Terlalu Sedikit Untuk Menjadi Hamba
NYANYIAN PEMBUKA
HIDUP INI ADALAH KESEMPATAN
Pdt. Wilhelmus Latumahina
Hidup ini adalah kesempatan
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan bri
Hidup ini harus jadi berkat
Oh Tuhan pakailah hidupku
Selagi aku masih kuat
Bila saatnya nanti
Ku tak berdaya lagi
Hidup ini sudah jadi berkat
DOA PEMBUKA
BACAAN ALKITAB
YESAYA 49:1-7
RENUNGAN
Seorang anak diminta untuk ikut dalam ansamble musik. Ia hanya memainkan alat musik untuk menghasilkan satu atau dua nada sederhana. Bagi anak itu, nada sederhana itu sudah cukup. Namun, bagi seorang maestro, potensi alat itu jauh lebih besar dari sekadar satu nada; ia diciptakan untuk memainkan simfoni yang bisa memukau. Ini seringkali menjadi gambaran kita – menjalani hidup merasa cukup dengan “satu nada” bagi keselamatan diri sendiri. Merasa tidak perlu terlibat dan bertanggung jawab dalam perkara di luar diri sendiri. Acuh terhadap situasi keluarga, tak peduli pada derita sesama. Padahal Tuhan, Sang Maestro kehidupan tidak menciptakan kita hanya untuk “satu nada” namun untuk memainkan simfoni hidup yang penuh makna: menghadirkan terang, harapan dan keselamatan bagi banyak orang.
Dalam Yesaya 49:1-7 kita mendengar suara hamba Tuhan yang dipanggil sejak dari kandungan, dipersiapkan secara khusus oleh Tuhan untuk misi besar. Di tengah panggilan itu ada pergumulan: usaha yang terasa sia-sia, jerih lelah yang seakan tidak menghasilkan apa-apa. Tetapi Tuhan tidak berhenti pada kegagalan itu. Ia justru menyatakan “terlalu sedikit bagimu hanya menjadi hamba untuk menegakkan suku-suku Yakub…”. Artinya, pemulihan Israel saja belum cukup. Tuhan memperluas panggilan itu – menjadi terang bagi bangsa-bangsa, membawa keselamtan sampai ujung bumi. Menjadi hamba Tuhan berarti bersedia dipakai untuk sesuatu yang melampaui kepentingan pribadi. Hidup bukan hanya tentang diselamatkan tapi juga menjadi alat keselamatan Allah.
Di dunia modern saat ini, hal yang lumrah jika orang fokus pada keselamatan diri sendiri. Lalu berdampak ketidakpedulian pada lingkungan sekitar. Sebagai orang beriman, Tuhan memanggil kita untuk lebih peka melampui kepekaan diri sendiri. Lebih peduli pada keluarga, sesama yang menderita, hadir memberikan pengharapan di tengah dunia yang murung. Mungkin kita merasa kecil, tidak punya banyak kemampuan, namun justru di situlah anugerah Tuhan dinyatakan. Tuhan memperlengkapi dan memampukan kita untuk menerangi kegelapan di sekitar kita. Mari berani melangkah lebih jauh, dimulai dari “satu nada” namun akan terus bertumbuh “tiga sampai tujuh nada” kebaikan dan akhirnya kehadiran kita menjadi berkat. Amin
DOA SYAFAAT
- Mendoakan mereka yang sakit dan keluarga yang merawat
- Peperangan bangsa-bangsa supaya terjadi perdamaian dan tidak jatuh korban manusia lagi
- Gereja yang memahami lingkungannya dan menjadi terang
NYANYIAN PENUTUP
KJ 424 – YESUS MENGINGINKAN DAKU
Syair: Jesus Wants Me for a Sunbeam, Nettie Talbot,
Terjemahan: Yamuger, 1982,
Lagu: Edwin Othello Excell (1851 – 1921)
Yesus menginginkan daku
bersinar bagiNya,
di mana pun ‘ku berada,
‘ku mengenangkanNya.
Refrein:
Bersinar, bersinar;
itulah kehendak Yesus;
bersinar, bersinar,
aku bersinar terus.
Yesus menginginkan daku
menolong orang lain,
manis dan sopan selalu,
ketika ‘ku bermain. Refrein:

Komentar Anda