Tuhan yang Terlibat Dalam Seluruh Gerak Kehidupan
Saat teduh
Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya
Nyanyian Umat
KJ 299 “Bersyukur Kepada Tuhan”
– bisa dinyanyikan beberapa kali –
Bersyukur kepada Tuhan,
bersyukur kepada Tuhan
sebab Ia baik.
Bersyukur kepada Tuhan.
Bacaan I: Yesaya 48.12-21
Pesan yang penting dalam perikop ini
- Allah memperlihatkan siapa diri-Nya: yang terutama dan yang terkuat. Tidak ada yang sehebat Dia di antara jagad raya. Dari sini dimunculkan keyakinan tentang Dia sebagai satu-satunya pribadi yang bisa menyelamatkan manusia.
- Allah menantang berhala atau siapapun yang bisa melakukan yang Ia lakukan;dari bukti yang ada, tidak ada yang sanggup. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa rencana penyelamatan (terhadap manusia) sejak dulu berasal dari Allah; tidak pernah berasal dari sumber lain.
- Allah hadir dalam hidup manusia dan menyatakan diri-Nya. Ia tidak memisahkan diri dari manusia melainkan berperan dalam setiap bagian hidup. Ini membuat kita harusnya takjub pada-Nya. Ia Allah yang perkasa namun tidak menyombongkan diri-Nya dan mau peduli terhadap manusia yang rapuh. Kehadiran-Nya ditandai dengan berbagai cara: melalui utusan-Nya, yang membela manusia dan menyertai mereka dalam berbagai peristiwa.
- Atas dasar itulah Allah menawarkan pilihan kepada manusia. Manusia dapat menerima penyelamatan Allah – dengan jalan yang menuruti arahan dan petunjuk-Nya, tentunya – atau mengikuti keinginan dagingnya, yang berujung malapetaka dan kehancuran.
Doa Pembuka
Dipimpin seorang anggota keluarga
Mazmur 40.6-17
Bacalah bagian ini dengan beberapa cara
- Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
- Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
- Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan
Bacaan II: Matius 9.14-17
Pesan melalui perikop
Perikop ini memperlihatkan jawaban Yesus ketika ditanya mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa. Hal ini terjadi karena di tengah kebiasaan masyarakat pada waktu itu orang Farisi berpuasa 2 kali seminggu, dan juga diikuti oleh para murid Yohanes. Namun murid Yesus tidak melakukannya.
Terhadap hal itu Yesus menanggapinya seperti ini. Puasa dilihat sebagai sebuah sikap ritual yang menyertai situasi tertentu. Ketika Yesus sebagai guru mereka sedang bersama mereka, bukankah selayaknya mereka bergembira? Apakah kegembiraan itu cocok ditandai dengan puasa? Bukankah biasanya kalau kita sedang gembira, cocoknya dirayakan dengan pesta? Jawaban Yesus bukan hendak menunjukkan bahwa hidup harus diwarnai pesta pora, melainkan mengacu pada sebuah kiasan, yakni puasa bukan merupakan soal ritual, melainkan soal respons hati terhadap situasi rohani. Hadirnya Yesus melambangkan sukacita, bukan dukacita.
Selanjutnya Yesus mau memperkenalkan sistem pemahaman baru, yang menggantikan tradisi atau cara pikir lama yang dianut oleh masyarakat Yahudi. Yesus ingin memberitahukan mereka tentang cara hidup yang lebih dilandaskan pada makna, bukan sekadar tindakan yang tradisional – sesuai dengan kebiasaan – tanpa dikritisi dan diberi muatan yang membangun kehidupan. Bagi Yesus, yang lebih perlu dan penting adalah menjalankan sesuatu dengan dampak yang baik bagi kehidupan. Esensi lebih penting dibanding tradisi.
Dengan demikian, sesungguhnya ketika seseorang berpuasa, yang lebih utama bukanlah perbuatan puasanya – apalagi didasari alasan sudah dilakukan turun temurun, atau hanya mengikuti apa yang selama ini berlaku – melainkan dengan tujuan yang lebih baik.
Belajar dari apa yang diceritakan dalam tulisan ini, mari kita merefleksikannya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).
Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:
- Apakah kita suka memikirkan landasan atau dasar perbuatan kita? Atau melakukan sesuatu hanya karena sudah rutin atau biasa saja?
- Jika yang kita lakukan hanya berdasar pada kebiasaan, apakah kita mau mempertimbangkan melakukannya lagi (atau tidak) di masa depan?
Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:
- Bagaimana perasaan kita ketika berpuasa hanya sebagai sebuah kewajiban? Merasa aman karena tidak dipersalahkan oleh orang-orang yang membuat ‘aturan’ berpuasa?
Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:
- Tanggapan Yesus bisa menjadi teladan bagaimana menjalani hidup – bukan hanya puasa, tapi juga dalam hal-hal lainnya – apakah kita menganggap itu hanya sebagai konsep atau teori belaka? Ataukah kita juga menjadikannya dasar setiap tindakan kita?
- Pemaknaan sikap; sudahkah itu kita jadikan bagian hidup keseharian kita?
Doa Bersama
Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa:
- Berbagai pelayanan muncul dengan latar belakang berbeda. Ada yang karena sudah terbiasa dan dibiasakan melayani sejak usia muda, ada yang karena merasa berutang budi pada seseorang. Ada juga yang disebabkan karena rasa tidak enak melihat orang lain melayani sementara dirinya belum melayani. Juga banyak motif lain yang bermacam-macam. Mari kita melayani dengan semangat ingin memberi diri setelah merasakan kebaikan Tuhan.
Nyanyian Umat
KJ 38 ”T’lah Kutemukan Dasar Kuat”
T’lah kutemukan dasar kuat, tempat berpaut jangkarku.
Kekal, ya Bapa, Kau membuat Putra-Mu Dasar yang teguh:
biarpun dunia lenyap, pegangan hidupku tetap!
Tak Kaubiarkan ciptaan-Mu terkapar dalam dosanya:
telah Kauutus Putera-Mu menyelamatkan dunia
dan pintu hati Kauketuk, agar terbuka bagi-Mu.
Inilah dasar andalanku, biarpun apa kutempuh:
ya Tuhan, Rahmat-Mu berlaku sepanjang jalan hidupku!
Sampai kekal kupujilah samud’ra rahmat yang baka!

Komentar Anda