Menghadirkan Damai Sejahtera & Saling Membangun
NYANYIAN PEMBUKA
NKB 122 – ‘Ku Ingin Berperangai
Syair dan lagu: IIk wens to sijn als Jesus; Joh. de Heer,
Terjemahan: Yamuger
‘Ku ingin berperangai laksana Tuhanku,
lemah lembut dan ramah, dan manis budiku.
Tetapi sungguh sayang, ternyata ‘ku cemar
Ya Tuhan, b’ri ‘ku hati yang suci dan benar.
‘Ku ingin ikut Yesus, mencontoh kasihNya,
menghibur orang susah, menolong yang lemah.
Tetapi sungguh sayang ternyata ‘ku cemar
Ya Tuhan, b’ri ‘ku hati yang suci dan benar.
Ya sungguh, Jurus’lamat, cemarlah hatiku,
dan hanya ‘Kau yang dapat menghapus dosaku,
supaya k’lak di sorga ‘ku pandang wajahMu
dan aku jadi sama laksana diriMu.
DOA PEMBUKA
BACAAN ALKITAB
MAZMUR 119:65-72
RENUNGAN
Kadang, dalam relasi keluarga atau komunitas keretakan bukan karena persoalan yang besar, namun berakar dari persoalan sepele. Di keluarga kadang konflik terjadi karena persoalan makanan, pun juga di gereja. Apa yang disajikan ternyata tidak sesuai dengan sebagian orang lalu menjadi perselisihan. Sebagai manusia, bisa memiliki kecenderungan untuk “ngotot” mempertahankan pendapat karena merasa diri paling benar. Tanpa sadar, kemenangan yang diperjuangkan justru mengorbankan kedamaian, dan melukai hati saudara, lalu berdampak perpecahan. Ini adalah realitas pahit yang sering kita hadapi.
Paulus menasihati jemaat di Roma. Jemaat terdiri dari orang kristen Yahudi dan kristen non Yahudi. Masalah yang terjadi justru sepele soal makanan dan hari-hari tertentu. Orang kristen Yahudi merasa harus tetap makan sayur dan pantang daging tertentu pada hari-hari terntentu. Sementara orang kristen non Yahudi merasa bebas makan apa saja dan semua hari sama saja. Mereka mulai saling menghakimi dan saling merendahkan. Yang makan daging merendahkan yang cuma makan sayur (“iman loe lemah”), yang makan sayur juga menghakimi yang akan daging (“hidup lu gak kudus”).
Paulus membawa persoalan ini pada prinsip kekristenan yang lebih tinggi: Kasih. Ia mengingatkan (ay. 17) “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Kebebasan orang percaya adalah anugerah yang baik, tetapi kebebasan tidak boleh diubah menjadi “batu sandungan” yang menghancurkan iman orang lain. Oleh karena itu, Paulus memberikan perintah (ay. 19) “Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.” Maka apapun yang kita lakukan perlu bertanya pada diri sendiri: apakah ada faedah atau manfaat bagi orang lain? Paulus mengajar untuk menghadirkan damai sejahtera dan saling membangun.
Di tengah dunia yang mengaungkan kebebasan pribadi, “hidup gue cara gue” – kekristenan memanggil kita untuk rela membatasi hak demi menjaga keutuhan. Mari pastikan bahwa sikap dan kebiasaan kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, namun menopang saudara yang lemah agar bisa bertumbuh bersama. Dengan demikian tercipta damai sejahtera. Amin.
DOA SYAFAAT
- Mendoakan mereka yang sakit dan keluarga yang merawat
- Mendoakan saudara kita di Flores NTT yang sedang mengalami bencana gempa, Kalimantan yang masih mengalami kebakaran hutan.
NYANYIAN PENUTUP
KJ 249 – SERIKAT PERSAUDARAAN
Syair: Bewaart op aard den broederband, H. Hasper, 1935,
Terjemahan: I. S. Kijne (1899 – 1970), berdasarkan Efesus 4:2-7,
Lagu: Kitab Nyanyian Wurtemburg, 1784
Serikat persaudaraan, berdirilah teguh!
Sempurnakan persatuan di dalam Tuhanmu.
Bersama-sama majulah, dikuatkan iman,
berdamai, bersejahtera, dengan pengasihan.
Serikatmu tetap teguh di atas Alasan,
yaitu satu Tuhanmu, dan satulah iman,
dan satu juga baptisan dan Bapa satulah,
yang olehmu sekalian dipuji, disembah.
Dan masing-masing kamu pun dib’ri anugerah,
supaya kamu bertekun dan rajin bekerja.
Hendaklah hatimu rendah, tahu: Tuhan berpesan
jemaat menurut firmanNya berkasih-kasihan.

Komentar Anda