Hidup di Dalam Kasih

NYANYIAN PEMBUKA

https://youtu.be/5DjdFLdnb5k?si=msy71Pex0l7Jkbxu

 
 
DOA PEMBUKA
 
 
 
BACAAN ALKITAB           Efesus 5: 1-6
 
 
RENUNGAN

Paulus mengingatkan bahwa kehidupan orang percaya dimulai dari sebuah identitas: kita adalah anak-anak yang dikasihi Allah. Kita tidak perlu berbuat baik terlebih dahulu supaya Allah mengasihi kita. Justru karena kita telah dikasihi, kita dipanggil untuk hidup seperti Dia yang telah mengasihi kita.

Karena itu Paulus berkata, “Hiduplah di dalam kasih.” Kasih yang dimaksud bukan sekadar perasaan atau kata-kata, melainkan kasih yang nyata seperti Kristus yang menyerahkan diri-Nya bagi kita. Kasih berarti belajar mengampuni, mengalah, mendengarkan, memberi diri, bahkan berkorban demi kebaikan orang lain.

Pada saat yang sama, Paulus mengingatkan bahwa ada cara hidup yang tidak sesuai dengan identitas kita sebagai anak-anak Allah: percabulan, kecemaran, keserakahan, perkataan kotor, dan hal-hal yang tidak membangun. Ini menunjukkan bahwa kasih dan kekudusan tidak dapat dipisahkan. Menjadi anak Allah berarti bersedia berkata, “Ada hal-hal yang tidak akan kulakukan, bukan semata-mata karena dilarang, tetapi karena hidupku adalah milik Kristus.”

Hal ini juga berlaku dalam perkataan kita. Kita dapat hadir di gereja, melayani, dan mengaku mengikut Kristus, tetapi perkataan kita justru dapat melukai orang lain. Karena itu, kita perlu bertanya: apakah perkataan dan tindakan kita mencerminkan kasih Kristus atau justru menjauhkan orang dari-Nya?

Penerapannya dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, ketika seseorang di rumah melakukan kesalahan, kita bisa memilih untuk tidak langsung membentak, tetapi berbicara dengan sabar. Ketika teman kerja mendapatkan pujian atau keberhasilan, kita dapat belajar ikut bersukacita tanpa merasa iri. Ketika berada dalam percakapan bersama teman dan pembicaraan mulai berubah menjadi gosip, kita dapat memilih untuk tidak ikut menyebarkannya. Bahkan ketika kita sedang menggunakan media sosial, kita dapat berpikir sejenak sebelum menulis komentar: apakah perkataan saya akan membangun atau justru melukai orang lain?

Menjadi pengikut Kristus berarti mengikuti-Nya. Kita memang belum sempurna dan masih dapat jatuh, tetapi arah hidup kita seharusnya semakin menyerupai Kristus. Kita tidak lagi bertanya, “Seberapa dekat saya boleh dengan dosa?” melainkan, “Seberapa jauh hidup saya dapat mencerminkan kasih Kristus?”

 

Kiranya setiap hari kita mengingat bahwa kita adalah anak-anak yang dikasihi Allah. Dan karena kita telah dikasihi, marilah kita hidup dalam kasih, menjaga kekudusan, dan menghadirkan Kristus melalui perkataan serta tindakan kita, bahkan melalui hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap hari. Amin.

 

DOA SYAFAAT DAN PENUTUP

  • Kaum muda mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri dalam berbagai bidang.
  • Kehidupan orang-orang terkasih selalu ada dalam kasih dan pemeliharaan Tuhan.
  • Kondisi bangsa dan negara, serta perdamaian dunia.
 
 
NYANYIAN PENUTUP
https://youtu.be/wqJaZNsCvN0?si=lcXvrp8TiE-zROYC
 

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga