Hidup Bersyukur Meski Diterjang Gelombang Badai
Saat teduh
Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya
Nyanyian Umat
NKB 133 “Syukur Pada-Mu, Ya Allah“
Syukur pada-Mu, ya Allah, atas s’gala rahmat-Mu;
Syukur atas kecukupan dari kasih-Mu penuh.
Syukur atas pekerjaan, walau tubuhpun lemban;
Syukur atas kasih sayang dari sanak dan teman.
Syukur atas keluarga penuh kasih yang mesra;
Syukur atas perhimpunan yang memb’ri sejahtera.
Syukur atas kekuatan kala duka dan kesah;
Syukur atas pengharapan kini dan selama-Nya!
Bacaan I: Ayub 39.26-40.5
Pesan yang penting dalam perikop ini
Kitab Ayub menceritakan kisah orang saleh yang mengalami penderitaan. Bukan hanya satu dua siksaan yang kecil, melainkan banyak. Sampai kerabatnya mengusulkan agar ia meninggalkan Allah, sebab mereka meyakini kesulitan-kesulitan yang dihadapi Ayub didatangkan atau diizinkan Allah. Buat apa lagi percaya atau mengandalkan Allah yang seperti ini? Bukankah malah merugikan ketimbang menguntungkan?
Di tengah kebimbangannya, Ayub disapa Allah. Sapaan itu mengingatkan serta menyadarkan Ayub tentang siapa Allah. Lebih dari itu, Allah juga membuat Ayub terbuka kembali matanya dan berbalik memihak Allah.
Di fase ini, Ayub diam dan terhenyak. Setelah perenungannya, ia menyimpulkan, hal-hal buruk dalam kehidupan bukanlah inisiatif atau prakarsa Allah. Sebaliknya, Allah tetap menyertai umat-Nya di tengah berbagai rintangan hidup.
Doa Pembuka
Dipimpin seorang anggota keluarga
Mazmur 29
Bacalah bagian ini dengan beberapa cara
- Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
- Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
- Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan
Bacaan II: Yohanes 14.25-26
Pesan melalui perikop
Konsistensi Yesus sebagai Tuhan yang hadir dan menemani para murid-Nya dalam mengembara (melanjutkan hidup), ditunjukkan lewat penyertaan Roh Kudus.
Yesus menyadari kegamangan para murid sepeninggal diri-Nya. Hidup tidak jadi lebih mudah. Sebaliknya, bisa jadi lebih berat, karena tidak ada lagi guru yang terlihat memimpin mereka dan bisa memberi saran atau solusi terhadap persoalan yang dihadapi. Namun Yesus menjaga mereka dengan menghadirkan Roh Kudus, sebagai penolong yang senantiasa menyertai mereka.
Belajar dari apa yang diceritakan dalam tulisan ini, mari kita merefleksikannya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).
Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:
- Apakah hal-hal buruk yang kita alami didatangkan atau berasal dari Tuhan?
Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:
- Apakah yang kita lakukan kala menghadapi situasi yang berat dalam hidup? Apakah mendatangi Tuhan, atau sebaliknya, menjauh dari-Nya, sebab merasa bahwa Dialah yang menyebabkan kesulitan kita?
Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:
- Apakah kita bersyukur di awal hari yang baru? Mengapa?
- Bila berbeban berat, tetapkah kita bersyukur?
- Yakinkah bahwa dalam saat sulit, Tuhan tetap menyertai langkah kita?
- Jika dicerminkan dalam perjalanan hidup bergereja dan menggereja, apa yang bisa kita refleksikan demi hidup yang lebih berpengharapan?
Doa Bersama
Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa:
- Hidup dalam dunia, agar dipenuhi kedamaian
- Hidup gereja, khususnya bagi umat GKI Serpong dan persekutuannya, yang baru merayakan perjalanan 35 tahun sebagai gereja
- Pelayanan umat Tuhan di berbagai tempat; agar dilandasi kerinduan memberi diri demi kebaikan orang lain
Nyanyian Umat
NKB 111 ”Gereja Bagai Bahtera”
Gereja bagai bahtera di laut yang seram
mengarahkan haluannya ke pantai seberang.
Mengamuklah samudera dan badai menderu;
gelombang zaman menghempas, yang sulit ditempuh.
Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih:
Betapa jauh, dimanakah labuhan abadi?
Tuhan, tolonglah! Tuhan, tolonglah!
Tanpa Dikau semua binasa kelak.
Ya Tuhan tolonglah!
Gereja bagai bahtera pun suka berhenti,
tak menempuh samudera, tak ingin berjerih
dan hanya masa jayanya selalu dikenang,
tak ingat akan dunia yang hampir tenggelam!
Gereja yang tak bertekun di dalam tugasnya,
tentunya oleh Tuhan pun tak diberi berkah.

Komentar Anda