Peristiwa "Ga Enak"

Saat Teduh

 

Nyanyian Pembuka 

 

Tuhan Memanggil, Datang Seg’ra

(PKJ 191: 1-2)

 

Tuhan memanggil, datang seg’ra!

Dia memanggil kita semua.

Janganlah ragu, jangan gentar,

Datang padaNya, datang seg’ra!

Mari, dengarkan suara Tuhan!

Dia menunggu, jawab seg’ra!

Janganlah tolak panggilanNya;

Hidup bahagia diberiNya.

 

Pembacaan Kitab Mazmur 131

(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)

 

Doa Pembuka dan Firman

(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)

Pembacaan Alkitab

Perjanjian Lama   : Yeremia 27: 1-11, 16-22

Perjanjian Baru    : Roma 1: 18-25

 

Renungan 

    “Ga selalu enak!” Itulah satu komentar yang langsung muncul sekilas dalam benak saya ketika saya membaca Yeremia 27: 1-11, 16-22. Kok bisa? Iya, bagaimana bisa dikatakan enak, kalau sebagai orang merdeka kita diminta untuk menyerahkan kemerdekaan kita kepada bangsa lain dan diminta tunduk pada kekuasaan mereka. Bukankah itu hal yang tidak enak dan tidak menyenangkan? Kita akan kehilangan kebebasan dan kemerdekaan kita. Ya kalau bangsa lain itu adalah bangsa yang baik dan bertanggung jawab memikirkan masa depan kita, bagaimana kalau bangsa lain itu adalah bangsa yang bengis, kasar, dan suka menindas? Bukankah itu berarti kita harus membiarkan diri kita ditindas, diperlakukan kasar, dan diperbudak oleh mereka? Dalam situasi yang demikian itu, apakah kita masih akan mengatakan bahwa perintah itu merupakan perintah yang enak? Rasanya kita akan cenderung mengatakan bahwa perintah itu adalah perintah yang ga enak buat kita.

    Tapi yang apa yang kelihatan “ga enak” itu kadang dipakai Tuhan untuk mendidik dan mengajari kita tentang satu dan lain hal dalam hidup kita. Seperti yang terjadi dalam diri bangsa Israel. Tuhan memerintahkan Yeremia untuk meneruskan suara Tuhan kepada umat Israel yang pada waktu itu telah tenggelam dalam dosa dan kesalahan mereka. Yeremia diminta untuk menyampaikan perintah yang tidak enak itu kepada bangsa Israel. Tuhan menghendaki mereka untuk menyerahkan diri kepada bangsa Babel di bawah kekuasaan Nebukadnezar. Perintah ini bukan tanpa maksud. Tuhan menyerahkan mereka ke Babel dengan tujuan supaya bangsa Israel belajar tentang makna ketaatan dan mengandalkan Tuhan di tengah kehidupan mereka. Selama ini mereka merasa bahwa tanpa Tuhan mereka bisa melakukan segala sesuatu. Mereka melupakan Tuhan dalam hidup mereka. Mereka lupa bahwa dalam setiap keberhasilan mereka ada campur tangan Tuhan yang menuntun dan menyertai mereka. Melalui perintah yang disampaikan lewat Yeremia, Tuhan mau mengajari mereka tentang bagaimana rasanya hidup jauh dari pertolongan Tuhan. Sebagaimana yang disaksikan dalam Roma 1: 18-25.

    Kadang dalam kehidupan kita sekarang ini, cara yang sama juga Tuhan kerjakan bagi kita. Ketika kita mulai melupakan Tuhan, Ia berusaha untuk terus mengingatkan hal itu. Ia ingin kita tidak terus menjauh dari-Nya. Ia ingin kita sadar akan jalan yang telah kita tempuh dan kembali ke jalan yang Tuhan kehendaki. Lewat peristiwa-peristiwa yang kelihatannya “ga enak”, Tuhan menegur dan mengingatkan kita. Semakin cepat kita sadar, semakin cepat pula kita melewati peristiwa itu. Demikian sebaliknya. Oleh karena itu, jika Tuhan telah memperingatkan kita melalui peristiwa-peristiwa yang “ga enak”, janganlah kita terus mengeraskan hati kita. Marilah kita segera berbalik kepada Tuhan. Bahkan kalau bisa jangan sampai Ia memperingatkan kita dengan peristiwa yang “ga enak” baru kita sadar. Jauh sebelum itu terjadi, sebaiknya kita terus mawas diri terhadap jalan hidup yang kita tempuh. Jangan sampai jalan hidup yang kita lalui makin menjauh dari kehendak Tuhan. Amin.

 

Doa Syafaat dan Penutup

Berdoalah agar pemerintah dapat selalu menciptakan peluang bagi masyarakat untuk membuka usaha dalam rangka meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

 

Nyanyian Penutup

 

SuaraMu Kudengar

(KJ 33: 1, 3)

 

SuaraMu kudengar memanggil diriku,

Supaya ‘ku di Golgota dibasuh darahMu.

Refrein:

    Aku datanglah, Tuhan, padaMu;

    Dalam darahMu kudus sucikan diriku.

Kau panggil diriku, supaya kukenal;

Iman, harapan yang teguh dan kasihMu kekal.

(Kembali ke refrein)

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga