Doa Sebagai Landasan Hidup
Saat teduh
Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya
Nyanyian Umat
NKB 140 “Bila Ku Berdoa“
Tuhan sambut jiwaku, bila ‘ku berdoa;
Dia dan ‘ku bertemu, bila ‘ku berdoa.
Bila ‘ku berdoa, bila ‘ku berdoa,
Tuhan sambut jiwaku, bila ‘ku berdoa.
Tiada bimbang dan gentar, bila ‘ku berdoa;
hatiku pun bergemar, bila ‘ku berdoa.
Bacaan I: Amsal 4.10-27
Pesan yang penting dalam perikop ini
Dalam kitab yang umumnya berisikan nasehat ini, kita diajak hidup dalam hikmat, memilih jalan kebenaran, serta menjaga hati dan hidup secara utuh.
Hikmat dibutuhkan sebagai tuntunan melangkah, sehingga tidak mudah tersesat dan bingung. Bagian ini juga memperlihatkan kontras antara jalan orang fasik (jahat) dengan jalan orang benar. Jelas jalan benar yang harus dipilih oleh kita sebagai umat beriman. Agar bisa hidup benar, firman Tuhan yang kita dengar harus diserap dan ditanam di dalam hati.
Doa Pembuka
Dipimpin seorang anggota keluarga
Mazmur 105.1-11, 37-45
Bacalah bagian ini dengan beberapa cara
- Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
- Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
- Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan
Bacaan II: Lukas 6.12-19
Pesan melalui perikop
Perikop ini menceritakan proses Yesus memilih murid, yang selanjutnya akan menjadi perpanjangan tangan-Nya dalam menghadirkan kabar baik bagi dunia. Proses ini tidaklah sederhana, dan dilakukan oleh Yesus secara sungguh-sungguh. Hal ini terlihat dalam proses Yesus menyiapkannya, yakni dengan berdoa terlebih dahulu. Ia meminta petunjuk Allah Bapa, yang mengajarkan kita betapa pentingnya relasi dengan Allah Bapa dijalin ketika melakukan sesuatu. Yesus juga menyadari bahwa pelayanan-Nya dilandaskan pada hubungan baik dengan Bapa-Nya. Bagi Yesus, doa bukanlah formalitas, melainkan kebutuhan. Dalam doa terlihat kebergantungan Yesus kepada Bapa-Nya. Bagi Yesus, setiap keputusan yang hendak diambil – apalagi yang besar – harus lahir dari relasi yang baik dengan Allah Bapa. Oleh karena itu, sebelum memilih para murid, Ia berdoa dulu.
Belajar dari apa yang diceritakan dalam tulisan ini, mari kita merefleksikannya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).
Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:
- Apakah yang kita pahami tentang doa?
- Apakah pemahaman kita tentang doa selama ini sudah benar, berdasarkan pandangan Yesus mengenai doa ?
Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:
- Ketika kita dipilih menjadi pengikut-Nya, apakah kita merasa bahwa kita adalah pribadi yang Istimewa, yang sebelumnya didoakan Yesus terlebih dahulu?
Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:
- Jika kita merasa istimewa – karena dipilih Yesus sebagai pengikut-Nya, sikap apa yang sebaiknya kita tunjukkan dalam hidup ini?
- Apakah kita menjadikan doa sebagai sebuah langkah awal sebelum melakukan sesuatu atau menetapkan sebuah keputusan?
Doa Bersama
Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa:
- Umat memahami pentingnya hidup bersama dalam persekutuan, sehingga saling menghargai dan saling mendoakan
- Umat tergerak melibatkan diri dalam persekutuan, dan membangun kerja sama dengan rekan seiman demi mewujudkan pelayanan yang teruji
- Tuhan menambahkan jumlah pelayan bagi kegiatan persekutuan dan pelayanan kesaksian
Nyanyian Umat
”Dia Hanya Sejauh Doa”
Bila kau rasa gelisah di hatimu
Bila kelam kabut tak menentu hidupmu
Ingat masih ada seorang penolong bagimu
Yesus tak pernah jauh darimu
Bila cobaan menggodai hatimu
Bila sengsara menimpa keadaanmu
Ingat Yesus takkan pernah jauh darimu
Dia slalu pedulikan kamu
Berseru memanggil nama-Nya
Berdoa Dia kan segra menghampiri dirimu
Percaya Dia tak jauh darimu
Dia hanya sejauh doa

Komentar Anda