Kasih yang Mengampuni dan Memulihkan

SAAT TEDUH

PUJIAN PEMBUKA

KJ 467 – Tuhanku, Bila Hati Kawanku

 

Tuhanku, bila hati kawanku terluka oleh tingkah ujarku,
dan kehendakku jadi panduku, ampunilah.

 

Jikalau tuturku tak semena dan aku tolak orang berkesah,
pikiran dan tuturku bercela, ampunilah.

 

PEMBACAAN KITAB Mazmur 103:8–13

(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)

 

DOA PEMBUKA DAN FIRMAN

PEMBACAAN ALKITAB 

Kejadian 45:1–20; Matius 6:7–15

 

RENUNGAN

“KASIH YANG MENGAMPUNI DAN MEMULIHKAN”

 

Keluarga adalah tempat kita mengalami kasih yang paling dekat, tetapi sering juga menjadi tempat kita mengalami luka yang paling dalam. Justru karena kita hidup bersama, saling mengenal, dan memiliki banyak harapan satu terhadap yang lain, maka kekecewaan, kesalahpahaman, perkataan yang menyakitkan, bahkan luka masa lalu dapat muncul dalam kehidupan keluarga. Karena itu, salah satu anugerah terbesar yang dibutuhkan sebuah keluarga adalah kasih yang mau mengampuni dan memulihkan.

Mazmur 103:8–13 menggambarkan siapa Allah yang kita sembah. Pemazmur berkata bahwa Tuhan adalah Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia. Tuhan tidak memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita dan tidak membalas kita sesuai dengan kesalahan kita.

Gambaran ini sangat indah. Kita mengenal Allah bukan sebagai Allah yang terus-menerus menyimpan daftar kesalahan manusia, melainkan sebagai Allah yang membuka jalan pengampunan. Bahkan pemazmur mengatakan bahwa sejauh timur dari barat, demikian Tuhan menjauhkan pelanggaran kita dari pada-Nya. Seperti seorang bapa menyayangi anak-anaknya, demikian Tuhan menyayangi orang-orang yang hidup dalam takut akan Dia.

Kasih Allah inilah yang seharusnya menjadi dasar kehidupan keluarga Kristen. Kita semua hidup dari pengampunan Tuhan. Tidak seorang pun di dalam keluarga yang sempurna. Suami dapat berbuat salah kepada istri, istri dapat mengecewakan suami, orang tua dapat melakukan kesalahan kepada anak-anak, dan anak-anak pun dapat menyakiti hati orang tua.

Jika Tuhan saja memperlakukan kita dengan belas kasih, kesabaran, dan pengampunan, maka keluarga juga dipanggil untuk belajar memperlakukan satu sama lain dengan cara yang sama.

Kebenaran itu tampak sangat kuat dalam kisah Yusuf dalam Kejadian 45:1–20. Yusuf berhadapan kembali dengan saudara-saudaranya yang pernah menyakitinya dengan begitu dalam. Mereka membencinya, membuangnya ke dalam sumur, menjualnya sebagai budak, dan menyebabkan ia harus menjalani perjalanan hidup yang penuh penderitaan.

Secara manusiawi, Yusuf memiliki banyak alasan untuk membalas.

Ketika saudara-saudaranya datang ke Mesir, Yusuf sekarang berada dalam posisi yang sangat kuat. Ia mempunyai kekuasaan. Ia dapat menghukum mereka. Ia dapat membuat mereka mengalami penderitaan yang pernah mereka timpakan kepadanya.

Namun Yusuf memilih jalan yang berbeda. Yusuf menangis. Ia memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya dan berkata agar mereka tidak bersusah hati karena apa yang pernah mereka lakukan. Yusuf mampu melihat kehidupannya bukan hanya dari sudut luka masa lalu, tetapi dari sudut karya pemeliharaan Allah. Yusuf tidak mengatakan bahwa perbuatan saudara-saudaranya benar. Kesalahan tetaplah kesalahan. Luka tetap pernah terjadi. Tetapi Yusuf tidak membiarkan luka itu menguasai masa depannya.

Inilah pengampunan yang sejati.

Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan tidak pernah terjadi. Mengampuni berarti tidak membiarkan kesalahan masa lalu terus menentukan hubungan kita pada hari ini.

Dalam keluarga, kita kadang masih membawa “catatan lama”. Ketika terjadi pertengkaran baru, kesalahan sepuluh tahun yang lalu kembali dibicarakan. Ketika kecewa, kita mengungkit kembali kegagalan pasangan. Ketika marah kepada anak, kesalahan-kesalahan lama kembali digunakan untuk menyerang. Akibatnya, luka tidak pernah benar-benar sembuh.

Kisah Yusuf mengajarkan bahwa pengampunan membuka jalan menuju pemulihan. Yusuf tidak berhenti pada kata, “Aku memaafkan kalian.” Ia juga mengundang saudara-saudaranya untuk datang lebih dekat, membawa ayah mereka, dan hidup bersama kembali.

Pengampunan menghasilkan pemulihan hubungan.

Hal yang sama diajarkan Tuhan Yesus dalam Matius 6:7–15. Ketika mengajarkan doa kepada murid-murid-Nya, Yesus berkata: “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”Menarik bahwa pengampunan menjadi bagian dari doa yang Yesus ajarkan. Artinya, setiap kali kita datang kepada Tuhan memohon pengampunan, kita juga diingatkan bahwa kita dipanggil untuk memberikan pengampunan. Kita tidak dapat menikmati pengampunan Tuhan sambil terus-menerus memelihara kebencian kepada orang lain.

Bagi keluarga, doa ini menjadi sangat nyata. Kita mungkin dapat berdoa bersama di meja makan atau dalam ibadah keluarga. Namun sesudah berdoa, pertanyaannya adalah: Apakah kita juga bersedia berdamai dengan orang yang duduk di sebelah kita?

Tidak banyak gunanya kita mengucapkan, “Ampunilah kesalahan kami,” jika kita sendiri menolak meminta maaf. Tidak banyak gunanya kita memohon belas kasih Tuhan jika kita sendiri terus memperlakukan anggota keluarga dengan keras.

Tidak banyak gunanya kita mengatakan bahwa Tuhan adalah kasih jika kasih itu tidak terlihat dalam kehidupan di rumah.

Karena itu ketiga bacaan hari ini membawa kita pada satu kebenaran: keluarga yang hidup dalam kasih Allah adalah keluarga yang belajar mengampuni.

Kita mengampuni bukan karena orang lain selalu layak menerima pengampunan, tetapi karena kita sendiri setiap hari hidup dari pengampunan Allah.

Kita belajar seperti Yusuf: tidak membiarkan luka masa lalu menentukan masa depan.

Kita belajar seperti pemazmur: mengingat bahwa Tuhan penuh belas kasih dan tidak memperlakukan kita setimpal dengan kesalahan kita.

Dan kita belajar dari Tuhan Yesus: setiap kali kita berdoa memohon pengampunan, kita juga dipanggil untuk menjadi pembawa pengampunan.

Mungkin hari ini ada luka dalam keluarga yang belum selesai.

Mungkin ada perkataan yang masih teringat.

Mungkin ada sikap pasangan yang masih sulit diterima.

Mungkin ada hubungan antara orang tua dan anak yang mulai menjauh.

Mungkin ada anggota keluarga yang sebenarnya ingin berdamai tetapi masing-masing menunggu siapa yang terlebih dahulu meminta maaf.

Firman Tuhan hari ini mengundang kita untuk tidak membiarkan luka terus bertumbuh.

Seseorang perlu berani mengambil langkah pertama.

Mungkin dengan mengatakan: “Maafkan saya.” Atau: “Saya sudah mengampunimu.”

Atau mungkin hanya dengan keberanian sederhana untuk duduk bersama dan berkata:

“Mari kita memperbaiki hubungan kita.”

Pengampunan memang tidak selalu langsung menghapus rasa sakit. Pemulihan kadang membutuhkan proses. Tetapi pengampunan adalah pintu pertama menuju penyembuhan.

Jangan biarkan rumah menjadi tempat kita menyimpan dendam. Jadikanlah rumah tempat kasih Tuhan dipraktikkan.

Biarlah di dalam keluarga kita ada ruang untuk melakukan kesalahan, tetapi juga ada keberanian untuk mengakuinya. Ada luka, tetapi juga ada pengampunan. Ada perbedaan, tetapi tetap ada kasih. Ada kegagalan, tetapi selalu ada kesempatan untuk memulai kembali.

Karena pada akhirnya, keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang tidak pernah saling melukai, melainkan keluarga yang tidak membiarkan luka menjadi lebih besar daripada kasih.

Kiranya kita selalu mengingat: Karena Tuhan telah mengampuni kita, kita pun dipanggil untuk mengampuni. Karena Tuhan telah menerima kita kembali, kita pun dipanggil untuk membuka jalan pemulihan bagi satu sama lain.

 

DOA SYAFAAT DAN PENUTUP
Keluarga yang saling terbuka dan percaya kepada Tuhan.

 

NYANYIAN PENUTUP

KJ 467 – Tuhanku, Bila Hati Kawanku

 

Dan hari ini aku bersembah serta padaMu, Bapa, berserah,
berikan daku kasihMu mesra. Amin, amin.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga