Jangkar Kebenaran di Arus Perpecahan
NYANYIAN PEMBUKA
KJ 39: 1,4 “KU DIBERI BELAS KASIHAN”
‘Ku diberi belas kasihan, walau tak layak hatiku;
tadiku angkuh, kini heran: Tuhan, besarlah rahmatMu!
Kidung imanku bergema: rahmatMu sungguh mulia,
kidung imanku bergema: rahmatMu sungguh mulia!
Jangan seorang pun di dunia merampas harta hatiku:
dasar percaya yang ‘ku punya dan alas doa yang teguh;
hidup dan mati ‘ku tent’ram: rahmatMu, Tuhan, kugenggam,
hidup dan mati ‘ku tent’ram: rahmatMu, Tuhan, kugenggam!
DOA PEMBUKA
BACAAN ALKITAB
ROMA 16:17-20
RENUNGAN
Pernahkah saudara berdiri di tepi pantai dan mengamati arus bawah laut? Dari permukaan, air sering kali tampak tenang, seolah tidak menyimpan bahaya apapun. Namun di bawah ketenangan itu terdapat tarikan mematikan yang mampu menyeret seseorang jauh ke tengah lautan.
Dalam kehidupan berkomunitas, bergereja maupun bermasyarakat, eprpecahan bekerja persis seperti arus bawah laut tersebut. Ia jarang datang dengan teriakan perang, sebaliknya menyusup lewat celah-celah percakapan, membungkus dirinya dalam jubah kebenaranlalu diam-diam menyeret kita menjauh dari kasih. Saat arus itu datang, satu-satunya selamat adalah jangkar kita tertanam kuat pada batu karang.
Paulus membongkar penyesatan yang sering menyusup bukan lewat ancaman namun melalui kata-kata manis dan bahasa memukau. Para pemecah belah ini memanipulasi keluguan jemaat semata-mata demi melayani ego dan ambisi pribadi mereka bukan untuk melayani Kristus. Sebagai penawar, Paulus memanggil jemaat untuk bersikap “bijaksana terhadap apa yang baik dan bersih terhadap apa yang jahat”. Ini adalah panggilan untuk menyeimbangkan ketajaman iman – agar tidak mudah ditipu – dengan kemurnian hati. Puncaknya ada janji: Allah sumber damai sjehatera akan bertindak aktif menghancurkan iblis yang biasa membuat perpecahan.
Di era saat ini, arus perpecahan bergerak cepat melalui polarisasi media sosial, gosip hingga narasi memukau dari figur-figur yang melayani diri sendiri. Firman Tuhan menantang kita untuk berani menolak segala bentuk percakapan dan tindakan yang memicu permusuhan. Kita dipanggil untuk tidak mudah terbuai oleh retorika kosong, melainkan menambatkan jangkar ketaatan pada nilai Kristus. Dengan demikian, kita dapat terus melangkah dengan hati yang tulus dan berdiri sebagai agen pembawa damai sejahtera bagi sesama.
DOA SYAFAAT
- Mendoakan mereka yang sakit dan keluarga yang merawat
- Mendoakan saudara kita di Flores NTT yang sedang mengalami bencana gempa, Kalimantan yang masih mengalami kebakaran hutan.
NYANYIAN PENUTUP
KJ 249 – SERIKAT PERSAUDARAAN
Syair: Bewaart op aard den broederband, H. Hasper, 1935,
Terjemahan: I. S. Kijne (1899 – 1970), berdasarkan Efesus 4:2-7,
Lagu: Kitab Nyanyian Wurtemburg, 1784
Serikat persaudaraan, berdirilah teguh!
Sempurnakan persatuan di dalam Tuhanmu.
Bersama-sama majulah, dikuatkan iman,
berdamai, bersejahtera, dengan pengasihan.
Serikatmu tetap teguh di atas Alasan,
yaitu satu Tuhanmu, dan satulah iman,
dan satu juga baptisan dan Bapa satulah,
yang olehmu sekalian dipuji, disembah.
Dan masing-masing kamu pun dib’ri anugerah,
supaya kamu bertekun dan rajin bekerja.
Hendaklah hatimu rendah, tahu: Tuhan berpesan
jemaat menurut firmanNya berkasih-kasihan.

Komentar Anda