Dipulihkan Untuk Hidup Dalam Kebenaran

SAAT TEDUH

PUJIAN PEMBUKA

  1. 450 – Hidup Kita yang Benar

 

Hidup kita yang benar haruslah mengucap syukur.
Dalam Kristus bergemar; janganlah tekebur.

 

Reff:

Dalam susah pun senang; dalam segala hal
Aku bermazmur dan ucap syukur; itu kehendakNya!

 

Biar badai menyerang, biar ombak menyerang,
aku akan bersyukur kepada Tuhanku.

 

Apa arti hidupmu? Bukankah ungkapan syukur,
kar’na Kristus, Penebus, berkurban bagimu!

 

PEMBACAAN KITAB MAZMUR 138

(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)

 

DOA PEMBUKA DAN FIRMAN

PEMBACAAN ALKITAB 

Yeh. 36: 33-38, Mat. 16: 5-12

 

RENUNGAN

DIPULIHKAN UNTUK HIDUP DALAM KEBENARAN

 

Ada masa ketika kehidupan terasa seperti kota yang runtuh dan tanah yang tandus. Rencana gagal, hubungan terluka, pelayanan melemah, dan pengharapan hampir padam. Dalam keadaan seperti itu, kita mungkin bertanya, “Apakah Tuhan masih bekerja? Apakah hidup ini masih dapat dipulihkan?”

Firman Tuhan hari ini menegaskan bahwa Allah adalah Tuhan yang setia, sanggup memulihkan, dan tidak meninggalkan pekerjaan tangan-Nya. Namun, di tengah karya pemulihan itu, kita juga dipanggil untuk menjaga hati agar tidak dipengaruhi oleh pengajaran, sikap, dan cara hidup yang menjauhkan kita dari Tuhan.

 

  1. MENGUCAP SYUKUR atas kasih setia Tuhan

Pemazmur berkata: “Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku.”

Daud bersyukur bukan karena hidupnya selalu mudah, melainkan karena ia mengenal siapa Allahnya. Ia percaya bahwa Tuhan mendengar seruannya, meneguhkan jiwanya, dan menyertainya ketika ia berada dalam kesesakan. “Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku.”

Syukur sejati bukanlah penyangkalan terhadap masalah. Syukur adalah pengakuan bahwa masalah tidak lebih besar daripada kesetiaan Tuhan. Mungkin kita belum melihat jawaban doa secara lengkap. Mungkin persoalan belum berubah. Namun, kita dapat tetap bersyukur karena kasih setia Tuhan tidak berubah.

Pemazmur menutup dengan keyakinan: “TUHAN akan menyelesaikannya bagiku!”

Ini bukan berarti semua keinginan kita pasti terjadi. Artinya, Tuhan akan menyelesaikan maksud-Nya dalam kehidupan kita. Ia tidak meninggalkan pekerjaan tangan-Nya setengah jalan.

Ketika kita belum memahami jalan Tuhan, kita tetap dapat mempercayai hati-Nya yang penuh kasih.

 

  1. MENGALAMI PEMULIHAN oleh anugerah Tuhan

Melalui Nabi Yehezkiel, Tuhan berjanji akan memulihkan Israel. Kota-kota yang sebelumnya runtuh akan dibangun kembali. Tanah yang tandus akan menjadi seperti Taman Eden.

Orang-orang yang melihatnya akan berkata: “Tanah yang sudah tandus ini menjadi seperti taman Eden.”

Pemulihan itu bukan terjadi karena kekuatan Israel, melainkan karena tindakan Allah. Tuhan sendiri yang membersihkan, membangun, menumbuhkan, dan memperbanyak umat-Nya.

Ini mengajarkan bahwa tidak ada kehidupan yang terlalu rusak untuk dipulihkan oleh Tuhan. Tidak ada masa lalu yang terlalu gelap, hati yang terlalu terluka, keluarga yang terlalu berantakan, atau pelayanan yang terlalu lemah bagi kuasa kasih-Nya. Namun, pemulihan Tuhan mempunyai tujuan yang lebih besar daripada kenyamanan pribadi. Melalui pemulihan itu, bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Tuhanlah yang membangun kembali apa yang telah runtuh. Ketika Tuhan memulihkan hidup kita, kesaksian kita seharusnya membawa orang lain mengenal kebesaran-Nya. Tuhan memulihkan kita bukan supaya kita membanggakan diri, melainkan supaya nama-Nya dimuliakan.

 

  1. MENJAGA HATI dari ragi yang merusak

Dalam perjalanan bersama para murid, Yesus berkata: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi dan Saduki.” Para murid mengira Yesus sedang berbicara tentang roti. Mereka sibuk memikirkan kebutuhan jasmani sehingga tidak memahami pesan rohani yang disampaikan-Nya. Yesus sebenarnya memperingatkan mereka terhadap ajaran orang Farisi dan Saduki. Ragi menggambarkan sesuatu yang tampak kecil, tetapi dapat memengaruhi seluruh adonan.

Demikian juga dengan kesombongan rohani, kemunafikan, ketidakpercayaan, dan pengajaran yang keliru. Semuanya dapat masuk perlahan-lahan, lalu memengaruhi seluruh kehidupan.

Kita mungkin rajin beribadah, aktif melayani, dan mengetahui banyak ayat Alkitab, tetapi hati kita tetap dapat dipengaruhi oleh “ragi” yang merusak: merasa diri paling benar; mudah menghakimi orang lain; lebih mementingkan penampilan daripada ketulusan; melupakan pertolongan Tuhan pada masa lalu; melihat masalah hanya dengan perhitungan manusia.

Yesus mengingatkan para murid tentang mukjizat lima roti dan tujuh roti. Mereka seharusnya mengingat bahwa Tuhan sanggup mencukupkan kebutuhan mereka. Sering kali kita pun menjadi cemas karena melupakan apa yang telah Tuhan lakukan. Padahal, mengingat kesetiaan Tuhan pada masa lalu akan menolong kita mempercayai-Nya hari ini.

 

Melalui ketiga bacaan ini, Tuhan mengajak kita:

MENGUCAP SYUKUR karena kasih setia-Nya tidak pernah berubah.
MENGALAMI PEMULIHAN karena Tuhan sanggup membangun kembali yang runtuh.
MENJAGA HATI agar tidak dipengaruhi oleh kesombongan, kemunafikan, dan ketidakpercayaan.

Mungkin hari ini ada bagian kehidupan kita yang terasa tandus. Jangan kehilangan pengharapan. Tuhan sanggup menjadikannya kembali subur.

Mungkin ada doa yang belum terjawab. Jangan berhenti percaya. Tuhan akan menyelesaikan maksud-Nya dalam hidup kita. Mungkin ada “ragi” kecil yang mulai memengaruhi hati. Datanglah kepada Tuhan, mintalah agar Ia membersihkan dan memperbarui hidup kita. Kasih setia Tuhan menguatkan, kuasa-Nya memulihkan, dan kebenaran-Nya menjaga langkah kita.

 

DOA SYAFAAT DAN PENUTUP
Keluarga yang mengasihi dan bersedia mengampuni.

 

NYANYIAN PENUTUP

  1. 450 – Hidup Kita yang Benar

 

Bertekun bersyukurlah hingga suaraNya kaudengar:
“Sungguh indah anakKu, ungkapan syukurmu.”

 

Reff:

Dalam susah pun senang; dalam segala hal
Aku bermazmur dan ucap syukur; itu kehendakNya!

 

Tuhan Yesus, tolonglah, sempurnakan syukurku.
Roh Kudus berkuasalah di dalam hidupku!

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga