Kekuatan Firman Mengalahkan Segalanya
Saat teduh
Umat berdiam diri sekitar 30 detik, merenungkan segala bentuk kebaikan Tuhan yang sudah diterimanya
Nyanyian Umat
KJ 54 “Tak Kita Menyerahkan”
Tak kita menyerahkan kepada musuhnya
pelita yang bersinar di dalam dunia.
Tak boleh Firman Allah yang sungguh dan teguh,
Alkitab yang mulia, diambil seteru.
Penyokong orang tua dan orang lemah,
pemimpin orang muda dan sukacitanya,
senjata perjuangan di p’rang penggodaan
dan bantai perhentian di jam kematian.
Yang dapat memecahkan segala hati k’ras,
yang mencurahkan hidup di hati yang lemas,
yang menyembuhkan luka, mujarab obatnya,
yaitu Firman Allah, penuh anugerah.
Di hati kami, Tuhan, Kautulis Sabda-Mu,
supaya kami juga setia dan teguh.
Kendati gunung goyah, binasa dunia,
kekallah Firman Allah selama-lamanya.
Bacaan I: Yesaya 51.1-16
Pesan yang penting dalam perikop ini
Panggilan untuk menyadari asal usul kita, sebagaimana disebut dalam awal perikop, yakni Abraham dan Sara. Hal ini penting, sebab mengingatkan kita pada penyertaan Tuhan di masa lalu, yang sudah berlangsung lama. Dari situ umat diajak mempercayai kebenaran Tuhan yang secara konsisten sebab dampaknya baik bagi kehidupan. Firman itu tidak kalah oleh apapun juga di dunia ini, dan karenanya maka ketika manusia percaya kepada kebenaran Firman artinya dia tidak takut pada apapun yang terjadi di dunia ini, sebab kekuatan firman dapat menyangga hidupnya. Dia tidak takut jadi miskin kala hidup dalam kejujuran, tidak takut pada ancaman orang lain kala hidup dalam kesetiaan, dan tidak takut kehilangan kebahagiaan jika mengikut jalan Tuhan.
Doa Pembuka
Dipimpin seorang anggota keluarga
Mazmur 89.5-37
Bacalah bagian ini dengan beberapa cara
- Seorang membacanya, sementara anggota keluarga lain mendengarkan
- Seorang membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara yang lain membaca bagian yang mengarah ke kanan
- Kaum laki-laki membaca bagian yang mengarah ke kiri, sementara kaum perempuan membaca yang mengarah ke kanan
Bacaan II: Matius 12.15-21
Pesan melalui perikop
Bagian ini muncul setelah konflik dengan orang Farisi mengenai penyembuhan pada hari Sabat. Bagi mereka, apa yang diajarkan Yesus dinilai menghasut orang banyak dan bisa menimbulkan bahaya bagi orang Farisi dan keberadaan mereka di hadapan orang banyak. Pengaruh mereka bisa perlahan hilang dan akhirnya mereka tidak bisa mendapat keuntungan yang selama ini mereka dapatkan ketika menguasai mereka.
Oleh karena itu para pemimpin agama mulai merencanakan pembunuhan Yesus. Bagi mereka, Yesus dianggap sebagai ancaman besar yang dapat mengganggu mereka meraup keuntungan (termasuk finansial) dari masyarakat.
Menyadari hal itu, Yesus menarik diri, tetapi tetap menjalankan keseharian-Nya melayani dan menyembuhkan banyak orang. Hanya saja Yesus menghindari konflik dengan pemuka agama tersebut dan tidak merasa perlu menanggapi mereka secara langsung. Ia juga meminta mereka tidak mempublikasikan diri-Nya—bukan karena malu, tetapi karena misi Mesias-Nya bukan demi sensasionalisme atau kekerasan.
Belajar dari apa yang diceritakan dalam tulisan ini, mari kita merefleksikannya melalui 3 sisi hidup kita, yakni sisi nalar (kognitif), sisi rasa (afektif), serta sikap atau tindakan (motoris).
Secara nalar, kita diajak mengkritisi hal-hal berikut:
- Yesus tidak menanggapi sikap bermusuhan yang ditampilkan orang yang membenci-Nya. Apakah kita dapat meniru sikap Yesus yang seperti ini? Bisakah kita tenang dan mengambil sikap diam terhadap orang yang memprovokasi kita atau memusuhi kita?
- Apa yang kita andalkan dalam menghadapi kesulitan hidup? Kala mendapat ancaman, apa yang kita pikirkan?
Selain itu, kita juga diajak mengembangkan perasaan berikut:
- Apakah seperti Kristus, kita, merasakan ketenangan ketika diancam orang lain? Atau kita jadi takut dan panik?
- Jika kita menjadi panik, apakah kita mendekat kepada Tuhan?
Kedua sisi itu tentu akan memengaruhi tindakan kita, yang diharapkan bisa dilakoni secara etis. Setidaknya, kita bisa mengukur apakah hidup kita sudah dijalani seperti ini:
- Sebagaimana Yesus bersikap terhadap orang Farisi dan orang banyak, akankah kita juga tetap dikendalikan oleh Firman Tuhan sehingga tenang menyikapi tekanan dan ancaman orang lain yang menyebabkan ketidaknyamanan dalam hidup kita?
- Bisakah kita tetap berpegang pada kebenaran firman Tuhan sehingga dapat bertindak benar dalam menghadapi orang-orang yang menyebalkan (bagi kita)?
Doa Bersama
Dipimpin seorang anggota keluarga, dengan pokok doa:
- Keselarasan para pelayan menyesuaikan diri dengan rekan pelayan lainnya sehingga dapat saling mengerti dan membuat pelayanan lebih optimal
Nyanyian Umat
NKB 115 ”Firman-Mu, Tuhan, Adalah Kebun”
Firman-Mu, Tuhan, adalah kebun penuh kembang,
yang datang, ingin memetik, bersuka dan senang.
Firman-Mu tambang yang penuh permata mulia;
‘tak ‘kan kecewa siapapun yang mau menggalinya.
Firman-Mu, Tuhan, adalah bintangan yang cerlang,
musafir tiada ‘kan sesat, jalannya pun terang.
Ya Tuhan, buat Firman-Mu menjadi tambangku,
menjadi taman yang permai dan bintang panduku.

Komentar Anda