Pentingnya Bersosialisasi

Saat Teduh

 

Nyanyian Pembuka 

 

Di Dunia Yang Penuh Cemar

(NKB 204: 2, 3)

 

Hidupmu kitab terbuka

dibaca sesamamu;

apakah tiap pembacanya

melihat Yesus dalammu?

Refrein:

    Nyatakan Yesus dalammu

    Nyatakan Yesus dalammu;

    Sampaikan firman dengan hati teguh,

    Nyatakan Yesus dalammu.

Di sorga ‘kau kelak senang

berjumpa sahabatmu.

berkat hidupmu dalam t’rang.

Nyatakan Yesus dalammu.

(kembali ke refrein)

 

Pembacaan Mazmur 40: 6-17

(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)

Doa Pembuka dan Firman

(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)

Pembacaan Alkitab

Perjanjian Lama   : Keluaran 12: 1-13, 21-28

Perjanjian Baru    : Kisah Para Rasul 8: 26-40

Renungan 

    Sebuah pemandangan yang mungkin sudah tidak asing bagi kita ketika kita mengamati aktivitas di sebuah ruang tunggu. Misalnya di ruang tunggu rumah sakit, stasiun, terminal, dan bandara. Biasanya kita akan menjumpai orang-orang yang sibuk dengan handphone atau tablet atau laptop mereka sambil menyumpal telinganya dengan earbuds atau earphone. Orang merasa bahwa berada di sebuah ruangan dengan orang yang asing dan tak dikenal bukanlah hal yang nyaman dan menyenangkan. Karena itu, demi membuang rasa bosan dan jenuh, mereka mengalihkan perhatian mereka pada games, pesan, atau akun media sosial yang ada di handphone mereka.  Begitulah cara orang masa kini mengisi kesibukannya di lingkungan sosial yang asing baginya.

    Hal ini berbeda dengan yang dialami oleh orang-orang yang hidup di era tahun 1980-1990. Jaman dulu, kalau kita memasuki sebuah ruang tunggu, maka hal pertama yang kita alami adalah sebuah keramaian, sebab orang saling bercakap satu dengan yang lain. Hanya ada satu atau dua orang yang terlihat sibuk membaca buku yang dipegangnya. Pada masa itu, berada di ruang tunggu menjadi kesempatan untuk menambah teman atau kenalan. Tak jarang orang menegur, bertanya, dan memperkenalkan diri dengan orang baru yang ada di sebelahnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, bahkan ada yang pada akhirnya bisa ngobrol tentang banyak hal dengan orang yang baru dikenalnya di ruang tunggu itu. Bahkan dari yang awalnya tidak kenal, lalu menjadi kenal dan menjadi teman seperjalanan karena hendak menuju ke arah atau daerah yang sama. 

    Jauh sebelum era 1980-1990, Filipus pernah mengalami hal yang serupa, sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 8: 26-40. Dia diutus Tuhan untuk menjumpai seorang Etiopia, seorang sida-sida istana, pembesar, dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang sedang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Filipus tentu belum pernah bertemu dengan orang ini sebelumnnya. Apalagi mengenalnya. Jelas tidak. Sida-sida Etiopia ini benar-benar merupakan orang baru bagi Filipus. Namun, ketika Allah mengutusnya untuk bercakap dengan orang itu, Filipus pun melakukan seperti yang diperintahkan Allah. Ia menyapa orang itu dan memulai percakapan dengannya. Diawali dengan sebuah pertanyaan, “Mengertikah Tuan apa yang Tuan baca itu?” Sebuah pertanyaan yang memancing orang yang ditanyai untuk memberikan jawab berdasarkan pemahamannya. Dari pertanyaan inilah kemudian berlangsung obrolan yang membuat mereka saling mengenal, sehingga ada rasa percaya dalam diri sida-sida Etiopia itu terhadap Filipus. Obrolan mereka itulah yang pada akhirnya menghantar sida-sida Etiopia itu menerima Kristus dan dibaptis.

    Diawali dari sebuah percakapan yang terjadi antara dua orang yang tidak saling kenal, lahirnya sebuah pengenalan akan satu dengan yang lain, sehingga membuat tumbuhnya rasa percaya satu terhadap yang lain. Begitulah hidup bersosialisasi di tengah masyarakat. Kita akan dapat menjadi Filipus pada masa sekarang, jika kita bersedia untuk bersosialisasi dengan orang-orang baru yang ada di sekitar kita. Baik ketika ada di stasiun, bandara, terminal, atau bahkan ruang tunggu rumah sakit. Di sanalah kita bisa mewartakan cinta kasih Allah kepada dunia melalui obrolan-obrolan ringan yang kita bangun dengan orang-orang yang sebelumnya mungkin tidak kita kenal. Oleh karena itu, di tengah keramaian, jangan hanya sibuk dengan handphone dan gadgetmu. Hadirlah sebagai manusia seutuhnya yang ada di tempat itu agar kamu dapat membangun kehidupan sosial dengan orang-orang baru yang Tuhan hadirkan dalam hidupmu. Tuhan memberkati. Amin.

Doa Syafaat dan Penutup

Berdoalah agar pemerintah memberi perhatian pada kesejahteraan guru dan pengajar di daerah terdepan, terluar dan tertinggal.

 

Nyanyian Penutup

 

Di Dunia Yang Penuh Cemar

(NKB 204: 1, 4)

 

Di dunia yang penuh cemar,

antara sesamamu

Hiduplah saleh dan benar.

Nyatakan Yesus dalammu.

Refrein:

    Nyatakan Yesus dalammu

    Nyatakan Yesus dalammu;

    Sampaikan firman dengan hati teguh,

    Nyatakan Yesus dalammu.

Hiduplah kini bagi-Nya,

berjiwa tetap teguh;

bimbinglah orang tercela

melihat Yesus dalammu.

(kembali ke refrein)

Komentar Anda

Your Email address will not be published.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga