Buang Dong, Jangan Dipelihara Terus
Saat Teduh
Nyanyian Pembuka
Memandang Salib Rajaku
(KJ 169 : 1-2)
Memandang salib Rajaku
Yang mati untuk dunia,
kurasa hancur congkakku
dan harta hilang harganya.
Tak boleh aku bermegah
selain di dalam salibMu;
kubuang nikmat dunia
demi darahMu yang kudus.
Pembacaan Mazmur 99
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
Doa Pembuka dan Firman
(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)
Pembacaan Alkitab
Perjanjian Lama : Imamat 9: 1-11
Perjanjian Baru : 1 Petrus 5: 1-6
Renungan
Pernahkah kita membuang sampah dapur? Biasanya kita ikat rapi, lalu buang ke tempat sampah luar. Tidak ada orang waras yang menyimpan sampah di dalam rumah selama berminggu-minggu. Tapi anehnya, secara rohani, sering kita lakukan itu. Kita simpan dosa kecil, dendam lama, kebiasaan buruk, lalu kita biarkan membusuk di dalam hati sambil tetap beribadah.
Hari ini Tuhan mau mengingatkan kita melalui dua bacaan: Imamat 9:1-11 dan 1 Petrus 4:1-6. Mari kita lihat pelajarannya. Dalam Imamat 9:1-11, kita melihat Harun dan anak-anaknya memulai tugas imamat dengan mempersembahkan kurban. Mereka harus taat pada perintah Tuhan, mempersembahkan kurban penghapus dosa dan kurban bakaran. Ini mengingatkan kita bahwa mendekat kepada Allah harus dimulai dengan pengakuan dosa dan penyerahan diri sepenuhnya. Daging dan kulit kurban dibakar di luar perkemahan—gambaran bahwa dosa dan kelemahan manusia perlu “dimusnahkan” agar kekudusan Tuhan nyata.
Sementara itu, 1 Petrus 4:1-6 mengajak kita memiliki “pikiran yang sama” dengan Kristus, yaitu rela menderita dalam daging untuk berhenti berbuat dosa. Petrus menegaskan bahwa masa lalu kita yang tenggelam dalam hawa nafsu sudah lewat. Kini, kita hidup menurut kehendak Allah, bukan lagi menurut keinginan manusia. Ini panggilan untuk hidup yang terpisah dari dosa, sekalipun dunia heran dan menghujat kita.
Hari ini, Tuhan tidak minta kita menyembelih lembu sebagai bentuk persembahan kita. Tetapi Dia minta kita mempersembahkan satu hal: kemauan kita untuk membuang dosa dan menderita demi kebenaran. Karena itu, mari kita tutup mata sejenak. Tanya hati kita masing-masing: Dosa apa yang masih kamu simpan di dalam “perkemahan” hidupmu? Kebiasaan apa yang kamu tahu harus “dibakar di luar” tapi kamu terus pelihara? Sekarang, di tempat teduh ini, ambil keputusan. Katakan dalam hati: “Tuhan, mulai hari ini, aku mau membuang dosa itu. Aku rela tidak enak, aku rela dibilang aneh, asalkan aku hidup dalam kehendak-Mu.” Amin.
Doa Syafaat dan Penutup
Berdoalah agar pemerintah mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia bagi masa depan anak bangsa agar menjadi lebih baik lagi.
Nyanyian Penutup
Ya Yesus, Terkasih
(KJ 382:1-2)
Ya Yesus terkasih, Engkau Tuhanku,
kubuang dosaku demi namaMu.
Kau Jurus’lamatku, Pengasih benar.
Kasihku padaMu semakin besar.
Engkau lebih dulu mengasihiku;
Kauhapus dosaku dengan darahMu.
Menanggung sengsara Kau tidak gentar;
kasihku padaMu semakin besar.

Komentar Anda