Serahkan Hati Buat Tuhan
Saat teduh
Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya
Nyanyian Umat
“Bapa, Engkau Sungguh Baik”
Bapa, Engkau sungguh baik
Kasih-Mu melimpah di hidupku
Bapa, ‘ku berterima kasih
Berkat-Mu hari ini yang Kau sediakan bagiku
Ku naikkan syukurku buat hari yang Kaub’ri
Tak habis-habisnya kasih dan rahmat-Mu
Selalu baru dan tak pernah terlambat pertolongan-Mu
Besar setia-Mu di sepanjang hidupku
Bacaan I: Yesaya 28.14–22
Pesan yang penting dalam perikop ini
Ada orang-orang yang kelihatannya percaya dan bergantung kepada Allah, namun sesungguhnya mereka tidak pernah berhubungan dengan Allah. Mereka mendasari segala yang dipikirkan dan diperbuat dengan kemampuan dan pengalamannya sendiri. Kata-kata mereka sering bernada religius dan indah didengar, namun tidak bernas dan lebih banyak manipulatif; tidak dijiwai oleh kebenaran yang bersumber dari Tuhan.
Itulah pemandangan yang terlihat dalam konteks bagian Yesaya ini. Pada pasal ini, kerajaan Yehuda berada di bawah ancaman Asyur. Para pemimpin Yerusalem berusaha mencari keamanan melalui aliansi politik dan diplomasi, bukan dengan mengandalkan Tuhan. Karena itu, Tuhan menegur mereka melalui nabi Yesaya.
Doa Pembuka
Dipimpin seorang anggota keluarga
Mazmur 18.1-3, 20-32
Bacalah bagian ini dengan beberapa cara
- Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
- Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
- Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan
Bacaan II: Matius 26.6-13
Pesan melalui perikop
Menjelang kematian Yesus, muncul sebuah peristiwa berkesan yang dilakukan seorang ibu. Dia meminyaki kaki Yesus dengan ketulusan hati.
Bagi para murid, tindakan seperti itu sia-sia, lebih dipandang menghamburkan uang. Tak mengherankan mereka berkomentar, “Minyak itu dapat dijual dan diberikan kepada orang miskin.“
Mereka tidak melihat motif yang lahir dari hati ibu tersebut. Padahal Yesus ingin mereka menemukan hal yang tak kelihatan dalam diri seseorang.
Dari sini kita belajar, terkadang kita terlalu fokus pada efisiensi dan melupakan nilai kasih, penyembahan, dan kepekaan rohani.
Mari kita melihatnya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).
Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:
- Kapan kita menyediakan waktu bagi Tuhan?
- Apakah yang kita sediakan itu merupakan waktu sisa, ataukah memang kita khususkan bagi-Nya?
Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:
- Setiap kali kita melakukan sesuatu, apakah itu dilandasi ketulusan hati?
Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:
- Seperti perempuan yang meminyaki kaki Yesus, maukah kita juga melakukan sesuatu yang berarti di mata Tuhan? Kira-kira, apa yang harus siapkan sebelum melakukannya?
Doa Bersama
Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa sebagai berikut:
- Kesediaan melayani umat Tuhan dengan tulus
- Kerinduan melakukan perbuatan baik yang berguna
Nyanyian Umat
”Persembahan Hati”
Allah Bapa sungguh besar kasih-Mu
Engkau selalu hadir
dalam setiap langkahku
Sungguh indah ‘ku menjadi anak-Mu
hidup dalam kasih-Mu
kasih yang tak ternilai
Tak sanggup aku membalas kasih-Mu
hanya ini Bapa yang kubisa
Bapa trimalah persembahan hatiku
nyanyian pujian kepada-Mu
Ini diriku jadikanlah alat-Mu
trimalah Bapa, persembahan hati

Komentar Anda