Mengenal Allah, Percaya Kepada-Nya dan Hidup Dalam Syukur
SAAT TEDUH
PUJIAN PEMBUKA
NKB 133 – Syukur Padamu, Ya Allah
Syukur padaMu, ya Allah, atas s’gala rahmatMu;
Syukur atas kecukupan dari kasihMu penuh.
Syukur atas pekerjaan, walau tubuhpun lemban;
Syukur atas kasih sayang dari sanak dan teman.
Syukur atas bunga mawar, harum, indah tak terp’ri.
Syukur atas awan hitam dan mentari berseri.
Syukur atas suka-duka yang ‘Kau b’ri tiap saat;
Dan FimanMulah pelita agar kami tak sesat
PEMBACAAN KITAB MAZMUR 50:7-15
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
DOA PEMBUKA DAN FIRMAN
PEMBACAAN ALKITAB
Keluaran 34:1-9; Matius 9:27-34
RENUNGAN
“Mengenal Allah, Percaya kepada-Nya, dan Hidup dalam Syukur”
Sering kali manusia mengenal Tuhan hanya pada saat membutuhkan pertolongan-Nya. Ketika masalah datang, doa dipanjatkan dengan sungguh-sungguh. Namun ketika keadaan membaik, hubungan dengan Tuhan perlahan menjadi renggang. Melalui bacaan hari ini, Tuhan mengajak kita untuk membangun hubungan yang lebih dalam dengan-Nya, bukan sekadar datang saat membutuhkan sesuatu, melainkan hidup dalam pengenalan, kepercayaan, dan syukur kepada-Nya setiap hari.
Dalam Mazmur 50, Tuhan menegur umat yang merasa bahwa ibadah dan persembahan lahiriah sudah cukup untuk menyenangkan hati-Nya. Tuhan menegaskan bahwa Ia tidak membutuhkan korban persembahan dari manusia karena segala sesuatu adalah milik-Nya. Yang Tuhan kehendaki adalah hati yang sungguh mengenal-Nya, mengucap syukur kepada-Nya, dan berseru kepada-Nya dengan penuh kepercayaan. Ibadah yang sejati bukan sekadar ritual, melainkan relasi yang hidup dengan Allah.
Pengenalan akan Allah itu terlihat jelas dalam pengalaman Musa di Gunung Sinai. Ketika Tuhan memperbarui perjanjian-Nya dengan Israel, Ia memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah yang penuh belas kasihan, pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia. Allah bukan pribadi yang jauh dan tidak peduli terhadap umat-Nya. Ia adalah Allah yang tetap setia sekalipun manusia sering kali tidak setia. Kasih dan kesetiaan-Nya menjadi dasar bagi umat untuk tetap datang kepada-Nya dan menaruh harapan kepada-Nya.
Pengenalan akan Allah yang penuh kasih itu kemudian menemukan puncaknya dalam diri Yesus Kristus. Dalam Injil Matius, dua orang buta datang kepada Yesus sambil berseru, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Mereka tidak dapat melihat dengan mata jasmani, tetapi mereka memiliki penglihatan iman yang tajam. Mereka percaya bahwa Yesus sanggup menolong dan memulihkan mereka. Ketika Yesus bertanya, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” mereka menjawab dengan yakin, “Ya, Tuhan.” Karena iman itulah mereka mengalami kesembuhan dan pemulihan.
Ketiga bacaan ini mengajarkan satu perjalanan iman yang utuh. Kita diajak untuk mengenal siapa Allah yang kita sembah, yaitu Allah yang penuh kasih dan setia. Pengenalan itu melahirkan kepercayaan kepada-Nya dalam segala situasi hidup. Dan ketika kita mempercayakan hidup kepada-Nya, hati kita dipenuhi oleh rasa syukur karena menyadari bahwa Tuhan senantiasa memelihara dan menyertai kita.
Dalam kehidupan keluarga, pengenalan akan Tuhan tidak cukup hanya diwariskan melalui kata-kata. Pengenalan itu perlu dibangun melalui doa bersama, membaca firman Tuhan, berbagi pengalaman iman, dan melihat bagaimana setiap anggota keluarga belajar mengandalkan Tuhan dalam suka maupun duka. Keluarga yang mengenal Tuhan akan menjadi keluarga yang kuat menghadapi tantangan hidup, karena mereka tahu kepada siapa mereka berharap.
Kiranya melalui renungan ini, setiap anggota keluarga semakin mengenal Allah yang penuh kasih, semakin percaya kepada kuasa-Nya, dan semakin hidup dalam syukur atas segala kebaikan-Nya.
Allah yang kita kenal adalah Allah yang penuh kasih; karena itu kita dapat percaya kepada-Nya, dan karena kita percaya kepada-Nya, kita dapat hidup dalam syukur setiap hari.
DOA SYAFAAT DAN PENUTUP
Keluarga yang saling terbuka dan percaya kepada Tuhan
NYANYIAN PENUTUP
NKB 133 – Syukur Padamu, Ya Allah
Syukur atas keluarga penuh kasih yang mesra;
Syukur atas perhimpunan yang memb’ri sejahtera.
Syukur atas kekuatan kala duka dan kesah;
Syukur atas pengharapan kini dan selamaNya!

Komentar Anda