Hati yang Bertobat, Iman yang Rendah Hati, Hidup yang Memulihkan

SAAT TEDUH

 

PUJIAN PEMBUKA

PKJ 239 – Perubahan Besar

 

Perubahan besar di kehidupanku
sejak Yesus di hatiku;
di jiwaku bersinar terang yang cerlang
sejak Yesus di hatiku.

 

Reff:
Sejak Yesus di hatiku,
sejak Yesus di hatiku,
jiwaku bergemar
bagai ombak besar
sejak Yesus di hatiku.

 

Aku tobat, kembali ke jalan benar
sejak Yesus di hatiku;
dan dosaku dihapus, jiwaku segar
sejak Yesus di hatiku.

 

PEMBACAAN KITAB MAZMUR 51

(dibaca secara berbalasan dengan anggota keluarga)

 

DOA PEMBUKA DAN FIRMAN

 

PEMBACAAN ALKITAB 
Yes. 58: 1-12, Mat. 18: 1-7

 

RENUNGAN

“Hati yang Bertobat, Iman yang Rendah Hati, Hidup yang Memulihkan”

 

Tema ini menegaskan bahwa pertobatan sejati berawal dari hati yang hancur di hadapan Allah, dinyatakan dalam kerendahan hati seperti anak kecil, dan diwujudkan melalui tindakan kasih yang memulihkan sesama.

 

Sering kali iman dipahami sebatas pengakuan dosa dan aktivitas rohani. Namun firman Tuhan hari ini membawa kita lebih jauh: Allah menghendaki hati yang sungguh bertobat, iman yang rendah hati, dan hidup yang berdampak nyata. Pertobatan sejati bukan hanya mengubah kata-kata doa, tetapi mengubah arah hidup.

 

Allah Mencari Hati yang Hancur dan Rendah (Mazmur 51)

Mazmur 51 adalah doa pertobatan yang lahir dari kesadaran mendalam akan dosa. Pemazmur tidak membela diri, tidak menyembunyikan kesalahan, melainkan datang dengan hati yang remuk.

“Hati yang remuk dan patah tidak akan Kaupandang hina.”

Allah tidak berkenan pada ritual kosong, tetapi pada hati yang terbuka untuk dibaharui. Pertobatan sejati selalu dimulai dari kejujuran di hadapan Allah.

 

Ibadah yang Berkenan: Membuka Belenggu dan Memulihkan Sesama (Yesaya 58:1–12)

Melalui Yesaya, Tuhan menegur umat yang rajin berpuasa tetapi tetap menindas dan mengabaikan sesama. Tuhan menyatakan bahwa ibadah yang dikehendaki-Nya adalah: Melepaskan belenggu ketidakadilan, Membagi roti kepada yang lapar dan Memperhatikan yang lemah dan tersingkir

Ibadah sejati tidak berhenti di mezbah, tetapi bergerak ke kehidupan sosial. Di sanalah terang Allah dinyatakan.

 

Kerendahan Hati: Jalan Masuk ke Kerajaan Allah (Matius 18:1–7)

Yesus menempatkan seorang anak kecil di tengah murid-murid-Nya. Anak kecil melambangkan ketergantungan, ketulusan, dan kerendahan hati. Yesus menegaskan bahwa keagungan dalam Kerajaan Allah bukan soal posisi, melainkan kerendahan hati dan kesediaan untuk tidak menjadi batu sandungan bagi sesama.

 

Firman Tuhan mengajak kita bertanya dengan jujur:

  • Apakah aku sungguh datang kepada Allah dengan hati yang hancur dan mau dibaharui?
  • Apakah ibadahku menghasilkan kepedulian dan keadilan bagi sesama?
  • Apakah sikap hidupku mencerminkan kerendahan hati, bukan keinginan untuk menjadi yang terbesar?

Pertobatan sejati akan melahirkan iman yang rendah hati dan tindakan kasih yang memulihkan.

 

Allah memanggil kita bukan hanya untuk mengaku dosa, tetapi untuk hidup baru. Hati yang bertobat akan dibentuk menjadi hati yang peduli. Iman yang rendah hati akan menghadirkan terang bagi dunia. Kiranya hidup kita menjadi kesaksian bahwa pertobatan sejati selalu membawa pemulihan—bagi diri sendiri, sesama, dan ciptaan Allah.

 

DOA SYAFAAT DAN PENUTUP
Keluarga yang saling mendukung dalam suka dan duka.

 

NYANYIAN PENUTUP

PKJ 239 – Perubahan Besar

 

Aku rindu pergi ke tempat Tuhanku,
sejak Yesus di hatiku;
aku riang gembira berjalan terus
sejak Yesus di hatiku.

 

Reff:
Sejak Yesus di hatiku,
sejak Yesus di hatiku,
jiwaku bergemar
bagai ombak besar
sejak Yesus di hatiku.

Arsip Tata Ibadah Harian Keluarga