Damailah Negeriku

PelantikanKita dapat menyaksikan pelantikan presiden. Ini bukan peristiwa biasa yang terjadi setiap hari. Lebih istimewa lagi karena bisa jadi melaluinya kita akan melihat lembaran baru dalam sejarah bangsa ini. Rencananya ada kirab dan pawai. Bak menyambut pahlawan yang menang perang , masyarakat diajak bergembira menikmati acara ini. Bukan hanya melihat, namun ikut merasakan keterlibatan dengan presiden baru beserta jajaran kabinetnya. Bukan hanya berada dekat presiden, tapi juga makan bersama!

Filosofi kerakyatan yang diusung presiden baru kita, Jokowi, ternyata juga mendapat perhatian dunia. Ide melibatkan rakyat dalam melaksanakan pemerintahannya disambut baik oleh pemimpin-pemimpin dunia. Jokowi tidak mau hanya bekerja sendiri, sebab negeri ini bukan miliknya sendiri, melainkan milik seluruh rakyat Indonesia. Segala sesuatu ditanggung bersama. Senang bersama, susah juga bersama. Sejalan dengan pepatah, "Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing." Jokowi memang tipikal pemimpin yang mau menyatu dengan rakyat dan menghargai rakyat. Dia menyadari hakekat dirinya sebagai rakyat dan mengingat hak rakyat lainnya sebagai manusia yang sama dengannya. Sama-sama ingin melihat Indonesia maju. Sukses. Merambah dunia dan meraih kejayaan. Masyarakatnya makin makmur, sesuai cita-cita bangsa.

Ribut… ya tambah ribut…

RibutSebuah buku seri “Selamat” dari penulis Pdt. Andar Ismail berjudul: “Selamat Ribut Rukun”, berisi cerita perenungan seputar keluarga yang sekalipun mungkin sering ribut; dari masalah yang sepele/ remeh sampai kepada masalah yang besar, atau yang dibesar-besarkan. Ribut rukun adalah suatu keniscayaan karena adanya perbedaan dalam hidup berkeluarga; setelah ribut seperti apapun juga, maka akan rukun kembali. Tentu hal ini perlu catatan: kalau semuanya itu dilandasi oleh kasih. Kasih akan : “…. menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (I Korintus 13 : 7). Kasih mengarahkan kita menuju kepada kebaikan. Kasih menjadikan kita mampu untuk mengampuni, dan bukan menghakimi. Kasih mampu memberi kata “maaf”, sebesar apapun juga kesalahan orang yang meminta maaf itu (Band. Matius 19 : 8. Ketika orang Farisi bertanya kepada Tuhan Yesus : “Mengapa Musa memperbolehkan memberi surat cerai?”, maka kata Tuhan Yesus: “Karena kedegilan hatimu….” Kedegilan hati itu hati yang tegar, hati yang keras, hati yang tidak bisa berubah. Hati yang tanpa kasih).

Saling Mengasihi Sebagai Roh Yang Menghidupkan Keluarga

BulanKeluargaMother Theresa dari Kalkuta-India menulis bahwa: "Yang jauh lebih buruk dari kemiskinan adalah kehampaan dalam hidup, kosong dan menyadari bahwa tak seorangpun mengasihi diri kita" (dari Kumpulan Pelampung Hati). Inilah krisis terbesar dalam hidup orang dimasa kini, yakni kebutuhan akan cinta kasih.

Fenomena yang umum terjadi dalam kehidupan keluarga akhir-akhir ini adalah "suasana rumah yang kering". Suasana itu ditandai dengan perjumpaan suami-istri dan anak-anak terjadi seperti di sebuah "terminal". Rumah cenderung menjadi tempat singgah sebentar, makan, parkir kendaraan, bertegur sapa hanya seperlunya.

Pdt.AgusWijaya

Pdt. Agus Wijaya

PdtYosi1

Pdt. Yosias Nugroho W.

PdtMarfan1

Pdt. Marfan F. Nikijuluw

Hubungi Kami

Gereja Kristen Indonesia Serpong
Giri Loka 2, Jl. Gunung Merbabu Blok R
BSD City, Tangerang Selatan, Banten
INDONESIA

Phone: 021-5370366, 021-70604891
Fax: 021-5372125, Email: kantor@gkiserpong.org
Naskah artikel ke webgkis@gmail.com

Kantor Gereja

Jam Kerja Kantor:
Hari Minggu: Pkl. 07:00-12:00 & 16:30-19:00 wib
Hari Selasa s/d Sabtu: Pkl. 08:00-16:00 wib

Kunjungan

Flag Counter