Jangan Menertawakannya

Saat Teduh

 

Nyanyian Pembuka 

 

Patut Segenap Yang Ada

(NKB 6 : 1)

 

Patut segenap yang ada 

diam dan sujud sembah,

mengosongkan pikirannya dari barang dunia,

kar’na Tuhan sungguh hadir, patut dipermulia.

 

Pembacaan Mazmur 134

(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)

 

Doa Pembuka dan Firman

(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)

Pembacaan Alkitab

Perjanjian Lama   : Kejadian 18: 1-14

Perjanjian Baru    : 1 Petrus 1: 23-25

 

Renungan 

    Berdasarkan teks Kejadian 18: 1-14 yang telah kita baca, saya mengajak kepada Anda masing-masing untuk bertanya dalam hati Anda: Apa yang akan menjadi respon Anda ketika Anda berada dalam posisi Abraham dan Sara pada waktu itu? Apakah Anda akan dengan mudah percaya kepada perkataan yang disampaikan oleh 3 orang asing yang datang ke rumah Anda tersebut? Apakah Anda akan percaya bahwa Anda pasti akan punya anak di usia yang sudah lanjut dan sudah dalam posisi mati haid? 

    Secara rasional agaknya akan menjadi hal yang sulit untuk kita dapat mempercayai perkataan orang tersebut. Sebab, seorang perempuan yang sudah mati haid berarti sudah berada dalam situasi menopause. Satu keadaan yang sudah tidak memungkinkan lagi terjadinya pembuahan pada sel telur. Dalam kondisi yang seperti itu mempercayai berita bahwa dirinya akan hamil bukanlah berita yang mudah. Karena itulah, Sara merespon pernyataan para tamunya itu dengan ‘menertawakan’ mereka. Seakan-akan dia hendak menunjukkan bahwa apa yang disampaikan para tamunya tersebut sebagai sekadar lelucon atau penghiburan yang kosong.

    Sikap ini terkadang juga muncul dalam diri kita ketika kita berjumpa dengan janji Tuhan yang menurut kita tidak masuk akal. Kadang kita hanya menganggapnya sebagai bentuk penghiburan yang kosong. Sekadar sebuah pernyataan yang bertujuan untuk membuat kita senang atau tenang, namun sejatinya hal itu tidak mungkin terjadi. Tentu sikap semacam ini bukanlah sikap yang diharapkan Tuhan menjadi respon kita. Sebab, sebagai mana firman Tuhan yang dituliskan dalam 1 Petrus 1:25a bahwa “tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya.” Apa yang telah difirmankan Tuhan kepada kita akan terjadi sesuai dengan rencana Tuhan dalam kehidupan kita. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan untuk mewujudkan apa yang telah dijanjikanNya pada kita. Menertawakan janji Tuhan adalah sebuah bentuk ketidakyakinan atas apa yang telah difirmankanNya. Karena itulah, Sara ditegur Tuhan atas sikap yang menertawakan janji Tuhan itu.

    Belajar dari pengalaman Abraham dan Sara ini, kita diingatkan untuk tidak meragukan janji Tuhan dalam kehidupan kita. Sekalipun secara manusiawi janji itu terlihat mustahil, namun bagi Tuhan hal itu mungkin terjadi. Oleh karena itu, bulan menertawakan janji Tuhan yang seharusnya kita tunjukkan sebagai respon kita, melainkan belajar menaruh percaya kepada janji Tuhan dengan segenap hati kita. Amin.

 

Doa Syafaat dan Penutup

Berdoalah agar pemerintah memperhatikan pengembangan fasilitas pendidikan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal.

 

Nyanyian Penutup

Janji Yang Manis

(NKB 143:1-2)

 

Janji yang manis: ” ‘Kau tak ‘Ku lupakan”,

tak terombang-ambing lagi jiwaku;

walau lembah hidupku penuh awan,

nanti ‘kan cerahlah langit diatasku.

Refrein:

” ‘Kau tidak ‘kan Aku lupakan,

Aku memimpinmu, Aku membimbingmu;

‘kau tidak ‘kan Aku lupakan,

Aku penolongmu, yakinlah teguh”.

Yakin ‘kan janji: ” ‘Kau tak ‘Ku lupakan”,

dengan sukacita aku jalan t’rus;

Dunia dan kawan tiada ‘ku harapkan,

satu yang setia: Yesus, Penebus.

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga