Betel Sebagai Titik Perubahan
Saat Teduh
Nyanyian Pembuka
‘Ku Diubah-Nya
(PKJ 200)
‘Ku diubah-Nya saat ‘ku berserah
berserah kepada Yesus.
‘Ku diubah-Nya hingga jadi baru
dan menjadi milik-Nya.
Kegemaran lama t’lah lenyap
dan yang baru lebih berkenan.
‘Ku diubah-Nya saat ‘ku berserah
dan menjadi milik-Nya!
Pembacaan Mazmur 89: 5-37
(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)
Doa Pembuka dan Firman
(dipimpin oleh salah satu anggota keluarga)
Pembacaan Alkitab
Perjanjian Lama : Kejadian 35: 1-15
Perjanjian Baru : Kisah Para Rasul 10: 44-48
Renungan
Betel merupakan satu tempat yang penting bagi perjalanan hidup seorang Yakub. Di tempat inilah, Allah menampakkan diri kepadanya dan mengubah jalan hidupnya. Di Betel inilah, Allah mengikat perjanjian-Nya dengan Yakub tentang masa depannya. Hal ini ditandai dengan perubahan nama yang Allah berikan kepadanya. Nama Yakub (dalam bahasa Ibrani: Ya’akov) yang diberikan oleh ayahnya, berarti “pemegang tumit” atau “pengganti” atau dalam bahasa yang negatif disebut “penipu”. Nama ini diberikan karena ketika ia lahir posisinya memegang tumit saudara kembarnya, Esau. Namun, di Betel itulah, Allah mengubah nama Yakub menjadi Israel, yang artinya: “yang berjuang dengan Allah” atau “orang yang memerintah dengan Allah” atau “biarlah Allah berjaya”.
Sebagaimana dicatat dalam Kejadian 35: 1-15, perubahan nama ini menjadi perjalanan perubahan kehidupan Yakub. Kehidupan yang sebelumnya kelam dan dihantui dengan perasaan bersalah karena perbuatan masa lalunya, telah dipulihkan Allah. Perdamaiannya dengan Esau menjadi titik balik yang membuat hidup Yakub menjadi semakin baik. Pemulihan itu membuat Yakub siap dipakai Allah untuk menjadi alat bagi terwujudnya rencana Allah dalam kehidupan umat manusia. Perjanjian Allah yang sebelumnya pernah diikat dengan Abraham, kembali diulangi kepada Yakub. Apa yang tercatat dalam Kejadian 35:11-12 mengingatkan kita akan apa yang pernah Allah katakan kepada Abraham. Kini, perjanjian itu Ia nyatakan kepada Yakub. Di sini kita belajar bahwa Allah dengan segala rencana-Nya, tetap melibatkan manusia untuk berkarya bersama-Nya. Jauh setelah Abraham, kini Allah melibatkan Yakub dan keturunannya. Perjanjian ini diikat-Nya, ketika Yakub telah siap untuk dipakai-Nya. Pedamaian dengan Esau menjadi langkah awal kesiapan Yakub untuk menerima tanggung jawab yang besar tersebut. Demikian jugalah dalam kehidupan kita sebagai umat Tuhan di masa sekarang ini. Tuhan menunjuk kita untuk terlibat dalam karya pelayanan bersama-Nya, karena Tuhan melihat bahwa kita telah siap untuk dipakai-Nya.
Persoalannya, terkadang kita sendiri yang masih merasa belum siap untuk dipakai-Nya. Sekalipun jika di tengok ke belakang, sejatinya Tuhan telah mengatur segala kesiapan kita itu dengan cara-Nya. Namun kita tetap merasa tidak siap. Inilah yang terkadang menjadi penghambat perubahan itu terjadi dalam kehidupan kita. Perasaan tidak siap untuk dilibatkan dalam rencana Tuhan membuat kita menghindar dari jalan yang sebenarnya telah Tuhan sediakan buat kita. Dalam kehidupan ini, tidak sedikit anak Tuhan yang tidak dapat mengalami perubahan hidup, karena terkendala oleh hal seperti itu. Merasa tidak siap untuk diajak berjalan dalam rencana Tuhan di tengah kehidupan ini, sehingga tiap kali datang panggilan dan undangan Tuhan untuk berjalan dalam rancangan dan rencana-Nya selalu direspon dengan sikap yang menghindar. Jika hal ini terjadi pada kita, maka layaklah kita merenungkan perjalanan kehidupan Yakub sebagai cermin bagi kita.
Yakub bukan seorang yang siap secara manusiawi, masa lalunya diwarnai dengan kepahitan akibat kesalahannya, namun ketika Tuhan menjumpainya, mengubah namanya, dan mengikat perjanjian dengannya, Yakub memilih untuk merespon itu dengan rasa syukur dan sikap yang terbuka untuk dibentuk Tuhan sesuai rencana dan rancangan-Nya. Setiap kita punya ‘Betel’ kita masing-masing. Waktu di mana kita merasa Tuhan menjumpai kita dan mengundang kita untuk berjalan dalam rencana dan rancangan-Nya. Kiranya ketika kita ada di ‘Betel’ kita itu, kita dapat menyambutnya dengan rasa syukur dan sikap terbuka seperti yang diteladankan Yakub dalam kehidupan kita. Sebab, dari Betel itulah Tuhan akan mulai melakukan perubahan yang nyata dalam kehidupan kita. Tuhan memberkati. Amin.
Doa Syafaat dan Penutup
Berdoalah agar pemerintah mampu memprogramkan kegiatan-kegiatan yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Nyanyian Penutup
Perubahan Besar
(PKJ 239: 1-2)
Perubahan besar di kehidupanku,
Sejak Yesus di hatiku;
Di jiwaku bersinar terang yang cerlang
Sejak Yesus di hatiku.
Refrein:
Sejak Yesus di hatiku,
Sejak Yesus di hatiku,
Jiwaku bergemar bagai ombak besar
Sejak Yesus di hatiku.
Aku tobat, kembali ke jalan benar
Sejak Yesus di hatiku;
dan dosaku dihapus, jiwaku segar
Sejak Yesus di hatiku.
(kembali ke refrein)

Komentar Anda