Gembala
Saat Teduh
Nyanyian Pembuka
Tuhan, Kau Gembala Kami
(KJ 407 : 1-2)
Tuhan, Kau Gembala kami,
Tuntun kami dombaMu;
B’rilah kami menikmati
hikmat pengorbananMu.
Tuhan Yesus, Jurus’lamat
Kami ini milikMu,
Tuhan Yesus, Jurus’lamat,
Kami ini milikMu.
Kau Pengawal yang setia,
Kawan hidup terdekat.
Jauhkan kami dari dosa,
Panggil pulang yang sesat.
Tuhan Yesus, Jurus’lamat,
Kami mohon b’ri berkat.
Tuhan Yesus, Jurus’lamat,
Kami mohon b’ri berkat.
Pembacaan Mazmur 100
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
Doa Pembuka dan Firman
(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)
Pembacaan Alkitab
Perjanjian Lama : Yehezkhiel 34: 17-23
Perjanjian Baru : 1 Petrus 5: 1-5
Renungan
Pernahkah Anda bertanya dan berpikir mengapa profesi gembala sering dipakai Allah untuk mengungkapkan apa yang dikehendaki-Nya? Mengapa bukan profesi lain seperti tabib (penyembuh), politisi, pemuka agama, atau yang lain? Padahal jika dipikir, profesi gembala bukanlah sebuah profesi yang menjanjikan secara duniawi. Penghasilannya tidak seberapa. Hanya cukup untuk membiayai hidup sehari-hari, tidak lebih, bahkan kadang kurang. Gembala juga bukan profesi yang memberikan status sosial yang lebih pada seseorang. Gembala di mata masyarakat masa itu dipandang sebelah mata, keberadaannya tidak terlalu dianggap dan diperhitungkan. Secara status mereka bukan siapa-siapa. Tapi mengapa Allah memilih profesi itu untuk mengidentifikasikan diri-Nya dan menggambarkan panggilan-Nya pada kita?
Gembala memang bukanlah profesi dan jabatan yang menggiurkan. Namun, gembala adalah sebuah pekerjaan yang menuntut pemberian diri penuh. Ketika seorang bersedia untuk menjadi penggembala, maka dia harus siap untuk memberikan hidupnya pada domba-domba yang digembalakannya. Ia harus siap bertaruh nyawa demi keselamatan para domba di padang belantara.
Gembala juga harus menyerahkan waktu hidupnya bagi domba-dombanya. Seorang gembala akan tinggal beberapa waktu lamanya bersama para domba yang digembalakannya. Ketika ia bertugas, maka ia tidak akan meninggalkan domba-domba itu tanpa pengawasannya. Ia akan selalu ada bersama seluruh domba yang digembalakannya dan memastikan keamanan mereka semua. Sebab itulah, terkadang seorang gembala akan lebih banyak menghabiskan waktu hidupnya bersama domba-domba dari pada bersama komunitas masyarakatnya sendiri.
Gembala, sebagaimana pekerjaan-pekerjaan lain, adalah pekerjaan yang membutuhkan ketekunan dan ketulusan dalam melaksanakannya. Para gembala pada masa dulu adalah orang-orang yang memiliki hati yang tulus, jujur, dan mau belajar dari berbagai pengalaman yang terjadi dalam hidup mereka. Mereka dipercaya menggembalakan ribuan bahkan puluhan ribu domba. Mereka harus menjaga semua domba-domba itu dengan baik. Ketika sang pemilik domba memilih seseorang untuk menjadi gembala bagi dombanya karena ada perasaan percaya bahwa orang itu layak diberi tanggung jawab untuk menjaga domba-domba miliknya.
Gembala sekalipun bukan sebuah jabatan yang prestisius dalam kehidupan masyarakat Israel kuno, namun keberadaannya membuktikan kepercayaan orang lain kepada seseorang. Sekalipun tidak memberikan kekayaan yang berlimpah yang sering dipandang orang sebagai sumber kemuliaan, namun di balik setiap tugas yang dipercayakan kepada seorang gembala terkandung tindakan-tindakan mulia yang sesungguhnya. Tindakan merawat makhluk ciptaan Tuhan. Tindakan menjaga keselamatan ciptaan lain di tengah kehidupan ini. Justru seorang gembala yang berhasil adalah gembala yang domba-dombanya tidak satu pun luput dari perhatian, perawatan, dan pemeliharaannya.
Jika hari ini, melalui bacaan Yehezkhiel 34: 17-23 dan 1 Petrus 5: 1-5 kita diingatkan tentang peran gembala dalam kehidupan umat Tuhan. Gembala bukanlah sekadar orang yang ditunjuk Allah untuk memerintah umatNya, melainkan orang yang dipercaya Allah untuk bertindak adil dalam menjaga dan merawat kehidupan umatNya agar tetap aman dan selamat. Gembala adalah orang yang diminta untuk memberi teladan yang baik, agar umat Tuhan sebagai kawanan dapat tetap berjalan dalam jalan yang benar.
Jika di dalam hidup ini, kita menghayati bahwa sebagai komunitas umat Allah, kita adalah komunitas yang saling menggembalakan, maka kedua bacaan tersebut menunjukkan bahwa Allah sedang mempercayakan sebuah tanggung jawab besar dalam kehidupan kita. Sebuah tanggung jawab yang di dalamnya menuntut tindakan-tindakan mulia yang harus kita tunjukkan terhadap sesama kita. Allah tahu kemampuan kita, ia mengenal kita. Ketika Ia telah percaya kepada kita, maka kini saatnya kita menunjukkan diri kita bahwa kita mampu melakukan tugas yang Allah percayakan itu dengan baik. Hiduplah untuk saling menggembalakan sebagai kawanan domba Allah. Hiduplah saling menjaga dan merawat satu dengan yang lain. Supaya kelak ketika Gembala Agung tiba, kita menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu. Tuhan memberkati, Amin.
Doa Syafaat dan Penutup
Berdoalah agar pemerintah memperhatikan pengembangan infrastruktur sekolah secara merata di berbagai daerah di Indonesia
Nyanyian Penutup
Jangan Gentar, Hai Kawanan Kecil
(PKJ 257:1-2)
Janganlah gentar, hai kawanan kecil.
Rajamu menang atas maut ngeri;
Segala kuasa dib’ri padaNya di sorga,
Di bumi demi umatNya.
Refrein:
Percayalah, percayalah!
Tiada yang mustahil, percayalah!
Percayalah, percayalah!
Tiada yang mustahil, percayalah!
Jangan gentar, hai kawanan kecil.
Gembala memilih tempat kau pergi;
Getir kepahitan dimaniskanNya,
Pahitnya diminumNya di Golgota.

Komentar Anda