Tinggal Dalam Hadirat Tuhan: Hidup Benar dan Kasih yang Nyata
SAAT TEDUH
PUJIAN PEMBUKA
NKB. 130 _ ‘Hidup yang Jujur
Hidup yang jujur hendak ‘ku serah
pada Yesusku yang aku sembah.
Persekutuan mesra dan kudus,
ingin ‘ku ikat dengan Penebus.
Reff
Ya Yesus, ‘Kau kurbankan darahMu bagiku;
‘ku b’ri masa depanku dan hidup bagiMu.
Hatiku ‘ku serahkan menjadi takhtaMu.
Kuminta, kuasailah… seluruh hidupku.
Bagiku Yesus memb’ri nyawaNya
menanggung dosaku di Golgota.
Terdorong kasih begitu mulia,
seluruh hidup ‘ku b’ri padaNya.
PEMBACAAN KITAB MAZMUR 15
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
DOA PEMBUKA DAN FIRMAN
PEMBACAAN ALKITAB
Mik. 3: 1- 4, Yoh. 13: 31-35
RENUNGAN
“Tinggal dalam Hadirat Tuhan: Hidup Benar dan Kasih yang Nyata”
Banyak orang ingin dekat dengan Tuhan, beribadah di rumah-Nya, dan menikmati hadirat-Nya. Namun firman Tuhan hari ini mengajukan pertanyaan yang mendasar dan menantang:
“Tuhan, siapakah yang boleh menumpang dalam kemah-Mu?”
Pertanyaan ini bukan soal tempat, melainkan soal cara hidup. Alkitab mengingatkan bahwa relasi dengan Tuhan tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab moral dan kasih kepada sesama. Hidup beriman selalu tampak dalam perilaku yang benar dan kasih yang nyata.
Hidup Benar sebagai Tanda Tinggal dalam Hadirat Tuhan (Mazmur 15)
Mazmur 15 menggambarkan kriteria orang yang berkenan tinggal dalam hadirat Tuhan: hidup tidak bercela, berkata benar, tidak memfitnah, tidak mencari keuntungan dengan cara yang curang.
Mazmur ini menegaskan bahwa ibadah sejati bukan hanya tentang ritual, melainkan tentang integritas hidup. Tinggal dekat dengan Tuhan berarti hidup dengan kejujuran, keadilan, dan kesetiaan dalam keseharian.
Teguran bagi Pemimpin yang Mengabaikan Keadilan (Mikha 3:1–4)
Nabi Mikha menegur para pemimpin yang seharusnya menegakkan keadilan, tetapi justru menindas umat. Mereka menikmati kekuasaan, namun menutup telinga terhadap penderitaan orang kecil.
Firman Tuhan mengingatkan bahwa relasi dengan Allah tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab sosial. Ketika keadilan diabaikan, doa pun menjadi hampa. Tuhan tidak berkenan pada ibadah yang tidak disertai kebenaran dan kepedulian.
Kasih sebagai Tanda Pengenal Murid Kristus (Yohanes 13:31–35)
Yesus memberikan perintah baru kepada murid-murid-Nya:
“Kasihilah seorang akan yang lain, sama seperti Aku telah mengasihi kamu.”
Kasih inilah yang menjadi tanda pengenal murid Kristus—bukan status, jabatan, atau kesalehan lahiriah. Kasih yang rela berkorban, mengampuni, dan melayani adalah bukti nyata bahwa seseorang hidup dalam hadirat Tuhan.
Frman Tuhan hari ini memanggil kita untuk menghidupi iman secara utuh.
Mazmur 15 mengingatkan bahwa tinggal dalam hadirat Tuhan menuntut hidup yang benar.
Mikha 3 menegaskan bahwa iman tanpa keadilan adalah kosong.
Yohanes 13 meneguhkan bahwa kasih adalah identitas sejati murid Kristus.
Kiranya hidup kita menjadi kesaksian yang hidup—hidup yang berintegritas, peduli pada sesama, dan memancarkan kasih Kristus dalam setiap langkah.
DOA SYAFAAT DAN PENUTUP
Keluarga yang saling terbuka dan percaya kepada Tuhan.
NYANYIAN PENUTUP
NKB. 130 _ ‘Hidup yang Jujur
Di mana-mana, setiap kerja
‘kan ‘ku lakukan demi namaNya.
Rela menanggung sengsara pedih,
‘ku ikut Yesus, ‘ku pikul salib.
Reff
Ya Yesus, ‘Kau kurbankan darahMu bagiku;
‘ku b’ri masa depanku dan hidup bagiMu.
Hatiku ‘ku serahkan menjadi takhtaMu.
Kuminta, kuasailah… seluruh hidupku.
Memuji Yesus dengan hidupku
mau berkenan pada Dia penuh,
ikut mencari yang hilang sesat,
bawa padaNya yang susah penat.

Komentar Anda