Identitas yang Teruji
NYANYIAN PEMBUKA
NKB 122 – ‘KU INGIN BERPERANGAI
Syair dan lagu: IIk wens to sijn als Jesus; Joh. de Heer,
Terjemahan: Yamuger
‘Ku ingin berperangai laksana Tuhanku,
lemah lembut dan ramah, dan manis budiku.
Tetapi sungguh sayang, ternyata ‘ku cemar
Ya Tuhan, b’ri ‘ku hati yang suci dan benar.
‘Ku ingin ikut Yesus, mencontoh kasihNya,
menghibur orang susah, menolong yang lemah.
Tetapi sungguh sayang ternyata ‘ku cemar
Ya Tuhan, b’ri ‘ku hati yang suci dan benar.
lagu peras keringat naik kepadaMu. Refrein:
DOA PEMBUKA
BACAAN ALKITAB
YUNUS 1:1-17
RENUNGAN
Bayangkan seorang atlet sepakbola, namun memiliki gaya hidup yang tidak sehat. Atau seorang guru yang mengajarkan tentang kejujuran, namun mencontek dalam ujian sertifikasi. Apa yang tidak beres? Ada jurang antara label yang ia bawa dengan cara hidupnya. Yunus mengalami persis seperti ini.
Waktu itu para awak kapal ketakutan karena badai yang mengguncang kapal mereka. Kemudian membangunkan Yunus dan bertanya “Siapa Allahmu?”. Yunus menjawab: “Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan.” Ini adalah pengakuan iman yang luar biasa. Tapi Yunus sedang berada di atas kapal di tengah laut dalam perjalanan melarikan diri dari Allah yang baru saja ia akui sebagai Pencipta lautan itu. Yunus harusnya dipanggil Allah ke Niniwe namun melarikan diri ke Tarsis. Ia berusaha bersembunyi dari “Pemilik laut” di atas “lautan milik-Nya” sendiri. Tindakan Yunus telah mengkhianati pengakuannya sendiri. Bibirnya mengucapkan takut akan Tuhan namun hidupnya tidak menunjukkan demikian. Identitas Yunus menjadi sebatas label tanpa ada integritas; sebuah pengakuan yang kehilangan makna karena tidak selaras dengan ketaatan.
Krisis identitas yang dialami Yunus seringkali menjadi cermin bagi banyak orang hari ini. Kita hidup di era di mana label keagamaan sangat mudah dipamerkan – baik di media sosial, aksesoris yang kita pakai, hingga kehadiran rutin di ruang ibadah. Namun integritas kristiani kita diuji saat kita berada di “tengah badai” hidup atau saat panggilan yang sulit datang menyapa. Apakah kejujuran di tempat kerja mencerminkan bahwa kita menyembah Tuhan Yang Maha Tahu? Apakah cara kita memperlakukan sesama mencerminkan bahwa kita pengikut Kristus yang penuh kasih? Marilah kita menyelaraskan iman dengan integritas dalam tindakan. Kiranya dunia tidak hanya mendengar siapa Tuhan melalui kata-kata, namun merasakan Tuhan melalui ketaatan kita yang sungguh. Amin.
DOA SYAFAAT
- Mendoakan mereka yang sakit dan keluarga yang merawat
- Membangun kepedulian dan menyatu dengan masyarakat
- Peperangan dan konflik antar bangsa segera berakhir serta terwujud damai sejahtera
NYANYIAN PENUTUP
NKB 207 – TAAT, SETIA, BERTEKAD YANG BULAT
Syair: True-Hearted, Whole-Hearted; Frances Ridley Havergal,
Terjemahan: E. L. Pohan,
Lagu: George C. Stebbins
Taat, setia, bertekad yang bulat,
itulah janji Tuhan padamu.
Di bawah panji yang mulia berdaulat,
kami ‘kan angkat perang bagimu.
Refrein:
Angkat semboyan, jangan diamkan!
Tiup serunai dan maju terus!
Angkat semboyan, jangan diamkan!
Kristuslah Raja serta Penebus!
Taat, setia, teguh bersekutu
dengan Engkau, ya Pemimpin besar.
Kar’na penuh kasih sayang padaMu
kami sedikit pun tidak gentar. Refrein:

Komentar Anda