Iman yang Hidup: Dari Hati yang Taat ke Hidup yang Berdampak
SAAT TEDUH
PUJIAN PEMBUKA
PKJ 264 – Apalah Arti Ibadahmu
Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan,
bila tiada rela sujud dan sungkur?
Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan,
bila tiada hati tulus dan syukur?
Reff:
Ibadah sejati, jadikanlah persembahan.
Ibadah sejati: kasihilah sesamamu!
Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan,
jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan.
Marilah ikut melayani orang berkeluh,
agar iman tetap kuat serta teguh.
Itulah tugas pelayanan, juga panggilan,
persembahan yang berkenan bagi Tuhan.
PEMBACAAN KITAB MAZMUR 112 : 1 – 9
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
DOA PEMBUKA DAN FIRMAN
PEMBACAAN ALKITAB
Yes. 29: 13-16, Mrk. 7: 1-8
RENUNGAN
“Iman yang Hidup: Dari Hati yang Taat ke Hidup yang Berdampak”
Dalam kehidupan beriman, tidak jarang kita tampak “baik-baik saja” di luar: rajin beribadah, tahu tata cara beribadah, fasih mengucapkan doa. Namun firman Tuhan hari ini mengajak kita masuk lebih dalam—menyelami hati. Sebab iman sejati bukan sekadar apa yang terlihat, melainkan bagaimana relasi kita dengan Allah membentuk hidup, sikap, dan tindakan kita setiap hari.
Takut akan Tuhan yang Menghidupkan (Mazmur 112:1–9)
Mazmur 112 melukiskan orang yang berbahagia karena takut akan Tuhan. Takut di sini bukan rasa gentar, melainkan sikap hormat, tunduk, dan percaya sepenuh hati. Orang yang hidup dalam takut akan Tuhan digambarkan: Teguh imannya, Murah hati dan peduli pada sesama dan hidupnya menjadi berkat
Iman yang sejati selalu berbuah. Hubungan yang benar dengan Allah akan nyata dalam kasih, keadilan, dan kemurahan.
Bahaya Iman yang Berhenti di Bibir (Yesaya 29:13–16)
Melalui nabi Yesaya, Tuhan menegur umat yang: “Mendekat dengan mulutnya, tetapi hatinya jauh.”
Ibadah dilakukan, tradisi dijalankan, tetapi hati tidak lagi terhubung dengan Allah. Relasi berubah menjadi rutinitas. Allah menegaskan: Ia bukan sekadar objek ritual, melainkan Pencipta yang mengenal hati manusia. Ketika manusia merasa bisa “mengatur” Tuhan lewat formalitas agama, di situlah iman kehilangan maknanya.
Tradisi Tanpa Ketaatan (Markus 7:1–8)
Yesus mengkritik orang Farisi yang begitu ketat menjaga tradisi, tetapi mengabaikan perintah Allah. Masalahnya bukan tradisi itu sendiri, melainkan ketika tradisi: Menggantikan firman Tuhan, Menjadi alat menghakimi orang lain dan Mengosongkan makna kasih dan ketaatan
Yesus menegaskan: Allah melihat hati, bukan sekadar tindakan lahiriah.
Renungan ini mengajak kita bercermin dengan jujur:
- Dalam ibadah:
Apakah aku sungguh berjumpa dengan Tuhan, atau hanya menjalankan kebiasaan rohani? - Dalam kehidupan sehari-hari:
Apakah imanku terlihat dalam sikap adil, murah hati, dan peduli seperti yang digambarkan Mazmur 112? - Dalam tradisi gereja:
Apakah tradisi menolongku makin taat dan mengasihi, atau justru membuatku merasa paling benar?
Iman yang sejati selalu bergerak dari hati yang diubahkan menuju hidup yang berdampak.
Tuhan tidak mencari ibadah yang sempurna secara lahiriah, tetapi hati yang sungguh mengasihi dan taat kepada-Nya. Kiranya firman ini menolong kita untuk: Tidak puas dengan iman yang tampak religius, Terus membarui hati di hadapan Allah dan Hidup sebagai orang yang takut akan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang
“Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN.”
Kiranya kebahagiaan itu nyata dalam hidup kita—bukan hanya di bibir, tetapi dalam hati dan perbuatan.
DOA SYAFAAT DAN PENUTUP
Keluarga yang rajin bersekutu dan berdoa.
NYANYIAN PENUTUP
PKJ 264 – Apalah Arti Ibadahmu
Berbahagia orang yang hidup beribadah,
yang melayani orang susah dan lemah
dan penuh kasih menolong orang yang terbeban;
itulah tanggung jawab orang beriman.
Reff:
Ibadah sejati, jadikanlah persembahan.
Ibadah sejati: kasihilah sesamamu!
Ibadah sejati yang berkenan bagi Tuhan,
jujur dan tulus ibadah murni bagi Tuhan.

Komentar Anda