Jangan Tolak Perintah Allah
Saat Teduh
Nyanyian umat
KJ 242 – Yesus Menginginkan Daku
1. Yesus menginginkan daku bersinar bagiNya,
di mana pun ‘ku berada, ‘ku mengenangkanNya.
Bersinar, bersinar; itulah kehendak Yesus;
bersinar, bersinar, aku bersinar terus.
2. Yesus menginginkan daku menolong orang lain,
manis dan sopan selalu, ketika ‘ku bermain.
Bersinar, bersinar; itulah kehendak Yesus;
bersinar, bersinar, aku bersinar terus.
3. Ku mohon Yesus menolong menjaga hatiku,
agar bersih dan bersinar meniru Tuhanku.
Bersinar, bersinar; itulah kehendak Yesus;
bersinar, bersinar, aku bersinar terus.
Doa Pembuka – Dipimpin seorang anggota keluarga
Pembacaan Mazmur = Mazmur 100
(Dibaca bersama-sama)
Bacaan 1 = Keluaran 6:28 – 7:13
(Dibaca secara bergiliran oleh seluruh anggota keluarga)
Bacaan 2 = Markus 7:1-13
(Dibaca secara bergiliran oleh seluruh anggota keluarga)
Renungan
Para ahli Taurat dan orang Farisi dari Yerusalem mengkritik murid-murid Yesus karena makan dengan tangan yang “najis” (tidak dibasuh), tetapi sesungguhnya ini bukan masalah kebersihan belaka, melainkan soal ritual seremonial. Orang Yahudi pada masa itu telah menciptakan sistem tradisi yang sangat rumit. Mereka menciptakan pagar aturan manusia dan menganggapnya sama, bahkan lebih tinggi, dari Firman Allah.
Yesus merespons dengan mengutip Yesaya 29:13: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” Ibadah mereka menjadi kosong, mati, dan sia-sia karena dilakukan secara mekanis. Mereka mengarahkan ibadah kepada Allah yang benar, tetapi dengan cara yang salah—yaitu tanpa hati yang sungguh-sungguh mengasihi-Nya.
Yesus menunjukkan kemunafikan mereka dengan memberikan satu contoh. Allah memberikan perintah yang sangat jelas dalam Sepuluh Perintah: “Hormatilah ayahmu dan ibumu.” Namun, para pemimpin agama menciptakan tradisi yang disebut Korban (barang yang didedikasikan untuk Allah). Jika seorang anak tidak ingin hartanya dipakai untuk merawat orang tuanya yang kesulitan, ia cukup mengucapkan bahwa hartanya adalah “Korban”. Ia tetap bisa menyimpan hartanya sendiri dengan kedok kesalehan palsu, sambil menelantarkan orang tuanya. Lewat tradisi ini, mereka secara terang-terangan membatalkan Perintah Allah.
Bacaan kita di Keluaran juga menunjukkan sebuah benang merah yang sangat kuat terkait bagaimana umat Tuhan seharusnya merespons Perintah Allah:
1. Jangan ragu dengan Otoritas Allah
Firaun menolak Perintah Allah secara terang-terangan karena kesombongan, kekuasaan, dan keangkuhannya. Kaum Farisi menolak Perintah Allah secara terselubung dengan cara bersembunyi di balik jubah agama dan bahasa spiritual. Bahkan Musa pun pada awalnya ragu terhadap perintah Allah karena menganggap bahwa dirinya tidak mampu berbicara.
Dapat kita lihat bahwa manusia memang seringkali memiliki berbagai cara dan alasan untuk menolak perintah Allah, di mana tindakan tersebut sama saja dengan ragu bahkan menolak otoritas Allah. Sebagai umat Percaya, kita perlu ingat bahwa Allah tidak memberikan perintah secara cuma-cuma, Allah mengetahui dengan betul kapasitas kita, dan Allah pasti akan memperlengkapi kita untuk menjalankan perintah-Nya.
2. Jangan tutupi Kebenaran
Firaun mengandalkan ahli sihir untuk meniru mukjizat Allah, menciptakan ilusi agar Firaun punya alasan untuk mengabaikan perintah tersebut. Para ahli Taurat menggunakan akal-akalan teologis untuk menciptakan ilusi kesalehan, sehingga mereka memiliki alasan legalistik untuk mengabaikan perintah Tuhan. Kelompok-kelompok tersebut memakai hikmat dan ciptaan manusia untuk melawan Kebenaran Allah.
Sebagai umat Allah yang mengaku percaya kepada-Nya. Jangan sampai kita memanipulasi kebenaran yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Seperti Bacaan kita di Mazmur 100:3, Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, kita tidak bisa menyembunyikan apapun dari pandangan Allah. Maka dari itu, jangan sampai kita mencoba untuk ‘menipu’ Tuhan, karena hal tersebut sama saja dengan menipu diri kita sendiri.
3. Jangan Mengeraskan Hati di Hadapan Mukjizat dan Kebenaran
Keluaran 7:13 secara eksplisit mencatat bahwa “hati Firaun berkeras” meski ia melihat tongkat Harun menelan tongkat para ahli sihirnya. Di dalam Markus 7, Yesus berhadapan dengan “Firaun-Firaun” spiritual yang baru. Meskipun para pemimpin agama ini melihat Yesus menyembuhkan ribuan orang, mengusir setan, dan memberi makan orang banyak (mukjizat yang jauh lebih besar dari tongkat menjadi ular), hati mereka tetap keras. Mereka lebih peduli pada tradisi cuci tangan mereka daripada tunduk kepada Sang Firman yang sedang berdiri di hadapan mereka.
Kita di zaman sekarang sudah diperhadapkan dengan berbagai mukjizat yang Allah lakukan sepanjang zaman melalui Alkitab. Karena kita sudah memiliki akses terhadap mukjizat dan kebenaran ini, jangan sampai kita mengeraskan hati kita dengan tidak percaya kepada perintah Tuhan. Setiap kali kita mendengarkan Firman Tuhan, pakailah kesempatan tersebut sebagai sebuah perenungan untuk introspeksi diri sendiri: Apakah saya sudah sungguh-sungguh percaya kepada Perintah Allah?
Doa Bersama
(Dipimpin secara bergantian antara anggota keluarga)
Doakan agar setiap anggota keluarga taat kepada perintah Allah untuk mau bersekutu bersama
Doakan agar kerinduan terhadap mendengarkan Firman Tuhan dapat menyala kembali di tengah-tengah keluarga.
Doakan agar setiap anggota keluarga dapat membuang kebiasaan-kebiasaan buruk maupun pikiran yang meragukan ku

Komentar Anda