yang berdosa Kausucikan, Kaubebaskan yang lemah.
Tuhan Yesus, Jurus’lamat, kini kami berserah.
Tuhan Yesus, Jurus’lamat, kini kami berserah.

KehendakMu kami cari, ingin turut maksudMu.
Tuhan, isi hati kami dengan kasihMu penuh.
Tuhan Yesus, Jurus’lamat, tak terhingga kasihMu.
Tuhan Yesus, Jurus’lamat, tak terhingga kasihMu.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga